Ajian Welut Putih: Alur dan Penokohan
Sebuah cerpen, bagi saya, setidak-tidaknya mesti memberi kesan setelah pembacaan. Kesan yang bisa berarti banyak hal dan bermacam-macam: entah itu rasa penasaran, kepuasan, menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan, atau menimbulkan asumsi-asumsi “kenapa begitu? Kenapa bukan begini?”. Kesan semacam itu setidak-tidaknya lahir dari sebuah cerpen yang berhasil memanfaatkan ruang yang serba terbatas, sehingga tercipta alur yang bergalur atau terbentuk karakter tokoh yang kokoh.
Cerpen “Licin” karya A. Djoyo Mulyono saya pikir masih masuk dalam kriteria seperti itu.
Terdapat dua tokoh utama dalam cerpen “Licin”. Pertama Sarbendot sang cucu dan yang kedua Wa Dulalain sang kakek. Wa Dulalain seorang jawara yang malang melintang melewati masa-masa genting 1965, masa-masa petrus tahun 1980-an, hingga tewas di masa pandemi. Sementara Sarbendot hanya diterangkan sebagai cucu yang diasuh langsung oleh Wa Dulalain yang hanya bisa membanggakan kakeknya sebagai maestro dunia persilatan.
“Dua hari selepas jenazah kakeknya ditanam, Sarbendot banyak bercerita mengenai (kesaktian) Wa Dulalain. Ibarat seniman, mungkin kakeknya boleh disebut maestro di kalangan artis daerah. Hanya saja, ia maestro di dunia persilatan.
“Siapa yang tidak kenal dia: Wa Dulalain,” terang Sarbendot pada semuanya.
Beberapa orang yang mewakili hadir pada acara doa tujuh hari di rumahnya itu sepakat dengan apa yang dikatakan Sarbendot.”
Hubungan cucu dan kakek ini hanya diceritakan dari sudut pandang Sarbendot saja.
Premis utama cerpen “Licin” karya A. Djoyo Mulyono berdasar pada Ajian Welut Putih yang dimiliki Wa Dulalain. Ajian Welut Putih merupakan ilmu kanuragan yang membuat Wa Dulalain bisa menghilang dan sulit ditangkap.
Meskipun dikenal dengan mempunyai Ajian Welut Putih yang membuatnya sulit ditangkap, tapi kali ini ia benar-benar tertangkap. Sore hari, Dulalain dibekuk di salah satu gubuk sawah milik seorang haji.
“Katanya dia sakti, kok masih ditangkap?” tanya salah seorang pelanggan warung.
“Ia juga ya, jika dia sakti kenapa tidak dia gunakan ilmunya itu. Ah, payah.”
Malamnya, di salah satu warung berbeda, Dulalain terlihat masuk dan memesan satu teh bruk seperti biasanya. Dia juga memesan satu mangkuk mie pada pemilik warung, rupanya merapal Ajian Welut Putih dan melata di bawah tanah dari ruang tahanan membuatnya banyak mengeluarkan energi.
Cerpen “Licin” sangat bergantung pada karakter tokoh Wa Dulalain dengan Ajian Welut Putihnya. Seorang jawara yang digambarkan berwatak keras tapi sangat menyayangi istrinya. Tokoh yang menjadi benang merah dari berbagai peristiwa dan latar waktu penceritaan.
Saking bergantungnya cerpen ini pada karakter tokoh Wa Dulalain, pengaluran pada cerpen ini jadi berkesan tidak ‘penting’. Cerita selalu berpusing pada Wa Dulalain dengan Ajian Welut Putihnya. Selain memang, alur pada cerpen ini tergolong rentan. Catatan yang ditulis pada akhir cerpen, yang mengatakan bahwa cerpen ini ditulis dengan teknik fragmen episodik yang menghubungkan cerita dalam tiga masa: 1965, 1998, dan masa pandemi, justru jadi sumbat pada cerpen ini. Latar waktu yang berpindah-pindah dari berbagai masa malah membuat aliran cerita tersendat. Patahannya terlalu cepat dan kasar. Peristiwa pada tahun-tahun itu tidak menjadikan cerpen ini berbeda dan jauh lebih baik.
Ajian Welut Putih yang membuat cerita terus bergerak. Premis ini yang menyelamatkan cerpen ini sehingga layak dibaca.
Pada suatu hari, Sarbendot hendak diwariskan ilmu Ajian Welut Putih oleh sang kakek namun ditolaknya, yang kemudian disesalinya setelah kakeknya sekarat dan mati. Sarbendot menolak mewarisi Ajian Welut Putih karena diyakini akan sulit mati dan tidak ingin anak cucunya kelak mewarisi ilmu semacam itu.
“Hoek,” bunyi mulut Wa Dulalain dengan keadaan payah meriak. Dalam mulutnya yang setengah menganga itu, riak kuning kental menggumpal di lembaran lidahnya.
“Cepat buka mulutmu, Nang! Dengan menelan itu, kau mewarisi ilmu bapa tuamu.”
Sarbendot menolak untuk membuka mulut, ia terlampau jijik dan ragu. Ia mengira, keburukan cukup sampai di sini saja. Cukuplah bromocorah seperti kakeknya itu akan memutus sendiri ilmunya. Tidak seharusnya anak cucuku turut terseret penderitaan ini, pikir Sarbendot.
Penyesalan Sarbendot karena menolak mewarisi Ajian Welut Putih lebih meninggalkan kesan daripada beberapa informasi peristiwa masa lalu yang disisipkan dalam cerpen ini. Mungkin karena porsi peristiwa-peristiwa macam petrus atau wacana petani yang dipersenjatai hanya latar peristiwa yang tidak dielaborasi lebih dalam.
Jadi jika saya ditanya, apa yang paling berkesan setelah membaca cerpen “Licin” ini, tentu saja saya akan menjawab karena ilmu Ajian Welut Putih. Setelah membaca cerpen ini saya jadi bertanya-tanya apakah ada ilmu semacam ini? Ilmu yang membuat pemakainya licin dan mahir menghilang. Atau jangan-jangan saya yang ketinggalan jauh. Padahal sejak dulu sebagian pejabat di negeri ini sudah mengamalkannya sehingga licin seperti belut? *

