Puisi-Puisi Halim Bahriz
Kangen
tunas-tunas pakis bernyanyi
untuk purnama yang memucat
dan berkaca-kaca, resah wajah
berserah diayunkan kehendak
seimbau angin di muka air
matanya lamunan telaga
dingin, desir usai derai gerimis
merebahi punggung telanjang
: rambut panjangnya terangkat
lengan dan lehernya mencipta
siluet, pendar-pendar garis
tipis–keperakan–pula
sebuah pose yang lelah
begadang memandangi keramba
ikan-ikan dengan sisik bercahaya
–kemuning, tosca, merah pinang–
yang sesungguhnya tak pernah ada
terminal bungur, 2019
Mengapa Waktu
tetapi waktu: kadang semirip benang
dan kuncup api berjalan dari ujung ke ujung
kadang serupa kafan, lalu padanya kita sulam
sebuah peta—garis yang tak pernah
berbalik ke arah yang telah
ditinggalkan
tetapi waktu: kadang belaka tubuh
balok es melarikan diri dari dalam kulkas
lalu menggonggong di bawah lampu-lampu
yang dipadamkan, “beri kami matahari
yang tak membakar!”
kadang sebuah tidur, seorang mimpi
yang memerangkap kita dalam kebebasan
lalu apakah aku apakah kebebasan?
barangkali sebuah nyala, gairah, cinta
yang dengan bahagia senantiasa bertanya
mengapa: segala cara untuk berakhir
tidak mengubah akan ke arah mana
kita akan menjadi selamanya
lalu apakah diam apakah mengingat?
anggap saja seorang lupa, yang terjaga
tiba-tiba—lantas begadang dalam bahasa
seumpama insomnia ingatan sang alarm
yang tertegun mencari-cari leluhur
“apakah waktu! mengapa waktu!”
banda aceh, 2018
Sang Arsitek Hujan
:buat afrizalian
hujan menanam mimpi dalam biji-biji
yang tertidur, matahari membangunkannya
seumpama asal-usul memanggil-manggil
____utopia!
angin menghiburnya, mengantar bau laut
membacakan igauan galaksi yang mungkin
(samar-samar) masih dikenalinya
biji-biji pun menjelma pohon dan pohon-pohon
mendirikan belantara; malam lalu menanam
____pidato!
dalam butir-butir telur, kuncup-kuncup montong
di rahim-rahim hira—cacing tanah dan sayap lebah
mengaji, rekah teratai bernyayi di bawah purnama
yang memucat dan gemetar menggapai-gapai
seimbau ayunan angin pada wajah telaga
dingin seusai gerimis pun berbaring
di dasar paru-parumu …
dan langit pagi mengirim siul merpati
orkestra serangga, kembung cacing tanah
pula sebuah nyala, sabda dalam pecah
tangisan bayi:
“sebermula adalah cahaya
lalu kata lalu lupa”
sembalun, 2018
Sorry, the comment form is closed at this time.


Mix-Movie.com
Masih meneruskan format acara yang telah bergulir, maka kali ini karya Halim Bahriz (yang pada edisi terakhir 2017 menjadi pembahas) akan diulas oleh M. Aan Mansyur dan Damay Rahmawati .