Menerka Gagasan Sajak

820 820 Adhimas Prasetyo

Preambul

Sajak merupakan bentuk riil dari gagasan penyairnya. Gagasan abstrak yang dikerdilkan oleh bentuk dan teknik kebahasaan. Hingga bentuk sajak sampai kepada pembaca, lalu pembaca menerka-nerka gagasan dan kesunyian dalam sajak tersebut.

Dalam esai ini, saya berupaya mengupas gagasan dalam sajak-sajak yang tayang di harian Kompas edisi 26 Mei 2018. Teknik dan isi gagasan dari Mashuri dan Adimas Immanuel cukup berbeda, maka saya harus membacanya dengan cara yang berlainan.

Tidak seperti sajak yang tayang di Kompas sebelumnya, sajak dari kedua penyair ini tidak secara dominan mengangkat narasi dari bentuk teks yang telah ada. Meskipun begitu, ada peranti puitik lain yang menguatkan sajak dari kedua penyair ini.
***
Terdapat lima sajak dari Mashuri, yaitu berjudul “Malam Berkumur Ombak”, “Pesta Terakhir”, “Wirid Karburator”, ”Munajat Kupu-kupu”, dan “Raja Cenayang”. Gagasan dari sajak-sajak Mashuri dapat dibilang tidak berkaitan satu sama lainnya. Namun, terdapat kecenderungan teknik puitik yang digunakan oleh Mashuri.

Agaknya Mashuri sebagai penyair secara sadar ingin menghindari pengungkapan bahasa yang klise. Oleh sebab itu, ia menghadirkan padanan-padanan bahasa yang terkesan abstrak. Misalnya sajak berjudul “Malam Berkumur Ombak”, berikut sajaknya,

Bila rembulan ditikam bayang ilalang
Di mana langit berbintang kusimpan
Jalan-jalan penuh lolong dan gonggongan
Cahaya karam di ujung sabit karatan

Aku berdoa dengan pelepah pisang
Segala mayang lelah sembahyang
Malam tak juga jinak
Terus berkumur ombak

Kelak ketika kutub-kutub melebur
Segala warna menghablurku debur
Cahaya mancur dari gelap kubur

 2018

Dari judul sajak, saya kurang bisa mengimajinasikan hal yang ingin disampaikan. Diksi malam merupakan nomina sebagai penanda waktu yang tidak memiliki bentuk konkret, maka ketika disandingkan dengan verba berkumur, bagaimana cara membayangkannya? Ditambah lagi ombak sebagai objek kalimat. Kita akan sulit menerka gagasan dalam sajak ini jika membacanya sekilas, maka saya coba membaca sajaknya secara utuh.

Bait pertama merupakan penyebab karena terdapat diksi bila dalam bila rembulan ditikam bayang ilalang. Setidaknya dalam bait pertama menghadirkan isotopi malam dengan diksi rembulan, berbintang, dan sebagainya. Malam yang hadir dalam bait ini merupakan malam yang kelam dengan adanya lolong dan gonggongan.

Bait selanjutnya merupakan akibat dari kondisi malam dalam bait pertama. Aku lirik berdoa dengan pelepah pisang, memang tidak lazim, namun hal ini menggambarkan ketidakmampuan aku lirik berdoa dengan layak. Dilanjutkan dengan larik Segala mayang lelah sembahyang/Malam tak juga jinak/Terus berkumur ombak. Saya menginterpretasi bait ini sebagai ketidakberdayaan aku lirik karena peristiwa yang berada di luar kendali dirinya.

Hingga pada bait terakhir, terdapat larik Cahaya mancur dari gelap kubur. Diksi cahaya memiliki konotasi sesuatu yang cerah, jalan keluar, harapan atau sebagainya. Cahaya tersebut hanya tersedia dalam gelap kubur. Mati hanyalah jalan keluar dari ketidakberdayaan aku lirik. Maka sajak “Malam Berkumur Ombak” dapat diinterpretasikan sebagai sebuah kondisi kekacauan tanpa adanya harapan.

Meskipun makna perkalimat yang cenderung gelap, impresi kelam terhadap peristiwa yang dialami aku lirik dapat kita rasakan. Selain itu, kecenderungan yang dominan dalam sajak ini adalah penghadiran kata-kata yang berima, hal ini memberikan kesan musikalitas saat membaca sajak.

Sajak lain dari Mashuri adalah “Wirid Karburator”. Sedari judul, sajak ini menarik perhatian karena menggunakan diksi yang tak lazim digunakan dalam puisi. Berikut isi sajaknya.

dalam kobar takbir bensin,
motor meraung di jejalan berbatu
: bersekutulah debu, asap, dan rindu!
kuungsikan oksigen ke haribaan
tabung logam
– dalam diam
sambil memintal harapan
dengan wirid karburator
dan zikir pendingin
– mengingatmu sambil nungging
tapi mesin hati masih hingar
detaknya berderak-derak dan barbar
oli ‘lah hilang daya lumasnya
seperti mimpi raib tuah jelajahnya

“apakah tarekatmu luka, Sepia.”

bumi ‘lah goncang dalam pacuan liar
di arena balap tanpa ijazah
pedal gas berdoa sebagai akar rumput
: injaklah daku, jangan dicabut!
speedometer bergunjing ihwal daging dan najis
tak ada suluk rem angin

bila nanti bodi mulusmu kalis dari sintuh tanah
dan parut kerikil
itulah bukti, kau malaikat cinta!
kuhirup berkahmu – meski jalur menanjak
kulafadkan namamu dalam riuh.

2018

Wirid merupakan puji-pujian terhadap Tuhan yang diujarkan berulang, biasanya orang-orang menggunakan tasbih atau ruang antarbuku jari untuk menghitung jumlah pujian. Dalam konteks sajak ini, karburatorlah yang melakukan wirid. Sajak ini terasa segar, karena mengawinkan dua hal yang tidak berkaitan secara langsung. Misalnya frasa kobar takbir bensin, zikir pendingin, speedometer bergunjing, dan lain-lain.

Dalam sajak ini, objek utama adalah mesin. Penyair berupaya menghadirkan personifikasi dari peristiwa yang dialami mesin-mesin tersebut. Sajak ini berhasil mengaitkan konteks-konteks kerja mesin dengan isotopi keagamaan.

Mashuri seakan berupaya menghadirkan sesuatu yang tidak biasa dengan cara-cara tersendiri. Begitu pun dengan sajak lainnya yang tayang di Kompas edisi kali ini. Jika membacanya sekilas, sajak Mashuri terkesan abstrak dan gelap, namun kita harus menekuni peristiwa dalam sajaknya sebelum mendapatkan gagasan penyair.
***
Penyair selanjutnya adalah Adimas Immanuel. Saat saya membaca dua sajak Adimas, yaitu “Sekolah Minggu” dan “Pada Sebuah Minggu Pagi”, awalnya saya mengira sajak tersebut hanya menggambarkan peribadatan di hari Minggu, khususnya yang dilakukan oleh umat nasrani. Namun di sajak terakhir yaitu “Saudara Seamin” terdapat dedikasi kepada Evan dan Nathan, dua anak yang menjadi korban kekejaman teroris. Maka ketika saya baca ulang dua sajak sebelumnya, saya mendapatkan interpretasi baru terkait konteks peristiwa aktual yang baru-baru ini terjadi.

Mari kita baca sajak “Pada Sebuah Minggu Pagi”.

Pada sebuah Minggu pagi
Kalender menggulung diri
Siapa mau diberkati
bisa segera mulai
sebelum waktu
mengunci 

Pada sebuah Minggu pagi
Lonceng tak dibunyikan
Paduan suara ditiadakan
Tak ada nyanyi puja-puji
Hanya sunyi
Isak sonder bunyi 

Dan tubuh-tubuh
yang menjelma puisi

Sajak ini menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Kurang-lebih sajak ini berkisah tentang peribadatan di hari Minggu yang urung diadakan (Tak ada nyanyi puja-puji) karena suatu hal yang menyedihkan (Isak sonder bunyi).

Pada bait pertama terdapat larik Kalender menggulung diri, larik ini dapat diinterpretasikan sebagai sesuatu yang telah berhenti, karena kalender sebagai penanggalan telah usai melakukan tugasnya. Sesuatu yang berhenti itu dapat dimaknai sebagai kematian. Pada bait terakhir tubuh-tubuh/yang menjelma puisi. Menjelma puisi, jika kita mengaitkan koherensi dengan bait sebelumnya, puisi dalam larik ini merupakan sebuah kesunyian, kemurungan, atau hal-hal yang masih menjadi misteri.

Seperti yang telah saya nyatakan di atas, sajak “Pada Sebuah Minggu Pagi” meskipun berdiri secara utuh, namun akan lebih kuat jika kita mengaitkan konteks sajak ini pada peristiwa yang terjadi, yaitu ulah terorisme yang menyebabkan orang-orang tidak berdosa meninggal.

Baca juga:
Kelas Sosial dalam Puisi Warih Wisatsana
Peranti Puitik Tiga Penyair

Konteks ini dijelaskan secara langsung dalam sajak “Saudara Seamin”. Dedikasi sajak kepada Evan dan Nathan menjadi kunci untuk mendalami konteks. Berikut ini sajaknya.

“Hari ini firman apa
yang ingin kalian dengar?”

Tanya Guru Sekolah Minggu
yang tidak digubris oleh kami
Kami tetaplah anak-anak
yang suka bermain-main
dengan nasib kami sendiri
abai pada saudara senegeri. 

Guru Sekolah Minggu tersenyum
dan kembali mengulang tanya:
“Hari ini firman apa
yang ingin kalian dengar?”

Kami tetap tak menjawab.
Kami tetaplah anak-anak yang
berlomba mengeja masa depan
menolak didikte ekonomi
guyon politik sepanjang hari
pamer iman baru sesekali
sambil sebar hoax tak peduli.

Guru Sekolah Minggu mendekat
dan lembut berujar kepada kami:
“Jika begitu, kali ini biarlah kita
kedatangan murid baru yang rindu
mendengarkan firmanKu. Jangan
halangi dua saudara seamin itu
datang kepadaKu. Sebab merekalah
empunya kerajaan Surga.”

Hari ini sepasang kakak-beradik
telah menjadi firman (juga teguran)
yang dengan pedih mesti kami dengar.

Sajak ini berkisah tentang anak-anak yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, yang suka bermain-main/dengan nasib kami sendiri/abai pada saudara senegeri dan berlomba mengeja masa depan/menolak didikte ekonomi/guyon politik sepanjang hari/pamer iman baru sesekali/sambil sebar hoax tak peduli. Namun sang pemberi firman mengabarkan suatu hal yang memilukan, dua orang bersaudara yang musti berpulang (… Jangan/halangi dua saudara seamin itu/datang kepadaKu).

Saudara seamin merupakan permainan frasa dari istilah yang sering didengar di masyarakat yaitu saudara seiman. Diksi amin biasa kita dengar sebagai jawaban pengharapan dari doa. Maka saudara seamin dapat diinterpretasikan sebagai saudara dengan harapan yang sama.

Maka sudah seharusnya kehilangan dari kakak-beradik mendiang Vincentius Evan dan Nathael Ethan adalah peristiwa yang harus kita renungkan. Tentu bagi umat manusia, apapun kepercayaannya. Karena kita semua memiliki pengharapan yang sama, yaitu kedamaian.[]

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, Redaktur Bukakoran Buruan.co. Penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo

Leave a Reply

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, Redaktur Bukakoran Buruan.co. Penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
error: