Ketulusan dan Pengalaman Personal
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Saya selalu percaya jika puisi yang ditulis dengan ketulusan, entah bagaimana, akan mampu “menyentuh” perasaan pembacanya. Pembaca, meski tidak pernah mengalami, akan seolah-olah mengalami juga. Apa yang dirasakan, diucapkan, dikeluhkan aku lirik, pembaca seperti mengalami pula. Maka tidak heran jika kemudian meluncur ungkapan khas seorang pembaca: “Puisinya aku banget!”.
Namun, ketulusan saja tentu tidak cukup. Pemilihan kata dan bagaimana cara penyair menyusun kata demi kata sehingga mencipta larik dan bait adalah aspek yang membuat puisi terlihat jernih, tembus hingga ke tulang belakang. Puisi jadi terlihat spesial meski hanya menawarkan tema personal yang dianggap biasa saja.
Puisi-puisi Alfa Zain, saya kira, menuju ke sana.
Pada puisi “Kepada Senin” misalnya, Alfa Zain mengoptimalkan bahasa pada puisi untuk menyampaikan apa yang ingin “dikeluhkannya” saat menghadapi hari senin. “Kepada Senin” tergolong puisi pendek dan nyaris tanpa metafora. Namun larik terakhir pada puisi ini jadi semacam ‘keluhan bersama’, di mana sebagian pembaca tanpa sadar mengamini bahwa (kau) (di hari senin) berpura-pura bahwa hidup adalah hal yang masuk akal. Puisi “Kepada Senin” seolah mewakilkan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang juga merasakan malasnya menghadapi hari senin untuk bekerja.
Dan kau,
seperti biasa,
membuka mata,
menyalakan lampu kamar mandi,
dan berpura-pura bahwa hidup adalah hal yang masuk akal
Puisi lain yang masih serupa dengan puisi “Kepada Senin” adalah puisi “Ibadah Khaki”. Puisi yang menceritakan kehidupan aku lirik sebagai pegawai negeri.
…
Di kantor, kau duduk menghadap komputer
yang usianya lebih tua dari masa kerjamu.
Kau mengetik laporan dengan sisa tenaga,
Sebab kau tahu, menjadi pegawai negeri
adalah seni mengelola rindu pada rapel gaji
yang datangnya seperti jodoh dalam sinetron:
sering terlambat, tapi selalu bikin deg-degan.
….
Pada bait di atas, bisa dilihat bagaimana gambaran rutinitas yang dialami aku lirik, yang mungkin juga dialami oleh sebagian pembaca dengan profesi serupa. Menjadi pegawai negeri adalah seni mengelola rindu pada rapel gaji, seakan menjadi bahasa universal yang juga dirasakan sesama pegawai negeri.
Jika pada puisi “Kepada Senin” dan “Ibadah Khaki” aku lirik hanya menceritakan rutinitas keseharian, maka pada puisi “Kamus Kecil Tentang Kelelahan”, selain masih dengan “keluhan” dalam menjalani rutinitas, aku lirik sedikit cerewet untuk mengomentari kondisi sosial hari ini. Selain itu, jika pada puisi-puisi sebelumnya puisi terkesan polosan tanpa metafora, maka pada puisi “Kamus Kecil Tentang Kelelahan”, Alfa Zain coba memainkan metafora dan aforisme.
…
Kau pulang dengan punggung yang menyerupai
jilid buku yang hampir lepas. Dan
“Negara,” katamu sambil menutup sebuah novel,
“adalah sebuah teks yang penuh dengan kesalahan cetak.”
….
Kau pulang dengan punggung yang menyerupai jilid buku yang hampir lepas, jadi sebuah metafora kelelahan yang luar biasa, yang sangat mengena dan benar-benar mewakili wujud kelelahan itu. Sedangkan Negara adalah sebuah teks yang penuh dengan kesalahan cetak, jadi aforisme yang cantik sekaligus brutal dalam menggambarkan kondisi sebuah negara.
Beranjak pada puisi Alfa Zain yang lain, yang berjudul “Berdering”, Alfa Zain coba menjadikan kecelakaan KRL di stasiun Bekasi Timur bulan April lalu sebagai ide puisinya. Pada puisi “Berdering”, Alfa hanya mencuplik satu adegan, yang mungkin hanya dibayangkan, untuk dijadikan sebagai latar peristiwa tragedi mengenaskan itu. Puisi “Berdering” saya kira cukup berhasil menyampaikan kegetiran tragedi sebuah kecelakaan tanpa harus mengumbar banyak kata dan menceritakan peristiwa kecelakaan secara terbuka.
Tergeletak di antara reruntuhan
gerbong khusus perempuan.
Notifikasi terus masuk:
“Ma, kapan sampai?”
“Ma?”
….
Puisi ini juga jadi satu-satunya puisi yang keluar dari kehidupan personal, yang tidak melulu menceritakan “keluhan” pribadi Alfa Zain. Dari lima puisi, puisi “Berdering” bisa dikatakan sebagai satu-satunya puisi yang paling berjarak dari kehidupan Alfa Zain sebagai pegawai negeri. Sedangkan empat puisi lain, memiliki tema yang sangat dekat dengan pengalaman personal Alfa Zain sebagai pegawai negeri.
Pengalaman personal seorang penyair memang jadi sumur ide yang paling mudah ditimba untuk dijadikan sebuah atau bahkan ratusan puisi. Alfa Zain misalnya, sebagai seorang pegawai negeri, ia bisa terus mengelaborasi kehidupannya sebagai pegawai untuk ditulis sebagai puisi. Namun yang sulit adalah bagaimana cara penyair meramu pengalaman personal itu, yang terus berulang pada puisi-puisi yang ditulisnya, agar pembaca tidak bosan mendapati tema yang itu-itu saja.[]

