Barasuara: Makna Mana yang Kita Bela?

702 336 Dedi Sahara

Nietzsche pernah mengatakan bahwa, “Without music, life would be a mistake.” Ya, tanpa musik hidup hanyalah kekeliruan, bahkan kering. Betapa pentingnya peran musik bagi kehidupan kita ini. Sebab melalui musiklah kita bisa dibuat bersemangat dan berbahagia, bahkan melankolia akan masa lalu yang indah. Namun, selain memiliki fungsi hiburan seperti itu, musik juga bisa dijadikan media perlawanan terhadap ketidakadilan politik. Melalui kata-kata yang hadir dalam setiap lirik lagunya, kita bisa dibikin melek sama kondisi sosial-politik-budaya. Band-band indie generasi lawas maupun yang muda-muda telah menunjukkan hal itu. Misalnya Homicide, Efek Rumah Kaca, Melancholic Bitch, Frau, dan salah satunya Barasuara.

Barasuara, band asal Jakarta yang menjelang akhir tahun lalu, 16 Oktober 2015, telah meluncurkan album perdananya Taifun dalam versi digital. Kemudian, setelah menggelar konser tunggal pada 22 Oktober 2015, rilisan album fisiknya segera didistribusikan oleh label Demajors. Album ini langsung membuat publik terkagum-kagum. Salah satu web musik terkenal rollingstone.co.id mengatakan bahwa keterkaguman pada album Taifun tidak hanya datang dari kalangan penikmat musik saja, tetapi  dari para musisi terkenal juga, salah satunya dari musisi jazz, komposer, sekaligus produser terkenal Indra Lesmana.

Barasuara yang terdiri dari Iga Massardi (vokal, gitar), Asterika (vokal), Puti Chitara (vokal), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bas), dan Marco Steffiano (drum), memang menawarkan konsep musik yang sangat beragam sehingga mampu membius kita dalam setiap alunan lagunya. Nuansa psychedelic, rock, folk, blues, dan jazz hadir dalam setiap aransemen lagunya. Tapi selain konsep musiknya yang keren, liriknya juga tak kalah keren. Kata-kata yang hadir dalam lirik lagunya pun sangat puitis seperti puisi-puisi para pujangga, penuh dengan bahasa kiasan (alegoris).

Selain itu, lirik-lirik lagu yang dibuat oleh Iga Masardi—yang juga telah dikenal lebih dulu bersama The Trees and The Wild, Tika & The Dissidents, dan Soulvibe—juga memiliki makna yang sangat mendalam. Tema yang diangkat oleh Iga sangat beragam dan tentunya sangat relevan dengan kondisi saat ini. Misalnya pada lagu yang berujudul “Hagia” yang menceritakan tentang kebebasan beragama, ini kutipan liriknya:

Sempurna yang kau puja
dan ayat-ayat yang kau baca

Tak kurasa berbeda

kita bebas untuk percaya

(Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami)

Lirik di atas sebenarnya sangat sesuai dengan kondisi saat ini yang marak dengan fanatisme atau fundamentalisme agama. Sikap fanatik ini cenderung menghasilkan tindakan diskriminasi pada suatu golongan tertentu dan terkadang berakhir pada bentuk kekerasan fisik seperti bom bunuh diri. Hal itu terjadi disebabkan oleh minimnya pemahaman agama masyarakat kita, sehingga sangat mudah dipengaruhi oleh ideologi-ideologi radikal yang diimpor dari luar negeri. Ironinya ideologi-ideologi tersebut sebenarnya sangat jauh dari ajaran agama yang mengajarkan sikap toleransi dan cinta kasih kepada sesama mahluk hidup di bumi ini. Rasa toleransi dan cinta kasih inilah yang tersirat dan tersurat dalam lirik lagu di atas.

Namun, selain memiliki pesan moral yang dalam, Iga pun sangat pandai dalam memilih diksi juga permainan bunyi. Seperti halnya pemberian judul “Hagia” yang memang sangat unik bagi kita. Kata “Hagia” ini sebenarnya memiliki banyak arti dari berbagai asal bahasa. Misalnya dalam bahasa Jepang Hagia berarti bintang, sementara dalam bahasa Ibrani Hagia berarti tiba atau festival. Hanya saja secara etimologi kata Hagia berasal dari kata Yunani yaitu Sancta Shopia (Aγια Σοφία) yang berarti “Kebijaksanaan Suci”, sedangkan dalam bahasa Turki Hagia dikenal dangan kata Aya Sofya yang juga berarti “Kebijaksanaan Suci”.

Dari sekian banyaknya arti kata itu, mungkin yang lebih meyakinkan kita adalah kata Yunani dan Turki yaitu “Kebijaksanaan Suci”. Jika kata Hagia ini mengacu pada Hagia Sophia; sebuah bangunan bekas basilika, mesjid, dan sekarang menjadi meseum di Istanbul. Memang sangat relevan dengan tema kebebasan beragama dalam lirik lagu itu. Sebab Hagia Shopia adalah perlambangan dari sejarah yang panjang yang mempertemukan ketiga agama besar Yahudi, Kristen, dan Islam, juga pertemuan kebudayaan yang berbeda antara Yunani Kuno, Romawi dan Islam pada zaman ke khalifahan Turki Utsmani. Sehingga makna yang ingin disampaikan pada lirik lagu “Hagia” oleh Iga dengan Barasuara-nya pun sangat mendalam dan berkesan.

Terlebih lagi, dengan adanya runtutan bunyi pada setiap frasa atau klausa dari larik lagu “Hagia”, yang memang cukup ampuh memberikan efek puitik. Bunyi-bunyi vokal seperti /a/, /i/, /u/, misalkan dalam larik /Sempurna yang kau puja/, /dan ayat-ayat yang kau baca/, /tak terasa berbeda/, /kita bebas untuk percaya/ bertemu dengan bunyi konsonan sengau seperti /m/, /n/, dan /ng/ memberi kesan merdu atau efoni. Sementara bunyi-bunyi vokal /a/, /i/, /e/, dan /u/, ketika bertemu dengan kombinasi bunyi konsonan yang sangat dominan seperti /b/, /p/, /r/, /s/, /t/, dan /k/ memberi kesan parau atau kakafoni. Kombinasi bunyi pada larik itu lebih banyak didominasi oleh bunyi konsonan yang membentuk suatu kombinasi bunyi aliterasi. Pengulang bunyi aliterasi seperti /b/, /r/, /t/ dan /k/, pada setiap frasa atau klausa tersebut cenderung memberikan kesan yang sangat parau, muram, sedih, pedih, dan luka. Suasana muram, sedih, dan luka ini semakin kuat ketika diiringi dengan instrumen musik yang berbentuk refrain seperti sebuah vokal dalam gereja.

Tak hanya di situ, Iga pun melangkah lebih jauh lagi dalam mengkritik realitas. Pada lagu yang berjudul “Bahas Bahasa”, Iga menunjukan sikapnya yang kritis dan pandai dalam merangkai kata. Mungkin hal itu tidak terlepas dari pengaruh ayahnya yang juga seorang penyair ternama Indonesia yaitu Yudhistira ANM Massardi. Dalam lagu yang berjudul “Bahas Bahasa” yang dibalut dengan nuansa folk etnik Tionghoa, secara sepintas akan mengingatkan kita dengan tradisi post-modernisme yang menganggap bahwa realitas atau kebenaran adalah efek dari bahasa. Salah satu larik yang menunjukan hal itu misalnya pada klausa “makna-makna dalam aksara, makna mana yang kita bela”. Hanya saja jika kita pahami secara utuh, setiap kata atau frasa yang hadir dalam lirik lagu “Bahas Bahasa”, sebenarnya memiliki makna yang sangat kompleks. Ini kutipan lariknya:

O! Itu tak kau lihat, tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa

Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa

Makna-makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela

Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu

Sepintas saja kita bisa langsung menyimpulkan bahwa kata ‘kau’ yang hadir dalam lirik lagu itu ditunjukkan untuk kita. Tapi apakah benar demikian? Jika benar, siapa yang harus kita lihat? Diri kita sendirikah atau kau yang lain? Sementara pada larik lagu itu memperlihatkan jukstaposisi yang sangat ekstrim. Kata ‘peluh’ dan ‘peluru’ menjadi padanan kata yang sangat timpang. Jika kau yang dimaksud adalah kita, ya kita semua yang membacanya, lalu “peluh dan peluru” siapa yang harus kita lihat? Kata ‘peluh’ dalam semiotika bisa berarti melambangkan kehidupan, kerja keras, dan perjuangan.

Kata ‘peluru’ bisa melambangkan rasa sakit, peperangan, perjuangan, ancaman, atau bahkan kematian. Peluh sangat identik dengan manusia, akan tetapi manusia yang mana? Memang semua manusia bisa berpeluh atau berkeringat, jika tidak seperti itu bisa dikatakan tidak sehat atau tidak normal. Hanya saja jika melihat padanan kata dari larik kedua itu, “peluh” bisa menjadi representasi dari rakyat kecil: tukang becak, pedagang batagor, petani, dan buruh pabrik. Sedangkan peluru bisa diidentikan dengan birokrat, pengusaha, atau aparatus negara: presiden, mentri, pengacara, polisi, tentara, dan juga pemilik modal yang memiliki senjata juga payung hukum.

Hanya rakyat kecil seperti petani dan buruhlah yang selalu berpeluh kesah disebabkan harus kerja banting tulang untuk sekadar bertahan hidup. Serta hanya para pemilik modal dan politisi koruplah yang bisa bekerja tanpa harus berpeluh dan banting tulang, yang hanya mampu memerintah dan menghisap kerja berlebih dari para petani dan buruh. Negara yang korup dan para kapitalis adalah ancaman bagi rakyat kecil. Maka dalam lirik lagu di atas kata ‘kau’ sebenarnya ditunjukkan kepada para elit politik dan para pemilik modal.  /Itu, tak kau lihat/, /tak kau ragu/, /peluh dan  peluru/, /hujam memburu/, larik itu dapat diartikan bahwa para elit politik yang berkuasa di kursi pemerintahan sana atau kelas menengah seperti kita, misalnya, dipaksa melihat kondisi rakyatnya yang tanpa ragu selalu berpeluh kesah dan terancam (peluru) dari kematian, kelaparan, dan penindasan oleh negara yang melindungi kepentingan kelas kapitalis.

Selanjutnya pada frasa /bahasamu bahasa bahasanya/, /lihat kau bicara/, /dengan siapa/, memiliki arti bahwa bahasa kaum elit politik adalah membahas bahasa (suara) rakyatnya maka lihat kau bicara dengan siapa, yaitu dengan rakyat! Kata bahasa melambangkan suara, pengetahuan, gagasan, atau budaya. Sementara seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa kata ‘kau’ mengacu pada kaum politisi atau negara yang diperintah untuk melihat rakyatnya yang berpeluh kesah dan terancam. Lalu kata “nya” pada kata “bahasa-nya” ditujukan untuk rakyat.

Sementara, selama ini para politisi korup itu hanya berbicara seperti lidah yang berlari tanpa henti dan tanpa disadari sebenarnya tak ada arti. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan partainya, tidak pernah mau mendengarkan dan membela kepentingan rakyatnya. Maka makna mana yang kita bela? Apakah rakyat miskin atau diri sendiri? Sampai pada larik itu Iga mencoba memberikan resolusi kepada kita yang berarti kita semua: entah rakyat miskin itu sendiri, kelas menengah, dan tentunya para politisi partai. Lalu, kita pun akan berseru makna mana, kebenaran yang mana, yang akan kita bela? Itu semua Anda sendiri yang tahu![]

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Penulis partikelir. Gemar mengamati perkembangan musik indie.

All stories by:Dedi Sahara
3 comments
  • Ariesusduabelas 5 Januari 2017 at 20:43

    Artikel ini bagus betul. Lirik yang Barasuara buat memang padat makna. Tak salah ini Taifun jadi album favorit saya hingga sekarang.

  • Nice writing.. Lirik barasuara bisa dianalisa dengan mendalam.. Jd lebih bisa menghayati musiknya. Terima kasih.. 🙂

  • wah keren banget penjelasannya, saya sependapat dengan makna Hagia pada Hagia Sophia dan kerekunan umat beragama dalam simbol bangunan universal itu. Terima kasih. keren

Leave a Reply

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Penulis partikelir. Gemar mengamati perkembangan musik indie.

All stories by:Dedi Sahara
error: