Fb. In. Tw.
Dewi Kharisma Michellia berpose menggunakan kacamata, berambut pendek, menggunakan outer hitam.

Posisionalitas Pengarang dalam Novel BERAT

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Premis novel BERAT oleh Amalia Yunus cukup realistis menggambarkan problem struktural lewat jalan amat personal: tokoh pengidap obesitas ekstrem dalam novel ini berusaha keras menurunkan berat badan dengan segala cara, yang dari potret realitas jenaka nan kelam itulah kita lantas perlahan diajak menyadari bahwa kita telah memasuki era kapitalisme tingkat lanjut. Selain karena faktor genetik yang disebutkan secara eksplisit, kerja berlebih hingga lupa mengurus diri—karakter kehidupan di bawah payung kapitalisme tingkat lanjut ini—adalah penyebab utama masalah pelik dalam hidup sang tokoh utama. 

Sehari-harinya, sang tokoh utama berbobot 172 kilogram itu hidup di lantai 16 sebuah apartemen dengan suntikan kortikosteroid yang dia ambil dua kali setahun untuk meredakan rasa nyeri di lututnya akibat bobot berlebih. Untuk beraktivitas, dia menggunakan kursi roda yang bisa menanggung bobot hingga 200 kilogram (hlm. 7). Sewaktu-waktu, dia mengalami serangan sesak napas hebat lantaran saluran pernapasannya tersumbat (hlm. 14), frustrasi berat sampai tidurnya kerap diisi mimpi buruk, hingga eksim dan ruam-ruam merah di kulit kakinya yang bermunculan jika dia stres (hlm. 34).

Hebatnya, dia masih bisa produktif bekerja lepas sebagai animator dan pengembang aplikasi android (hlm. 22), belum mengalami “resistensi insulin yang berisiko menyebabkan diabetes tipe 2, penumpukan lemak di hati, dan penebalan dinding arteri” (hlm. 15),1 dan dia juga masih bisa menyempatkan waktu memiliki pacar dan menjalani kehidupan percintaan yang normal (tergambar di sepanjang buku). Meski hidupnya tidak kosong oleh cinta, kita tahu dia hidup dengan diburu tenggat pekerjaan setiap saat yang membuatnya lupa mengurus diri.

Mengikuti pakem novel-novel belakangan ini yang bereksperimen dengan bentuk, seperti halnya Martin Suryajaya menulis Kiat Sukses Hancur Lebur dan betul-betul menyajikan kiat-kiat hancur lebur, begitu juga novel yang judul panjangnya sejatinya adalah Bagaimana Cara Mengurangi BERAT Badan ini menyajikan bab-babnya dalam alur langkah demi langkah yang ditempuh oleh tokoh utama untuk menurunkan berat badannya. Hadir dalam bentuk checklist, bab-bab novel ini memunculkan judul-judul bab yang jenaka: □ Akui Bahwa Kamu Punya Masalah Besar, □ Temukan Bantuan yang Sesuai, □ Formulasikan Target Jangka Panjang, Jangka Menengah, dan Jangka Pendek, □ Ubah Gaya Hidup dan Kebiasaan Makanmu, □ Jaga Motivasimu, □ Pilih Lingkunganmu, □ Optimistis.

Maka, begitu juga, demi mempertahankan karakter novel yang bersifat seperti semacam buku-buku pengembangan diri, novel ini menggunakan teknik seperti Sabda Armandio dalam sepanjang novelanya Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya—menempatkan diri sebagai seorang teman karib, “buku panduan” ini pun menggunakan kata ganti “kamu” untuk mengantarkan pembaca mengenal tokoh utama—membersamai “buku panduan” ini sebagai seorang pelatih alias coach yang baik. Tokoh utama kita ini dipanggil dengan sebutan “kamu” oleh sang narator novel yang setidaknya di bagian akhir Bab 1 (hlm. 15) sudah muncul dengan nada otoritatif: “Saya yakin kamu sudah tahu ini, tetapi akan saya ulangi lagi sekarang,” dan kembali muncul menjelang akhir novel: “Andai kamu bisa mendengar saya, saya akan mengingatkanmu tentang privilese yang kamu miliki, yaitu waktu, uang, dan pengetahuan […]” 

Apabila kita mengabaikan nada otoritatif narator dan mengikuti panggilan “kamu” di sepanjang novel dan mengasumsikan panggilan itu ditujukan kepada kita sebagai pembaca, kita akan seakan diajak turut menjadi si tokoh “kamu” dengan masalah hidup yang sudah hampir mengancam nyawa kita.2 Tak tanggung-tanggung, novel dibuka dengan bayangan sang tokoh akan kematian yang menanti dengan tenang di suatu sudut lorong rumah sakit. 

Saat kamu masih kanak-kanak, di pikiranmu kematian selalu datang dengan darah: orang baru bisa mati jika tertusuk, tertembak, atau sakit yang menyebabkan darah mengalir keluar dari mulut, telinga, dan hidung. […] Tidak terbayang olehmu saat itu, anak kecil berusia enam tahun, bahwa kematian bisa bersih.

Kata bersih yang dicetak miring di halaman pertama novel ini rupanya menjadi semacam janji sang narator, bahwa di sepanjang novel ini kita akan menghadapi ketakutan sang tokoh utama akan suatu pengalaman bersih: rumah sakit, kesehatan, kedisiplinan, aturan ketat, dan dokter berjas putih. Vonis dokter bahwa sisa usia sang tokoh hanya tinggal dua tahun lagi sebelum tubuhnya mengalami komplikasi berbagai penyakit menjadi pintu masuk kita ke dalam cerita, hingga kita menemukan kata bercetak miring lain: bahwa kemudian dia ingin mengubah hidup dan nasib-nya (hlm. 37).

Untuk pertama kalinya kalian berbeda pendapat sedemikian jauh. Untuk pertama kalinya kamu tidak menurutinya dan dia mendiamkanmu. Namun, kamu belum sempat khawatir tentang itu. Pikiranmu masih begitu tertuju pada harapan baru untuk mengubah hidup dan nasibmu.

Momen ini menjadi penanda pertama pertengkarannya dengan pacarnya, hanya karena dia ingin mengubah hidup dan nasibnya. Dan sebelum dia bersikukuh mengubah nasibnya lewat jalan yang kelak akan membuat mereka bertengkar setiap berjumpa, dia sudah terlebih dahulu mengumpulkan informasi bahwa dia akan membutuhkan uang sebanyak kurang lebih 60 juta rupiah, untuk menjalani konsultasi, terapi, dan pendampingan pribadi yang bisa membantunya menurunkan berat badan, demi bisa bertahan hidup dan mematahkan vonis sang dokter. 

Sebelum mencapai pengetahuan mengenai nominal rupiah tersebut, percakapannya dengan pacarnya pun sudah mengajak kita mempertimbangkan sejumlah jenis operasi bariatrik yang bisa ditempuh untuk memotong lemak membandel di tubuh.

Ada yang lambungnya disekat jadi dua bagian, […]. Bagian lambung yang atas lebih kecil, yang bawah lebih besar. Terus usus dipotong dan disambungkan ke bagian lambung yang kecil, yang daya tampungnya sedikit. Ada lagi yang lambungnya dipotong. Sekitar tujuh puluh sampai delapan puluh persen lambung dibuang. Ini nama lainnya operasi pemotongan lambung. 

Lantaran faktor takut akan efek samping operasi yang mengerikan (kemungkinan pendarahan, infeksi, emboli darah, sampai kebocoran lambung dan usus)—serta mimpi buruknya yang membuatnya takut akan mati di meja operasi—saat sebuah iklan yang sangat provokatif bergambar siluet tubuh plus size dengan tulisan kuning tebal XXXL yang sangat mencolok itu muncul, tokoh utama kita pun terjerat. 

Sebuah rumah produksi, Rumah Produksi Sagitarius, sedang mencari peserta untuk menjadi tokoh utama dalam pertunjukan realitas (reality show) mereka, dengan tantangan mengurangi berat badan secara instan. Program itu komprehensif, menawarkan sederet fasilitas: pelatih kebugaran, ahli nutrisi, koki, psikolog, dokter spesialis, beserta infrastrukturnya. Program berlangsung satu tahun dengan total hadiah nontunai hingga satu miliar rupiah.

Dalam perhitungannya, dengan mengikuti program XXXL itu, dia tidak perlu menghabiskan tabungan hingga 60 juta rupiah, belum tentu pula uangnya itu akan ada artinya jika kemudian dia gagal. Sementara itu, rumah produksi itu datang dengan tawaran menggiurkan. Ada jaminan bahwa tampaknya program itu akan berhasil, lantaran mereka didukung pusat kebugaran, klinik, supermarket, dan berbagai logo sponsor yang siap menyukseskan program. Di sanalah, titik awal tokoh utama kita berhadapan dengan lapisan kapitalisme tingkat lanjut—saat tubuh obesitasnya berhadapan dengan industri hiburan yang digerakkan oleh ekonomi serta algoritma perhatian dari penonton, saat dia menjual kesehariannya—termasuk berbagai drama kehidupannya—untuk dinikmati warganet, dan mulai menjalani hidupnya selayaknya tokoh serial televisi Black Mirror yang patuh.3 Apa salahnya menjadikan diri sendiri komoditas saat semua orang lain di sekitar kita juga menjadikan hidup mereka sebagai komoditas?

Dan tentunya, sebagaimana karakteristik cerita yang lazim muncul di dunia kapitalisme tingkat lanjut ini, sebelum menjalani program XXXL itu, dia sudah harus menyudahi kesehariannya sebagai pekerja lepas, terutama kebiasaannya berkejaran dengan tenggat dan menyetor revisi kepada kliennya. Bahkan, itu menjadi prasyarat: deretan kiat sukses menurunkan berat badannya baru akan bisa dia laksanakan ketika sudah menyelesaikan semua tenggat pekerjaan yang telanjur diterimanya. Alias, dia hanya bisa kurus jika faktor stresnya (pekerjaan demi pekerjaan tak berkesudahan) yang memproduksi terlalu banyak hormon kortisol di tubuhnya dia buang jauh-jauh.

Di sinilah kita mulai berhadapan pada sekian lapisan novel. Novel BERAT berangkat dari persoalan yang sangat material: tubuh, berat badan, kesehatan, tenggat demi tenggat pekerjaan lepas a la hustle culture menuju ke persoalan yang masih sangat material pula: perputaran uang dalam industri hiburan, algoritma serta ekonomi perhatian, dan masyarakat penonton (masyarakat spektakel) di ranah virtual—sekaligus juga persoalan yang sangat spiritual: perubahan mental dan kepribadian sang tokoh utama dari awal hingga akhir novel akibat guncangan transformasi hebat yang telah terjadi di hidupnya. Bersama dengan sang tokoh, kita diajak ikut menghidupi keseharian distopis masyarakat hari ini, dengan curahan peluh dan air mata para pemengaruh (influencer), tak lupa disertai tagar medsos #inthiseconomy, dan menyaksikan bagaimana dia menjalani perubahan besar dalam hidupnya yang tak pernah terjadi sejak dia kecil—perjalanan menurunkan berat badan dari 172 kilogram hingga mencapai 95 kilogram (berhasil memangkas hingga 77 kilogram).

Pada mulanya, tentu novel ini berupaya untuk mempersoalkan pertentangan antara relasi tubuh dan kesadaran (klise dari perdebatan mind versus body), saat tubuh obesitas sang tokoh utama dihadapkan dengan kesadarannya yang masih memiliki hasrat untuk hidup (klise dari konsep eros dan thanatos). Pada satu momen, rasa takutnya akan kematian lebih besar daripada rasa takutnya akan kehidupan. Pada akhirnya, kemenangan eros atas thanatos itulah yang menggerakkan tubuhnya untuk mengambil keputusan melakukan perubahan—atau transformasi diri—lazim juga dikenal sebagai ‘individuasi’. Di tengah kekalutannya itu, terkadang dia menangis dalam tidur dan terbangun dengan mata sembap, wajah dan bantal basah akan air mata—momen penentu yang akan membawanya pada sekian paragraf mimpi buruk, yang oleh pengarang dengan cerdik ditampilkan sebagai bingkai pembuka dan penutup novel ini. 

Di mimpimu, kamu mati di atas tempat tidurmu. Kamu pergi tidur seperti biasa, lalu kamu tidak bangun lagi. Pacarmu mendapati mayatmu keesokan harinya. Ini terdengar absurd, tapi sedikit-banyak kamu merasa senang karena itu kematian yang bersih. (hlm. 29 di bagian pembuka novel, lalu terulang dengan sedikit perubahan pada hlm. 148 di bagian penutup novel)

Dalam kedua mimpinya itu, entah kenapa—seperti halnya Katniss Everdeen di Hunger Games yang seakan punya kemampuan untuk menyelamatkan diri dari mimpi buruk sehingga tidak mati konyol dalam tidurnya—si tokoh utama pada akhirnya mampu bangun dari mimpi buruk itu. 

Pada bagian awal saat terbangun dari mimpi buruk itu, hasratnya untuk hidup itulah yang lantas mengantarkannya mengambil keputusan untuk terlibat dalam industri hiburan dari rumah produksi yang menawarkan paket lengkap untuk menurunkan berat badan. Dia biarkan kehidupan sehari-harinya dipertontonkan serta ditukar secara ekonomis dengan perhatian yang diberikan oleh masyarakat spektakel.4 

Dia merasa mereka menampilkanmu sebagai orang cengeng yang histeris. Kenapa kamu harus menangis segala waktu menunjukkan beratnya latihan yang kamu jalani, protesnya, kamu tidak pernah menangis di dunia nyata; mereka bilang mereka mau menampilkanmu apa adanya? (hlm. 89)

Memang, tidak pernah ada yang namanya menampilkan “secara apa adanya” ketika berurusan dengan industri hiburan. Semua hal yang layak dijual sebagai tontonan hanyalah hal-hal yang sudah didramatisasi. Masyarakat kita tahu itu, dan masih dengan riang gembira menerima nama pertunjukan itu sebagai pertunjukan kehidupan nyata atau pertunjukan realitas alias reality show, padahal tidak ada yang nyata dari apa yang disajikan. Semua yang ditayangkan hanyalah representasi semu dari kenyataan. Miris dan ironisnya, sang pacar bahkan sampai mengingatkan padanya, bahwa reality show hanya ingin mendramatisasi tontonan yang menjadikan cerita hidupnya—apa pun itu—sebagai bahan yang layak dijual, dan itulah yang membuatnya sebetulnya perlu berpikir masak-masak untuk tidak melibatkan diri dalam spektakel. Namun, sang tokoh utama tidak ambil pusing. Dia tetap melenggang kangkung menjalankan semua program dietnya.

Ini akan jadi bulan yang paling berat karena akan ada perubahan radikal yang mesti terjadi, ujar perempuan itu padamu, kamu tidak mungkin mengharapkan hasil yang berbeda jika caramu selalu sama. (hlm. 66)

Mulai hari itu, sang tokoh utama menjalani hidup keras dan disiplin selayaknya kaum sparta. Empat sesi aktivitas fisik yang diselingi lima makan, terdiri dari sarapan, makan siang, makan malam, dan dua kali kudapan.

Pagi harinya, dia perlu mendaki lapangan dalam satu putaran, lalu menjalani sesi latihan beban, dan di siang hari menjalani sesi kolam renang dan sepeda statis yang diselang-seling setiap hari, kemudian di sore hari mengikuti sesi yoga, tai chi, atau pilates, yang juga diselang-seling. Gerak tubuh yang optimal sepanjang hari itu pun masih belum cukup tanpa disertai “melatih” tubuh untuk memperoleh istirahat mumpuni. Dia harus paling lambat sudah tidur pukul sembilan malam, dan harus berdurasi delapan jam setiap malamnya.

Tidak ada orang yang bisa belajar atau bekerja dengan baik, tidak ada orang yang bisa sehat atau mengurangi berat badan, tidak ada orang yang bisa bahagia, jika tidur kurang dari delapan jam sehari. (hlm. 67)

Untungnya, dia tidak pernah sendiri dalam menjalani program ini. Selain didampingi pelatih pribadi, sekian peserta berukuran XXXL sepertinya pun turut menjalani kehidupan reality show itu. Setiap pagi selama satu bulan, mereka belajar mengenai nutrisi, pola makan yang dianjurkan, kiat-kiat menyiapkan makanan sendiri, bahkan cara makan yang baik dan benar. Yang pertama harus mereka ingat adalah apa yang pantang mereka makan—seperti gorengan dengan lemak jenuh yang sulit dicerna oleh tubuh. Daftar pantangannya semakin panjang hingga menyentuh gula dan makanan yang sudah diproses (ultra-processed food).

Pada bagian inilah, kita diajak mengalami bagaimana menjadi tokoh obesitas. Jantungnya yang berdebar-debar, disertai rasa panas seperti terbakar, juga napasnya yang megap-megap, dan butiran besar keringat yang memenuhi sekujur tubuhnya. Pengalaman ketubuhannya saat merasa tersiksa hingga memuntahkan seluruh isi perutnya lantaran terlalu keras memacu dirinya berolah raga. Selain dibaca oleh kita, seluruh pengalamannya itu direkam oleh kru yang memang menantikan peristiwa-peristiwa semacam itu untuk terjadi. 

Proses detoksifikasi itu terus berlangsung, menyiksamu selama berhari-hari berikutnya dan tak kunjung membuatmu terbiasa. Selama dua minggu pertama, setiap kali kamu mulai berjalan di atas treadmill, atau mengayuh sepeda statis, atau mengangkat barbel, tak sampai lima belas menit kamu harus lari ke toilet untuk memuntahkan isi perutmu. (hlm. 73) 

Selanjutnya, rekaman acara reality show itu dilakukan dengan merambah wilayah apartemennya. Kamera dan lampu sorot sudah menyambut kepulangannya, dengan pelatih pribadinya memandunya untuk masuk ke ruang pribadinya. Satu sudut apartemen telah dikosongkan dan di sana terdapat treadmill baru yang tampak mencolok, di sampingnya satu rak bertingkat berisi barbel aneka ukuran. Sebuah bola pilates, alat lompat tali, dan hulahop tergeletak di depan rak. Tidak berhenti di peralatan olahraga, sang pelatih menuntunnya ke arah kulkas dan memperlihatkan isi kulkas yang telah mereka sulap. Semua makanan dan minuman yang memenuhi kulkasnya sudah disingkirkan, digantikan dengan buah dan sayuran segar, beberapa bungkus daging, ayam, dan ikan. Lemari makanan yang biasanya penuh camilan digantikan dengan bungkus beras merah, biji-bijian, dan beberapa protein batangan buatan rumahan.5 Selain mengganti jenis makanan di apartemennya, dari ahli nutrisinya, dia kemudian belajar bahwa kita cenderung salah menafsirkan sinyal tubuh. Padahal, selama hidupnya hingga saat itu, sang tokoh utama digambarkan memiliki hubungan yang ganjil dengan makanan.

Sejatinya, kamu punya hubungan yang sangat ganjil dengan makanan. Sedang senang? Kamu akan makan. Sedih? Kamu akan makan. Bosan? Kamu akan makan. Merayakan sesuatu? Kamu akan makan. (hlm. 13)

Berkat saran sang ahli nutrisi, dia memiliki kesadaran baru dalam melihat makanan: […] kamu belajar bahwa kita sering salah menafsirkan haus sebagai lapar. Untuk itu, jika kita tiba-tiba merasa lapar di luar jam makan, kemungkinan besar kita sebenarnya hanya haus. Kamu sudah menerapkan pengetahuan baru tersebut ke dalam keseharianmu, minum air putih saat kamu merasa lapar, dan kamu senang mendapati informasi tersebut benar. (hlm. 76)

Terlepas dari semua penjelasan tentang mengatur kesehatan dengan jalan amat disiplin itu, novel itu tidak mengglorifikasi upaya instan tanpa kesadaran yang baik tentang kesehatan. Gagasan program XXXL sendiri berasal dari seorang perempuan yang tidak pernah menikah—hingga gencar digunjingkan sebagai simpanan seorang taipan media—yang menjalani kerasnya hidup di dunia model. Di dunia sang penggagas XXXL itu—seperti halnya tekanan mental dunia pertunjukan yang dialami Nina Sayers sang tokoh utama Black Swan—semua orang berpacu dengan waktu dan kesempurnaan hingga dia pernah menjadi pasien anoreksia dan bulimia yang dikirimkan oleh keluarga kayanya untuk menempuh pengobatan ke klinik perawatan di Singapura. 

Setiap detik berharga. Masa muda adalah mata uang. Waktu tidak akan berhenti menunggu. Waktu tidak bisa diputar kembali. Semua bergerak cepat. Tidak ada seorang pun di sekitar perempuan itu, tidak pula fotografer bermata jeli yang kini tinggal bersamanya, menyadari bahwa dia mempunyai masalah. (hlm. 49)

Selain menggagas program XXXL, “si tante panutan” lewat unggahan-unggahannya di YouTube ini juga membuat program kembaran XXXS, tentang orang-orang anoreksia dan bulimia seperti dirinya di masa lalu. Begitu pula seperti halnya sang penggagas program yang populer di media sosial, para peserta program XXXL lantas juga diwajibkan untuk membuat media sosial—demi mempertontonkan lebih jauh kehidupan mereka. Tokoh utama novel ini pernah punya media sosial yang sama tidak terurusnya seperti hidupnya. Tidak ada satu pun foto manusia dalam unggahannya, tidak juga foto dirinya sendiri. Pengikutnya tidak sampai lima puluh orang, sebagian besar bahkan tidak dikenalnya dan hanyalah toko-toko daring atau sederet bot beridentitas palsu. 

Demi menyukseskan program XXXL-nya, dia membuat akun baru sesuai permintaan rumah produksi, dengan nama akun berupa @(nama panggilan-nya)xxxl. Pada malam pertama peluncuran, dia memperoleh pengikut hingga 10 ribu. Dalam waktu delapan bulan saja, pengikutnya mencapai hngga 3,2 juta. Dalam hitungan ekonomi perhatian, novel ini menunjukkan sejumlah komentar yang masuk dari warganet—yang sebagian besar merisak upaya sang tokoh untuk kurus, begitu juga jumlah tanda love / likes yang ia terima, hingga 3.208 likes dalam satu komentar salah satu warganet, ataupun jumlah amin sebanyak 1.505 untuk salah satu unggahan. 

Mulanya, komentar-komentar rundungan di media sosial itu membuat tokoh utama merasa gentar dan tertekan, merasa seperti dipermalukan di muka umum, dan melemparnya kembali ke ingatan di masa sekolahnya dulu saat dia dirisak oleh teman-teman sekolahnya, bahkan saat dia diselamatkan oleh pacarnya—bagai suatu meet cute yang direncanakan dengan motif tangan tuhan (Deus ex machina), pertemuannya dengan sang pacar pun terjadi lantaran dia menyelamatkan tokoh utama dari rundungan teman-teman masa kecilnya. 

Meskipun sama menyakitkannya dengan ingatan tentang masa sekolahmu dulu, semua komentar miring para warganet yang mahabenar dengan segala kejulidannya itu justru lebih menyulut amarah pacarmu daripada amarahmu sendiri. (hlm. 115)

Bagian ini menunjukkan betapa rentannya kejiwaan sang tokoh utama dengan rasa malu yang dihadapi hingga kecemasannya dalam merawat jalinan relasi sosial terdekatnya. Hubungan yang sudah semakin merenggang sejak awal pertengkaran mereka di awal keikutsertaan sang tokoh utama dalam program XXXL mencapai puncaknya ketika api cemburu membakar hubungan mereka. Pertengkaran itu membuatnya berfungsi secara autopilot untuk sekian waktu, hanya melakukan hal-hal yang sangat mendasar dan menghabiskan sisa energinya sekadar berusaha untuk tetap waras.

Pelatih pribadinya menunjukkan simpati dalam keadaannya itu. Dua jam mereka habiskan untuk cerita panjang tentang perselisihannya dengan pacarnya. Penjelasan sang pelatih membawa tokoh utama pada kesadaran mengenai sikap positif berlebihan (toxic positivity) dan sikap saling ketergantungannya (codependency) kepada pacarnya.

Aku rasa sejak awal dia takut kamu berhasil. Selama ini kamu sangat bergantung padanya. Apa pun yang dia katakan, kamu menurut. Kamu tidak punya siapa-siapa kecuali dia. Kamu selalu ada setiap dia butuh seseorang. Kamu selalu di sini, di apartemen ini. Mudah sekali baginya. Kamu juga butuh dia, dan itu mungkin membuatnya merasa menjadi pahlawan dalam hidupmu. (hlm. 125)

Sesaat, sang tokoh utama merasa lega atas penjelasan psikologis mengenai rasa kosong yang tiba-tiba mengisi dirinya. Dia merasa dipahami. Namun, semesta kembali mengejeknya, saat dia lantas menerima draf skenario rencana rekaman program XXXL-nya berikutnya, yang memintanya untuk mengulang adegan curhatnya dengan pelatih pribadinya. Dia merasa dikhianati dan untuk kali pertama merasakan betapa munafiknya realitas baru yang sedang ia hidupi itu. Dia baca kontrak pasal ke pasal dengan lebih teliti untuk mencari tahu apakah dia berhak menolak skenario tersebut. Pada akhirnya, pengambilan gambar tetap dilakukan karena dia lumpuh secara legal. Dalam tayangan itu, dia menangis, dan tangisnya masih disambut baik—orang-orang mengira bahwa dia masih menangisi pacarnya.

Sikap apatis rumah produksi tersebut dalam menindasnya dengan menggunakan cerita pribadinya sebagai bahan bakar cerita program tersebut menunjukkan apa yang telah dijabarkan oleh sang pengarang sebelumnya mengenai artikel opini yang terbit di harian nasional mengenai program tersebut (hlm. 117). Berjudul “Fattertainment dan Masyarakat Kita yang Sakit”, artikel itu ditulis seorang pemerhati isu media yang mengkritik tajam konten-konten media yang mengeksploitasi kehidupan pribadi atau kemalangan sesama manusia, menjadikannya komoditas tayangan, dengan contoh kasus orang-orang plus size demi sensasi untuk meningkatkan rating ataupun engagement di media sosial, artikel yang menjelaskan keseluruhan beban mental yang menyelimuti tokoh utama kita di sepanjang penceritaan novel ini.

 

Penutup

Lewat penceritaan sang tokoh yang menjadi tontonan reality show program XXXL itu, kita dibawa pada kesadaran bahwa isu obesitas ekstrem yang mengancam nyawa rupanya berkelindan pula dengan sejumlah persoalan kesehatan, kelas, konsumsi, industri makanan, hingga soal representasi tubuh, ekonomi perhatian, serta kesehatan mental. 

Problem individu mengungkapkan problem yang lebih struktural. Persoalan mengelola berat badan rupanya merupakan konsekuensi dari struktur ekonomi-politik yang perlu diselesaikan dalam tataran kebijakan—bukan sekadar cara seorang individu mengubah tubuh agar bisa tetap bertahan hidup. Pilihan sang tokoh untuk mengikuti ajang reality show menunjukkan institusi kesehatan yang gagal membantunya, sehingga dunia hiburan menjadi jalan keluar dengan syarat tubuh si tokoh utama kemudian menjadi tontonan. 

Barangkali, lewat pengambilan setting urban bagi kalangan kelas menengah sebagaimana digambarkan dalam novel ini, kita dapat mempertanyakan pula: kota seperti apa yang melahirkan tubuh tertentu? Berita-berita mengenai obesitas menunjukkan gaya hidup perkotaan memberikan latar geografis bagi suatu ritme kerja, mobilitas, konsumsi, negosiasi dengan waktu, relasi sosial, hingga akses warga penghuni kota tersebut terhadap makanan dan akses terhadap kesehatan. Selain karena faktor kelainan genetis yang diakui sang tokoh utama polycystic ovarian syndrome, kehidupannya yang berantakan dan tuntutan kerja yang gila—serta relasi percintaan berkarakter codependency dan menawarkan kesemuan sikap positif yang toksik—menjadi penyumbang terbesar tubuhnya yang mengalami obesitas ekstrem.

Kehidupan ronin ala pekerja lepas yang ia tempuh adalah bentuk kehidupan metropolitan yang di satu sisi menawarkan fleksibilitas kerja dan di sisi lain justru membawa ketidakpastian dalam soal pendapatan yang disertai dengan tekanan produktivitas, yang akan menghubungkan wacana novel ini dengan pembicaraan lebih dalam mengenai betapa prekariatnya masyarakat digital dengan jenis-jenis pekerjaan imaterialnya (baik kognitif maupun afektif) hari ini. Di sini, tubuh yang kemudian mengalami obesitas ekstrem itu digambarkan selalu berpacu dengan waktu—berhadapan dengan kota yang menuntut mobilitas, produktivitas, dan kecepatan. Tubuh sang tokoh bernegosiasi dengan karakter khas masyarakat perkotaan hari ini yang semakin membutuhkan manusia yang produktif, tetapi dengan keseharian yang justru semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar sehari-harinya. 

Menariknya, dalam novel ini, tubuh tersebut lantas diposisikan membahas kondisi sosial yang lebih kompleks. Narasi kecil yang membahas narasi besar dari persoalan struktural ini berangkat dari penceritaan sederhana yang membahas “hanya” satu tubuh.

Novel ini hanya mengulik satu kehidupan, satu pekerjaan lepas, satu pengalaman psikologis untuk mengungkap kaitan tubuh dengan struktur yang berukuran makro, suatu kapitalisme yang tampil dalam wujud tenggat pekerjaan (deadline), kerentanan sebagai pekerja lepas, makanan ultra-processed dan trauma masa kecilnya yang membuatnya “ketergantungan” dengan makanan, hingga ke realitas reality show dan industri ekonomi perhatian a la media sosial yang digandrungi masyarakat hari ini. 

Pertanyaan selanjutnya dari penggambaran realitas ini: apakah tubuh tokoh utama dalam cerita ini hanya bisa kita pandang berbicara mengenai pengalamannya sebagai individu atau bisa dianggap mewakili pengalaman orang-orang obesitas secara umum? Apakah novel ini hanya membahas permasalahan satu tokoh utamanya yang mengidap obesitas saja, ataukah juga turut menguliti persoalan struktural masyarakat?

Lebih dari setengah abad lalu, upaya mengangkat realitas sosial ke dalam cerita umumnya dilekatkan pada pengarang dengan ideologi kiri, karena karakter tulisannya yang memilih terlibat alias engage dalam persoalan masyarakat sehari-hari. Pada sejumlah organisasi kepengarangan, Lekra misalnya, ada pakem seperti Metode 1-5-1 maupun prinsip “Tiga Sama” (3 Sama) yang umumnya menjadi rumusan yang dijalankan oleh pengarang yang ingin dengan ketat menerapkan cerita bernuansa realisme sosialis. 

Belakangan waktu, bukan hanya soal metode pra-produksi, pengarang yang dengan bangga mendaku diri sebagai pengarang kiri agaknya dituntut untuk terlibat langsung dengan masyarakat yang ditulisnya. Apabila Lekra menggunakan istilah turba (turun ke bawah—meski istilah ini agak ganjil, karena turun akan selalu ke bawah—kita dapat pahami bahwa ini adalah semacam penegasan bagi kelas pengarang yang dipandang berada di posisi menengah agar dapat menuju ke bawahnya untuk melakukan semacam ‘bunuh diri kelas’), sejumlah metode kepengarangan belakangan menerapkan jurnalisme sastra naratif dan partisipatoris, atau bahkan jurnalisme imersif untuk turut terlibat. Juri sayembara novel DKJ bahkan pernah berseloroh menyebut istilah ‘sastra etnografis’ untuk menerangkan sejumlah cerita bergaya rural—meski entah pengarangnya betul-betul melakukan praktik etnografis atau tidak. Posisionalitas adalah kunci dari kepengarangan teks—baik dalam sastra maupun jurnalisme—yang melibatkan dirinya dengan persoalan sosial.

Format penceritaan novel ini setidaknya menjawab sejumlah pertanyaan turunan dari prinsip dan metode tersebut: jika memang novel ini hendak mengantarkan suatu realitas sosial masyarakat kapitalisme tingkat lanjut yang bahkan tergolong mengancam nyawa (obesitas ekstrem yang marak akibat junk food dan gaya hidup perkotaan), apa yang ingin disasar dari penceritaan novel ini? Kota dan relasi sosial seperti apa yang terjadi di antara karakter novel? Pola hidup seperti apa yang ditawarkan oleh novel ini kepada pembacanya? Hingga, bahkan, mungkin: kebijakan publik macam apa yang bisa dipengaruhi oleh terbitnya novel ini—meski hadir hanya dalam wujud mikrodemokrasi sebagaimana yang diterapkan dalam perbaikan hidup sang tokoh utama melalui program XXXL?

Kamu ingin menulis makanan sebagai sesuatu yang lain: makanan sebagai sumber penyakit, makanan yang dibuang-buang, makanan yang produksinya mencederai lingkungan, makanan produksi massal yang menggunakan banyak bahan artifisial untuk membuatnya awet selama bertahun-tahun, makanan yang mendapat cap bio tetapi didistribusikan ke mana-mana dan turut menyumbang emisi karbon, makanan yang disalahgunakan oleh tingkah laku abusif manusia, baik yang dilahap maupun yang ditolak secara berlebihan. 

Satu tahun kemudian, cerita ini selesai ditulis. Yang dibahas di cerita ini akhirnya lumayan melenceng dari cita-cita awalmu, tetapi tidak apa. Mungkin suatu saat kamu akan mencoba menulis lagi tentang makanan. Mungkin juga tidak. (Ucapan Terima Kasih)

Menariknya, jika biodata pengarang dan ucapan terima kasihnya dipandang sebagai satu-kesatuan yang memberikan tawaran biografis mengenai latar belakang kehadiran novel ini—meski sang pengarang tidak terafiliasi atau mendaku diri dalam suatu kelompok kepengarangan tertentu—pengarang dengan baik menjelaskan sejauh apa keterlibatannya dalam isu ini. Poin ini menjadikan novel ini bukan sekadar sebuah cerita bualan dan angan-angan kosong, melainkan sesuatu yang telah dihidupinya dan mengusik batinnya sebagai seorang pengarang. [*]

 

  1. Selain dianggap tidak mampu menjalani kehidupan dengan normal (seperti bekerja dan menjadi produktif), dalam novel ini tokoh dengan obesitas ekstrem kerap dianggap punya masalah kecerdasan, seperti yang tampak pada saat tokoh utama menjalani wawancara dengan Rumah Produksi Sagitarius pada bagian selanjutnya di novel ini, salah satu pewawancara dengan sengaja mengucapkan kata-kata dengan lambat, kata per kata, seakan-akan koma bertebaran di kalimatnya. [↩]
  2. Eksperimen-eksperimen ini, untuk seru-seruan saja sebetulnya, menjadikan BERAT tampaknya bisa berkarakter atau dikembangkan untuk mengadopsi genre Pilih Sendiri Petualanganmu (atau Choose your Own Adventure) seperti halnya yang pernah dilakukan Intan Paramaditha melalui Gentayangan, misalnya dengan membuat sejumlah kemungkinan berhasil-gagalnya pelaksanaan program reality show. Hanya saja, kerumitan penyajian substansi novel ini secara keseluruhan tampaknya telah membantu pengarang dengan rendah hati untuk tidak terlampau banyak bereksperimen lagi. Penerbit novel ini (baNANA publisher) tampaknya juga kurang “bermain-main” dalam eksperimen penyajian wujud sampul (meski saya sangat menghargai penerbit yang menggunakan ilustrasi oleh Nadya Noor, salah seorang ilustrator perempuan hebat di generasi saya), misalnya saja dengan membuat sampul yang memungkinkan buku ini tidak semata-mata ditempatkan di rak SASTRA / NOVEL, tetapi juga bisa ditempatkan di rak SELF HELP, sebagaimana buku-buku panduan hidup yang laku keras. Karena, barangkali, jalan ini bisa membantu novel ini “menemukan pembacanya yang lain”. Karena, barangkali, ada orang-orang obesitas ekstrem di luar sana yang lebih berharap menemukan buku ini di rak SELF HELP, alih-alih di rak SASTRA / NOVEL, yang sebetulnya menunjukkan kemampuan novel berdialog dengan zamannya. Judul BAGAIMANA CARA MENGURANGI BERAT BADAN sudah menjadi judul yang baik untuk mengecoh admin toko buku yang tidak teliti. [↩]
  3. Pergaulan dalam pekerjaan di ekosistem perusahaan perintis (startup) dan teman-teman Jaksel mengantarkan saya pada tontonan semacam Black Mirror Musim 1 Episode 2 “Fifteen Million Merits” kisah distopia tentang semua orang yang tinggal di ruangan berupa kotak sempit yang dikelilingi oleh layar raksasa dan dipaksa untuk terus menonton iklan serta program TV yang tidak bisa dilewati. [↩]
  4. Ditandai dengan ekspresi emoji love, like, dan sebagainya, ataupun betul-betul memperoleh bayaran lewat sejumlah situs web streaming ataupun medsos personal yang berubah menjadi semacam reality show. Motif cerita Black Mirror Musim 1 Episode 2 pun diulang beberapa kali dengan variasi berbeda dalam musim-musim berikutnya, seperti dalam Musim 2 Episode 2 “White Bear” dengan semua orang menatap layar ponsel sepanjang waktu, Musim 3 Episode 1 “Nosedive” saat semua orang hidup demi skor media sosial yang terus dipantau lewat layar ponsel dan implan mata mereka, Musim 3 Episode 6 “Hated in Nation” ketika publik menggunakan layar gawai untuk menghakimi secara massal di media sosial, hingga Musim 6 Episode 1 “Joan is Awful” saat seorang perempuan mendapati seluruh rahasia dan aktivitas buruknya langsung ditayangkan menjadi serial drama di layar TV streaming malam harinya. [↩]
  5. Semua informasi ini secara riil memindahkan tips hidup sehat ke dalam cerita, mengafirmasi sikap pengarang yang tampak bermain-main dalam pemilihan judul maupun cara dia mengemas novel ini. Jika novel ini benar-benar ditempatkan di rak khusus pengembangan diri, tentu tidak akan ada pihak yang merasa tertipu. [↩]

Dewi Kharisma Michellia, menulis novel, reportase, dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit di antaranya novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (2013) dan kumpulan cerita pendek Elegi (2017). Pada 2018, ia terlibat di kolektif Ruang Perempuan dan Tulisan. Pernah mendirikan penerbit indie berbasis di Yogyakarta, Penerbit OAK. Mengampu peran sebagai redaktur pelaksana untuk berbagai terbitan online sejak 2013, di antaranya jakartabeat.net dan jurnalruang.com, dan situs web kritik sastra tengara.id. Dia adalah anggota komite sastra Dewan Kesenian Jakarta periode kepengurusan 2023-2026.

Post a Comment

You don't have permission to register