Trio “Lebah Betina” yang Berbahaya
Tim putri Sastra FC Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) atau akrab dijuluki si “Lebah Betina” beruntung memiliki pemain-pemain berkualitas di dalam skuadnya. Tim futsal kebanggaan FIB UI ini setidaknya punya trio lebah berbahaya yang senantiasa menyengat musuh-musuhnya. Sebut saja Farah Tasya, Ilona Prastika dan Devi Fitriana.
Puncak permainan trio “Lebah betina” ini terjadi di laga final futsal putri Olimpiade UI 2014 (Kamis, 4/12/2014). Mereka tampil brilian membawa timnya meraih medali emas.
Farah Tasya berperan penting dalam menjaga keseimbangan permainan. Layaknya playmaker, ia tangguh dalam bertahan juga cerdik ketika membantu serangan. Berperawakan mungil, kapten tim putri Sastra FC ini serupa lebah Apis Florea. Keberadaannya sulit dideteksi. Begitu juga dengannya, pergerakannya yang lincah sulit diantisipasi pemain lawan.
Lain halnya dengan Ilona Prastika. Pemain ini bagaikan lebah Africanized Honey Bees atau biasa juga dijuluki “Lebah Pembunuh”. Selain agresif, ia pun sangat berbahaya di depan gawang lawan. Sekali saja dibiarkan bebas maka musuhnya akan terjerembab ke dalam situasi yang malang. Naluri mencetak golnya sangat tajam. Terbukti delapan gol telah dilesakan selama turnamen bergulir sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak.
Yang terakhir adalah Devina Fitriana. Saya ingin mengibaratkannya seekor Macan; karena ia pemain pemberani, petarung, pekerja keras dan ganas. Tapi apa boleh bikin, ini keluarga lebah, saya tidak bisa membahas binatang buas itu di sini. Lagipula sebaiknya persoalan Macan, Maung, Singo, Buaya, Ayam, Kebo, Joko tidak diungkai di kompetisi bergengsi tanpa muatan politis dan jauh lebih sportif ini.
Dilihat dari konstribusinya yang sangat signifikan, Devi bagaikan sejenis lebah Apis Dorsata. Pergerakannya yang cepat acapkali membuat pemain lawan kelimpungan. Barangkali di antara pemain lain, Devi-lah yang memiliki skill individu dan drible paling ‘menyeramkan’. Tidak tanggung-tanggung, di laga final dua gol ia lesakan. Tak heran bila ia meraih predikat pemain terbaik di turnamen ini.
Demikianlah kilasan singkat tentang trio lebah. Semoga selain memiliki keunggulan skill, mereka juga memiliki kerendah-hatian yang tinggi. Seperti halnya kita memahami bagaimana lebah hidup, tumbuh dan berkembang. Mustahil bagi mereka bisa menghasilkan madu tanpa kehadiran sarangnya, tanpa interaksi dengan koloninya.
Dengan kata lain, mereka tidak bisa menghasilkan prestasi tanpa komunikasi yang baik di dalam kerja sebuah tim, tanpa interaksi yang mengandalkan getaran perasaan dan persaudaraan. Dan yang tak kalah penting, mereka tidak bisa terlepas dari kontribusi dukungan fanatik suporternya yang senantiasa berjuang di mana pun berada. Hidup RMS (RMS di sini bukan kelompok separatis, melainkan akronim dari Rakyat Militan Sastra)! Tabik![]

