Asal-usul Kesedihan ala Salinger sampai Dazai

1080 1080 Dedi Sahara

Konon, Adam dan Hawa bahagia sebagai sepasang kekasih di surga sebelum mereka diturunkan ke bumi. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama karena iblis menggoda keduanya untuk mencicipi buah khuldi. Tuhan pun murka karena keduanya dianggap melakukan dosa pertama. Tuhan mengusir Adam dan Hawa ke bumi bersama iblis.

Pada mulanya, manusia bahagia di surga. Setelah terlempar ke bumi, manusia mengenal kesedihan.

Manusia mengenal kesedihan dan tak pernah tahan dengan kesedihan. Ia selalu mengharap kebahagiaan, merindukan surga yang pernah dirasakan oleh Adam dan Hawa. Segala cara ditempuhnya demi menggapai kebahagiaan, baik dengan cara-cara kompromis atau tanpa peduli tapal batas moralitas. Kebahagiaan merupakan tujuan utama dari umat manusia.

Namun, persoalannya, bagaimana jika kebahagiaan itu tak pernah ada? Bagaimana jika kisah tentang Adam dan Hawa, tentang surga, tentang dunia tanpa kelas, dan lainnya, hanyalah fiksi belaka karena kehidupan selalu cacat dan kebahagiaan tak ada?

Misalnya, seseorang yang ingin menjadi kaya raya dan akhirnya berhasil, tapi tetap saja dibayang-bayangi atau mengalami kesedihan; ketakutan akan jatuh miskin, dikhianati orang-orang tercinta, penyakitan atau kematian.

Selain itu, perihal cita-cita dunia tanpa kelas, yang menjadi mimpi siang bolong para pemujanya. Nyatanya, harapan akan dunia tanpa kelas selalu mengalami kegagalan sepanjang sejarah. Bahkan, sampai hari ini, harapan yang mulia itu tak pernah terwujud. Begitu pula dengan surga, tak ada bukti riil tentang keberadaannya.

Tentu saja orang-orang tak selalu sepakat dengan pendapat saya ini. Malah, bisa jadi melabeli saya sebagai nihilis dekaden. Atau, ia akan melontarkan pertanyaan naif: jika kebahagiaan tak pernah ada, lalu kenapa manusia bisa tertawa? Bukankah ia tertawa karena bahagia?

Telah menjadi hal lumrah jika tawa dipandang sebagai wujud kebahagiaan. Namun, ada pula yang tertawa karena kesedihan atau menertawakan kesakitannya. Tertawa tak dapat menjadi ukuran kebahagiaan karena ia hanya fenomena kasar, suatu kesan empiris yang dapat ditangkap oleh indra. Ada yang tertawa dalam kesedihan dan ada pula yang menitikkan air mata dalam kebahagiaan. Tak ada jaminan jika seseorang tertawa karena bahagia.

Lalu, bagaimana dengan perasaan senang atau bahagia karena seks? Sampai di sini, persoalannya menjadi lebih rumit. Saya tak memiliki jawaban untuk itu.

Namun, yang sebenarnya ingin saya tunjukkan bukanlah ada atau tidaknya kebahagiaan. Karena untuk membuktikan hal itu bukanlah perkara mudah, bahkan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Tulisan ini bukan hasil permenungan mendalam bak para filsuf yang memiliki basis argumentasi yang kokoh.

Saya ingin menunjukkan perihal kesedihan yang tak kalah pentingnya dari kebahagiaan. Kesedihan yang selalu dianggap negatif, selalu dijauhi, selalu berusaha ditolak atau disingkirkan oleh manusia. Walau pada kenyataannya, kesedihan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Menyublim kesedihan
Tak ada kebahagiaan tanpa kesedihan. Bahkan, karena kesedihan bermunculan karya filsafat, sastra, dan seni yang agung.

Friedrich Nietzsche mungkin tak akan pernah menuliskan teks filsafatnya yang menakjubkan, jika ia tak diserang melankoli yang akut. Pengalamannya akan kesakitan yang mampu mendorong Nietzsche melahirkan pemikiran filosofis yang mendalam. Pemikirannya akan yang abyssal, dan mengguncang pemikiran-pemikiran yang telah dianggap mapan sebelumnya hingga kini.

Di sisi lain, ada Soren Kierkegaard. Mirip dengan Nietzsche, Kierkegaard mungkin tak akan mampu menuliskan teks filsafatnya yang sublim dan bernuansa religius, jika ia tak dirudung kesedihan. Misalnya, cintanya yang kandas bersama Olsen. Sebab kesedihan itulah Kierkegaard bisa sampai pada inti dari filsafat. Saya kutip secara singkat perkataan Kierkegaard perihal inti dari filsafat:

“Jika kamu kawin, kamu akan menyesal; jika tidak kawin, kamu akan menyesal pula; kawin atau tidak, kamu akan menyesal. Tertawakanlah kegilaan dunia atau ratapilah, kamu akan menyesal; entah kamu menertawakan kegilaan dunia atau meratapinya, kamu akan menyesal; gantunglah dirimu, kamu akan menyesal; jangan gantung dirimu, kamu akan menyesal; entah kamu menggantung dirimu atau tidak, kamu akan menyesal. Tuan-tuan, inilah ringkasan dan inti segala filsafat.”

Kemudian, di wilayah sastra, ada J.D. Salinger dan Osamu Dazai. Jika Hamlet gubahan Shakespeare mengajarkan pada dunia semacam ketidakbahagiaan atau kekecewaan abadi dalam kehidupan, begitu pula dengan remaja Holden Caulfield dan Oba Yozo.

Salinger menciptakan Holden Caulfield dalam The Catcher In The Rye (1951) sebagai alter-egonya. Dazai mencipatkan Oba Yozo sebagai representasi dirinya dalam fiksi No Longer Human (1948). Kedua tokoh itu menyenandungkan kesedihan dengan gayanya yang khas, penuh dengan humor dan sarkasme. Melalui kesedihan, keduanya dapat menertawakan kehidupan yang boyak.

Salinger dan Dazai atau Holden dan Yozo, dapat disebut sebagai raja kesedihan par excellence. Bahkan, Holden Caulfield adalah raja kesedihan bagi kebanyakan orang Amerika yang dibesarkan pada tahun 1950-an. Orang-orang mengagguminya, dan masih membaca Salinger hingga hari ini dengan caranya sendiri.

Novel The Catcher In The Rye karya Salinger memang mengagumkan. Sejak kali pertama muncul pada Juli 1951, novel ini menjadi bestseller dan telah terjual hampir enam puluh juta kopi. Tokoh utama dalam novel ini, Holden Caulfield, adalah remaja yang tak bahagia.

Holden mulai mengalami kesedihan, terasing dari dirinya sendiri, setelah kematian adiknya, Allie, karena leukemia. Holden menganggap bahwa orang-orang penuh kepalsuan, munafik. Baginya, hanya seorang bocah seperti Phoebelah yang dapat menghibur hatinya.

Dalam sebuah artikel di New Yorker, tokoh Holden Caulfield muncul kali pertama dalam karya Salinger dalam sebuah kisah berjudul “Slight Rebellion off Madison” pada tahun 1941. Kisah itu menampilkan karakter bernama Holden dan pacarnya. Kisah ini dibeli oleh The New Yorker tetapi tak sampai diterbitkan hingga tahun 1946.

Namun, sebagian besar karakter Holden Caulfield dimunculkan dalam The Catcher In The Rye yang ditulis setelah perang. Meski Salinger bukanlah penulis perang, tapi menurut Ian Hamilton dan Paul Alexander sebagai penulis biografinya, perang itulah yang semakin memperkuat tokoh Caulfield. Pengalaman yang menggelapkan sarkasmenya dan menempatkan kesedihan dalam humor. Tokoh Holden ini kemudian dianggap sebagai alter-ego Salinger sebagaimana ditampilkan dalam film Rebel In The Rye.

Sementara Oba Yozo ciptaan Dazai jauh lebih ekstrem dari Caulfield. No Longer Human mengisahkan tokoh Oba Yozo yang lahir di sebuah desa terpencil di utara Jepang.

Yozo dibesarkan dalam keluarga yang cukup kaya. Ayahnya adalah pengusaha sukses yang selalu melancong ke luar kota. Yozo memiliki seorang kakak yang dipandang terlalu serius, tak memiliki rasa humor yang baik. Yozo tak pernah akrab dengannya. Dibesarkan dalam situasi yang materialiastik dan pseudo-moralis membuat Yozo tumbuh dalam keterasingan.

Reputasi keluarganya yang tersohor membuat Yozo dihormati di sekolah. Meski demikian, Yozo semakin merasa terasing dan menganggap ada yang ganjil dalam diri manusia. Yozo hidup dengan perasaan penuh curiga pada manusia.

Singkat cerita, kehidupan Yozo semakin memburuk hingga ia berulangkali melakukan percoban bunuh diri. Tapi dalam percobaan bunuh diri itu, Yozo selalu menemukan kegagalan, termasuk saat melakukan bunuh diri bersama kekasihnya, Tsuneko.

Selang beberapa waktu, Yozo pun menikahi gadis manis bernama Yoshiko. Hanya saja pernikahannya itu tak dapat mengobati luka yang menganga dalam jiwanya. Terlebih lagi, saat melihat Yoshiko diperkosa oleh seorang remaja tanggung. Yozo hanya terpaku menyaksikannya tanpa emosi yang membuncah.

Kisah tentang Oba Yozo dalam No Longer Human merupakan kisah tentang keputusasaan manusia. Secara tragis, Yozo menganggap dirinya gagal untuk menjadi yang wajar dalam norma-norma sosial yang berlaku. Sebagaimana Yozo, Dazai pun mengalami hal yang serupa dengan tokoh ciptaannya itu.

Dazai pernah berulang kali melakukan percobaan bunuh diri, termasuk bersama kekasih gelapnya, Yamazaki. Perselingkuhan dilakukan saat sang istri terkasih diketahui selingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Tak mau kalah dengan sang istri, Dazai pun berselingkuh dengan Yamazaki dan mencoba melakukan aksi bunuh diri bersama. Yamazaki koit, sementara Dazai selamat dari maut.

Selang beberapa waktu dari peristiwa itu, Dazai pun harus menjalani rehabilitasi di bawah sanatorium khusus bagi orang-orang yang dianggap mengidap gangguan kejiwaan. Tak lama kemudian, setelah dinyatakan pulih, Dazai kembali terjerembap dalam dunia gelap obat-obatan dan prostitusi. Ia pun kembali mencoba melakukan percobaan bunuh diri untuk yang ketiga kalinya, dan kali ini berhasil.

Dazai menulis No Longer Human di bawah tekanan fasisme Jepang yang menampilkan potret muram manusia di zamannya. Novel ini kemudian dipandang sebagai novel semi-autobiografi Dazai. Setelah kematiannya, Dazai banyak dikagumi oleh kebanyakan orang Jepang. Ia digadang-gadang sebagai pencetus teknik Buraiha dalam prosa yang menjadikan dekadensi sebagai tema utamanya.

Dengan demikian, Salinger dan Dazai menjadikan kesedihan sebagai bahan bakar bagi karya-karyanya. Keduanya tak menolak kesedihan, justru terpesona kepadanya. Salinger dan Dazai menulis di atas kesedihan dan menuliskan kesedihan manusia. Keduanya menuliskan kisah-kisahnya dengan hati yang mengucurkan darah.

Kesedihan tak perlu ditampik karena kesedihan akan selalu hadir dalam setiap diri manusia, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Tapi, tak perlu juga memuja-muja kesedihan secara berlebihan.

Kesedihan hanya perlu diterima dan diarahkan dengan tepat, disublimasi pada objek yang dikira “aman.” Barangkali dengan cara seperti itu, kesedihan-kesedihan yang hadir tak lagi menjadi horor dan akhirnya mampu menjelma karya sastra atau seni yang agung.[]

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Redaktur Apresiasi Buruan.co. Giat belajar di Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin.

All stories by:Dedi Sahara
1 comment
Leave a Reply

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Redaktur Apresiasi Buruan.co. Giat belajar di Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin.

All stories by:Dedi Sahara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.