Fb. In. Tw.

Bakat Menggonggong Cerpenis D

Mari kita kesampingkan dulu kalau cerpenis D berkulit putih, mancung, sedikit sipit, dan dapat dikatakan tampan. Apalagi memikirkan ia sarjana filsafat, editor, wartawan, dan dapat dikatakan cerdas. Jika kalian memaksa untuk memikirkannya, dan sebagaimana saya berpikir, kalian pun sepakat bahwa komposisi antara tampan dan cerdas itu berbahaya, saya tidak mau bertanggungjawab atas pikiran tersebut. Sungguh, saya sendiri belum paham kenapa hal sejarang ini bisa terjadi. Tetapi bolehlah kemudian kalian yang laki-laki mengingat sedikit hiburan, bahwa cerpenis D telah memiliki pacar. Saya ikut perihatin jika kaum hawa juga sama mengingatnya.

Kesampingkan pula kenyataan bahwa Bakat Menggonggong buku yang terbit tahun 2016 itu adalah buku kedua cerpenis D. Sebab meski masih bernama D, buku pertamanya berjudul Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya yang terbit tahun 2015 ditulis dengan nama Penyair D. Jadi dapat dikatakan cerpenis D baru membuat satu buku cerpen. Sebab jika sekali lagi tabiat manusia kalian muncul dan memadukannya, akan ditemui perdebatan tak berkesudahan tentang apa bedanya puisi dan cerpen dan sebagainya, dan sebagainya. Tetapi bolehlah, mari kita lihat, gagasan semacam apa yang disukai penyair-cerpenis D ini.

Jujur, saya belum pernah bertemu langsung dengan cerpenis D, (Jika kalian pernah, mohon sejenak menyimak). Tetapi pernah mendengar kalau dia penulis Jogja asal Bangka yang cerdas dan pandai menulis puisi. Hingga akhirnya saya bertemu beberapa cerpennya di koran Tempo dan melihat, betapa berani dan cerdiknya cerpenis D membuat fiksi seolah benar-benar telah dan bisa terjadi, atau kadang saya berpikir, pandai sekali ia memfiksikan sebuah fakta. Pernah pula saya menyapanya sok kenal lewat Twitter, mengajak launching buku puisinya dengan iming-iming akan dikelilingkan ke berbagai sekolah SMA di Bandung, namun ide iseng itu tak pernah terjadi dan baiknya dilupakan saja. (Terimakasih sudah menyimak)

Hingga akhirnya kini saya membaca buku kumpulan cerpennya untuk sebuah diskusi, di Bandung (8/01/2017), sore hari, di sebuah toko buku baru bernama Toco, dekat kampus teknik dan kebun binatang. Saya pribadi senang bisa menjadi seorang pemantik diskusi launching buku cerpen tersebut. Saya tentu siap membaca dan menyikapi gagasannya dengan teliti dan bergembira. Tetapi soal maksud dan tujuan dari pembacaan karya cerpenis D ini, saya mengajak, untuk merapatkan barisan pada dua pertanyaan: pertama bagaimana cara cerpenis D membuat cerita, dan kedua apa yang diceritakannya.

Tidak ada cerpen berjudul Bakat Menggonggong di dalam buku kumpulan cerpen Bakat Menggonggong. Hanya ada satu judul memuat kata menggonggong yakni cerpen Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu di halaman 29, cerpen ke 5 buku tersebut. Sebelumnya saya membaca Kemurkaan E, Kisah Afonso, Kisah dan Pedoman, Kisah Sedih Kontemporer (IV), secara berurutan. Saya terbiasa membaca buku dengan tidak meloncat-loncat, tetapi benar-benar mengurut dari awal seperti kebiasaan saya menonton film.

Di sampul buku bergambar sepasang cumi-cumi berpose 69 itu saya menemukan kalimat Bakat Menggonggong. Lantas saya bertanya-tanya, siapa yang berbakat, dan apakah menggonggong itu seperti gonggongan anjing?

Pemandu yang Licik
Cerpen Kemurkaan Pemuda E diawali dengan penceritaan seorang pemuda berinisial E membuka tutup toples berisi acar dengan tangannya sendiri, meraup isinya dengan tangannya, penuh rasa syukur menaburkannya ke atas roti panggang. Lalu tiba-tiba cerpenis D menarik pembaca untuk terlibat di dalam cerita sebagai orang yang paling tahu, bahwa kondisi pemuda E yang terlihat biasa saja di pagi hari itu sebenarnya memiliki kegelisahan yang melimpah.

Cerpenis D menggunakan kata kita untuk membawa pembaca terlibat. Itu hal klise yang paling efektif dan jujur saja, saya kagum sebab upaya semacam ini meski sekedar permainan estetika, mengingatkan saya bahwa pembaca penting secara langsung dilibatkan dalam cerita. Jika cerita memiliki konten makna dan penyadaran yang ambisius dari penulisnya, keterlibatan pembaca di dalam cerita adalah cara paling efektif membangkitkan pemaknaan dan penyadaran di dalam diri pembaca.

Meski dengan jujur juga saya katakan, cerpenis D hanya sedang bermain estetika. Ia tidak hendak menciptakan cerita dengan gaya Teater Rakyat Tertindas Augusto Boal dimana cerita diberi ending oleh pembaca. Saya melihat, cerita, pengetahuan, tetap lahir dari narator dan pembaca akhirnya terlibat untuk selanjutnya menjadi asing. Tetapi karena tidak tahu apa-apa tentang cerita, maka pengetahuan dari narator menjadi jalan asik untuk tahu dan larut dalam ceritanya. Sampai di situ, saya nilai cerpenis D licik dan mengagumkan. Bukankah perlu ketelitian dan kelihaian berbahasa untuk membuat pembaca terkecoh, kecewa, tapi akhirnya mengaguminya?

Apakah gaya berbahasa semacam itu yang dimaksud menggonggong? Sebuah gaya bercerita seperti seorang pemandu yang licik, leluasa membawa dan menipu pembaca terlibat di dalam cerita. Ah, tiba-tiba pertanyaan lain muncul setelah membaca cerpen tersebut. Kenapa tokoh mesti diberi inisial pemuda E? Ada apa dengan penanda identitas real bagi karya fiksi cerpenis D?

Identitas Real
Cerpen Kisah Afonso cerpen kedua di dalam buku tersebut menjawab pertanyaan itu dengan posisi yang berlainan. Cerpen dengan identitas sosial yang jelas dan rinci itu memang dimulai dengan satu paragraf aneh dan magis. Di mana ada Afonso Garcia de Solis yang adalah seekor buaya, adalah seorang manusia, adalah penjelajah asal Eropa. Dan menurut seorang antropolog, adalah seekor ikan Baung yang karena kesialan murni berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri. Tetapi coba simak uraian saya di bawah ini.

Saya mulai curiga menggonggong itu bermakna kepandaian bercerita. Sebab jika tidak jeli maka kata adalah yang diulang-ulang setelah tanda koma itu mungkin dapat diedit dengan cukup menulis satu kata adalah di awal dan yang lainnya diwakili tanda koma. Tetapi cerpenis D sepertinya punya maksud khusus terkait ketidakefektifan kalimat yang dibuatnya. Ia ingin mengecoh pembaca untuk membayangkan bahwa Afonso itu buaya, manusia, penjelajah eropa, dan menurut seorang antropolog adalah ikan Baung yang karena kesialan murni berakhir sebagai lauk makan siang anak-anaknya sendiri. Lantas apakah buaya, ikan Baung, adalah metafora? Bukankah adalah adalah konjungsi logis untuk membentuk metafora? Lantas kalimat lauk makan siang anak-anaknya sendiri digunakan untuk mendramatisisasi atau memberi efek ngeri bahwa memang Afonso itu manusia, karena yang memiliki konsep untuk kata lauk makan siang adalah manusia.

Paragraf itu meneror dan teror itu diurai oleh cerita yang realis dan jelas penamaan tempat, ruang, dan waktunya. Akhirnya jelaslah bahwa kata adalah itu tidak bisa dihilangkan setelah tanda koma untuk menerangkan setiap kata, sebab Afonso adalah nama yang didapatkan di dalam cerita dari berbagai sumber yang berbeda (kelisanan). Kebingungan pembaca adalah juga kebingungan tokoh narator di dalam cerita ini. Namun dapat disimpulkan Afonso adalah konsep yang bisa apa saja dan bukan satu hal yang sama. Atau dapat dikatakan kecurigaan identitas Afonso yang banyak itu sebagai metafora memang benar.

Namun yang menarik perhatian saya kemudian selain uraian di atas adalah cerita ini realis. Identitas tempat, ruang, dan waktunya jelas. Tidak seperti cerpen yang pertama, di mana nama tokohnya diberi inisial. Di sini kita bisa menemukan data. Ada Tulang Bawang Barat, Lampung, Bupati berusia 35 tahun, dan sekelompok seniman yang membuat proyek penulisan di tempat itu. Kisah ini semacam perjalanan cerpenis D yang setahu saya juga melakukan hal serupa di Tulang Bawang barat. Dan cerpen ini setahu saya terdapat di dalam buku Tubaba: Kerja Sastra dari Tulang Bawang Barat tahun 2016. Sebagai pembaca yang tahu keadaan itu pasti akan langsung mengidentifikasi bahwa tokoh saya di dalam cerita adalah cerpenis D itu sendiri.

Sementara cerpen pertama tokoh diberi berinisial pemuda E, seolah rahasia. Cerita menjadi berkias, bisa apa saja dan di mana saja. Ini terlihat pula pada cerpen ketiga berjudul “Kisah dan Pedoman”, yang mana di sana nama-nama tokoh dan tempat dirahasiakan, hanya ditandai dengan peristiwa dan peristiwa tersebut menjadi penanda yang dapat ditelusuri referensinya. Melihat gaya cerpen cerpenis D yang terkadang konotatif dan juga denotatif itu, maka yang menonjol dari cerpenis D adalah teknik berceritanya, teknik mengolah realitasnya.

Realitas dan Fiksi
Memicu pertanyaan, bagaimana cara cerpenis D menghadapi realitas di dalam cerita fiksinya? Saya jadi ingat tulisan esai Nenden Lilis Aisyah tahun 2009 berjudul Geliat Estetika dalam Cerpen-cerpen Karya Cerpenis Terkini. Nenden berbicara bahwa tantangan bagi seorang cerpenis di era pasca reformasi jauh lebih besar. Jika sebelum reformasi para pengarang selalu menghadirkan hal-hal di luar kebiasaan, tabu, aneh, imajinatif, sebagai suatu yang menarik. Ketika hari ini keadaan tersebut telah benar-benar terjadi di luar karya fiksi, di kehidupan yang sebenarnya, lantas bagaimana cerpenis menyikapi realitas?

Nenden berpendapat kecenderungan cerpen-cerpen pasca reformasi berkonsentrasi pada eksplorasi bahasa dan alur. Berbeda dengan para pendahulunya yang berfokus pada peristiwa dan keadaan sosial yang begitu kuat. Para cerpenis muda, banyak bermain kata, bermain deskripsi, menciptakan pergantian tokoh yang cepat dan latar bisa di manapun dan berubah dengan cepat pula. Majas-majas segar berhamburan, kata menjadi begitu dipertimbangkan untuk hadir dalam cerita, dan dicari titik ungkap paling tepat dari kehadiran kata-kata tersebut. Hingga akhirnya cerpen terkadang menjadi begitu puitis. Begitulah mereka mengembangkan cerpen menjadi karya yang bernilai.

Uraian tersebut menambah jelas kenapa akhirnya cerpenis D begitu mempertimbangkan gaya bahasa di dalam cerpennya. Salah satunya yang paling menonjol adalah eksplorasi menghadirkan data dengan lengkap, layaknya esai di dalam cerita. Pertanyaan kemudian, apa potensi dari gaya semacam itu?

Ketika data objektif yang biasanya kita temui di dalam catatan kaki sebuah cerita pendek, tiba-tiba muncul langsung di dalam cerita, membuat kita akhirnya bingung, apakah data tersebut benar-benar ada dan terjadi atau hanya sebuah fiksi? Setidaknya pertanyaan semacam itu berderet di dalam kepala saya. Benarkah di Tulang Bawang Barat Lampung ada Afonso? Benarkah ada skripsi berjudul Hubungan Antar Manusia Menurut Arthur Schopenhauer di perpustakaan UGM? (Cerpen Kisah Sedih Kontemporer (IV)).  Benarkah lukisan berjudul Sabung Ayam milik pelukis terkenal Afandi hilang dari museum?  (Cerpen Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu). Benarkah teori Ramyun McClub tentang teori de javu-nya? Dan Ramyun McClun itu ada? ( Cerpen Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada). Sebab fakta-fakta yang membawa satu nama, tempat, buku, teori tersebut ada di dalam cerita, dan berpengaruh pada jalannya cerita maka ia akhirnya membuat kita mesti memastikan bahwa cerpenis D tidak sekedar fiksi.

Dari celah semacam itu, pembaca akan ragu untuk kemudian memusatkan perhatiannya pada cerita, lebih gila lagi ia akan memastikannya. Jika fakta tersebut valid, cerita menjadi semakin kuat. Jika tidak valid, pembaca akan semakin ragu hingga akhirnya ia mencari kebenaran lain di dalam cerita. Cerpenis D berhasil mengemas sejarah, filsafat, ilmu, realitas sosial dengan sangat jelas, terang, dan korespondensif. Meski berdampak pada beberapa cerpen terkesan menggurui dan kering. Namun gaya penceritaannya yang baik, dengan data yang mampu memberi warna logis pada cerita-cerita klise bertema cinta, perang, rumah tangga, masyarakat kota dan masyarakat pinggiran.[]

 

Post tags:

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

You don't have permission to register