Perjalanan Mencari Ayam: Tentang Kehilangan

820 821 M. Aden Ma'ruf

Dalam hidup kehilangan adalah pasti. Setiap orang pernah mengalami kehilangan. Selama kita memiliki sesuatu, kehilangan adalah hantu yang selalu mengganggu pikiran.

Sekarang—bahkan ketika Anda membaca tulisan ini—bisa jadi kehilangan tengah menimpa seseorang. Tak peduli seseorang itu berada di mana, tua atau mudakah ia, kehilangan selalu ada. Bahkan, tangisan bayi bisa jadi penanda bayi mengalami kehilangan.

Kehilangan bisa dalam bentuk material dan mental. Keduanya saling berkaitan. Keduanya bisa terjadi dalam kurun waktu berdekatan. Sebagai contoh, seorang anak kecil kehilangan ayah dan kain atau selimut kesayangannya. Kehilangan itu membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang pendiam1.

Dalam beberapa konsep psikoanalisis Freud, kehilangan adalah unsur penting. Pada Oedipus-Complex, misalnya, kehadiran ayah membuat anak kehilangan cinta sang ibu. Untuk mendapatkannya lagi, si anak mesti bersaing dengan ayah.

Kehilangan begitu luas dan cenderung subjektif tergantung masing-masing orang. Kadar kehilangan seseorang berbeda. Kehilangan uang seratus ribu rupiah tentu bukan persoalan bagi orang kaya, tapi akan lain bagi si miskin.

Ketika Anda sedang berkumpul bersama teman-teman, kehilangan kerap jadi topik pembicaraan. Memang, kehilangan selalu menarik untuk diperdebatkan dan diperbincangkan.

Sastra sering merekam berbagai macam peristiwa kehilangan. Baik secara personal seperti kehilangan barang kesayangan maupun secara sosial seperti kehilangan seseorang. Itu menunjukkan kehilangan tak hanya menarik diperbincangkan, tapi juga dituliskan.

Tentang kehilangan bisa Anda nikmati dalam kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora, 2018). Hampir dalam setiap judul cerpen karya Armin Bell itu menampilkan kehilangan. Sejak judul cerpen pertama, kehilangan telah tersedia untuk Anda.

Cerpen “Perjalanan Mencari Ayam” adalah judul pertama yang sekaligus jadi judul kumpulan cerpen. Sejak dari judul, kehilangan bisa terbaca. Anda pasti membayangkan tokoh dalam cerita itu kehilangan ayam dan melakukan pencarian.

Jika Anda percaya, selamat. Anda baru saja terkecoh. Sedikit.

Tokoh utama cerita, Leon, memang kehilangan ayam pedaging yang memiliki sifat jago miliknya. Tapi, jauh sebelum itu ia juga kehilangan tokoh Daria, kekasihnya. Seperti kata peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nasib si tokoh utama.

Kehilangan bisa melahirkan kehilangan lain. Itu juga yang ingin disampaikan dalam cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”. Setelah kehilangan Daria, Leon harus kembali kehilangan ayamnya. Tak hanya sampai di situ, ketika Leon kehilangan sesuatu, hilang pula kebahagiaan seluruh kampung.

“Peristiwa Leon memeluk tiang di pos ronda sambil menangis adalah babak baru yang buruk. Bukan saja tak ada lagu-lagu Sheila on Seven, tetapi memang tak ada lagu apa pun. Sepi. Sepertinya semua orang telah larut dalam dukacita.” (Bell, 2018, hlm. 8)

Sebagai tokoh utama, Leon tak hanya terhubung dengan peristiwa kehilangan, tapi juga dengan kampung tempat tinggal Leon. Leon adalah penyanyi terbaik di pos ronda. Ketika ia sedang risau atau bersedih, kampung itu tiba-tiba menjadi kacau atau sepi.

“Bagaimanapun, Leon adalah seorang penyanyi terbaik di pos ronda sehingga wajahnya yang ditekuk akan membuat tempat itu menjadi sepi atau dipenuhi suara-suara fals dan lirik-lirik yang dinyanyikan sesuka hati.” (Bell, 2018, hlm. 6)

Untuk menghibur Leon dan mengembalikan semangatnya, teman-teman Leon memberikan seekor anak ayam. Leon demam karena tidak dapat menyalurkan kasih sayangnya, peristiwa ini berkaitan dengan konsep dari psikoanalisis Freud yaitu mekanisme pertahanan.

Cinta adalah bagian dari hasrat manusia. Kehilangan Daria membuat hasratnya tersendat. Untuk itu teman-temannya memberi Leon seekor anak ayam agar Leon bisa menyalurkan hasratnya dengan cara mengurus anak ayam itu sampai dewasa. Proses ini disebut sublimasi yang merupakan salah satu dari mekanisme pertahanan.

Sublimasi terjadi bila tindakan-tindakan yang bermanfaat secara sosial menggantikan perasaan tidak nyaman. Sublimasi sesungguhnya suatu bentuk pengalihan2. Dalam cerpen “Perjalanan Mencari Ayam” dorongan seksual tokoh Leon pada Daria dialihkan pada tindakan yang dapat diterima secara sosial yaitu mengurus anak ayam.

Meski tokoh Leon yang sedang dirundung kehilangan bertubi, cerpen ini didominasi peristiwa-peristiwa yang justru jarang membuat pembaca tersedu. Sebaliknya, tingkah polah para tokohnya membuat pembaca tergelak.

“Hebohlah seluruh kampung mendengar cerita derita Leon. Dia menuturkannya dengan air mata yang mengalir deras dan sepasang tangan memeluk tiang bambu di pos ronda.” (Bell, 2018, hlm. 2)

Berbeda dengan cerpen “Perjalanan Mencari Ayam”, cerpen “Kopi” tampil dengan permasalahan lain. Kehilangan yang terangkum dalam cerpen “Kopi” adalah tentang pembabatan kebun kopi milik petani dan kematian petani kopi di desa Ruteng.

Dalam cerpen ini pertentangan antar tokoh terasa lebih luas. Konflik antara rakyat dengan negara jadi isu yang ditawarkan cerpen ini. Kekejaman negara yang dihadirkan dalam bentuk penjaga perbatasan lahan negara dan rakyat menunjukkan kekejaman sekaligus kesewenang-wenangan negara terhadap rakyat. Itu pula yang memicu kehilangan-kehilangan dalam cerpen ini.

““INI HAK bapak. Bapak telah menanam, mereka akan segera dipanen. Ayo berjuang, hajar negara. Saya di sini mendukung perjuangan bapak,” demikian katanya berapi-api ketika itu, hari selasa pagi di Ruteng.” (Bell, 2018, hlm. 31)

Suasana kehilangan dalam cerpen ini cenderung lebih muram. Dialog dan penggambaran dalam cerpen berhasil membangun suasana itu.

“Ruteng akan selalu begini sepertinya bahkan ketika belahan bumi lain telah lama berubah suhu karena pemanasan global. Kopi juga tetap hitam, pekat, bukan merah meski darah pernah tumpah di atas batang-batang pohonnya yang ditebang karena merambah tapal batas hutan negara. Darah seorang petani yang berjuang melawan senjata dengan bongkah keberanian pada parang yang dibawanya sebagai senjata melawan bedil.” (Bell, 2018, hlm. 29)

Selain dua cerpen di atas, terdapat beberapa cerpen yang menampilkan kehilangan-kehilangan lain seperti “Hujan Satu Oktober”, “Radiogram”, dan masih banyak lagi. Tentu dalam 17 cerpen tidak semua membincangkan tentang kehilangan seperti “Hari-hari Ora yang diceritakan” dan “Ritual Kita”.

Baca juga:
Potret Buram India
Mengantar Tiga Saudari Ke Atas Pentas

Lewat gaya bercerita yang menarik dan setiap kejutan yang disiapkan Armin Bell, Perjalanan Mencari Ayam sangat menarik untuk dibaca, tak hanya pengagum kisah-kisah kehilangan. Anda akan berkenalan dengan tingkah polah tokoh yang membuat Anda tertawa dan iba secara bersamaan. Begitulah.[]

1Tokoh dalam film pendek The New Found karya Joko Anwar. Bisa diakses di https://www.youtube.com/watch?v=iSFpSSkltW8&index=3&list=PL5DxLKar3MyGUx_3WVg9xe1q0NMch3v9t

2Minderop, Albertine. (2010). Psikologi Sastra: Karya Sastra, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Kru buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf

Leave a Reply

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Kru buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf
error: