Fb. In. Tw.
Hadi Rahman, berfoto setengah badan menggunakan kemeja merah dan latar merah.

Letang

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Kedatangan seorang pria di muka gerbang acara, membuyarkan pesta pernikahan yang khidmat, yang dilangsungkan setelah panen besar seminggu lalu. Kedua pengantin yang sedang melakukan ritual paper berdiri untuk melihat siapa gerangan tamu yang mencuri perhatian sekalian tamu kondangan.

Pria itu berdiri dengan parang masih tersulut di pinggang dan rotan yang digulung sekian depa di bahunya. Kumis dan janggutnya yang ia biarkan memanjang tidak bisa menyembunyikan identitas aslinya, di mata sang pengantin perempuan yang berteriak histeris lalu berlari menghambur kepadanya.

Nara Danum melompat dari atas panggung bambu, ibunya berteriak marah memintanya diam di tempat namun perempuan itu tidak menghiraukannya. Ihsan Mubil, pengantin laki-laki itu menatap nanar kepada ayah Nara Danum yang mematung tak percaya, ia ingat jelas akan janji mereka berdua sedekade lalu dengan Lias.

Nara Danum terisak, ia limbung bersama pria misterius itu yang hanya diam di depan gerbang acara. Sebagian tamu bergegas menghampiri keduanya sementara sisanya mulai berbisik-bisik siapa gerangan pria tersebut.

Letang dan Liang Lutuk dahulunya adalah dua pengati yang sering sama-sama masuk ke dalam hutan. Mereka memburu Murai dan Kacer yang harganya mahal jika dijual kepada saudagar keturunan Tionghoa di kampung sebelah. Ah Liem, pedagang rotan kaya yang punya dua kapal, ia memperistri seorang perempuan di Hulu Sungai dan mendirikan toko di sana. Dari pernikahannya selama dua puluh tahun itu, lahirlah Nara Danum yang jelita.

Letang dan Liang Lutuk pertama kali datang ke Hulu Sungai saat acara Nutuk Bahapm dimulai, bersama pemuda-pemuda dari kampungnya. Sebagaimana tradisi gotong royong antar kampung, mereka berniat hendak membantu menugal sekaligus menjual burung-burung hasil tangkapan mereka kepada Ah Liem.

Di tengah lahan yang menghitam, penuh abu Letang melihat seorang gadis muda yang sibuk menugal di antara ramainya orang-orang yang datang. Lama sekali Letang memandangnya lekat-lekat, sampai kedua mata mereka saling berjumpa. Merasa malu, Letang memutuskan untuk tak lagi menoleh sampai saat senja mereka bersama-sama pergi ke tepian sungai untuk membersihkan kaki. Dari balik batang kayu besar yang menjadi pembatas antar perempuan dan lelaki. Letang menelan ketakutannya dan mengajak gadis itu berkenalan.

“Nara Danum, Kak Letang bisa memanggilku Danum.”

Sejak itu, Letang semakin rajin meng-ati ke dalam hutan, tak ragu ia panjat Puti, Jengan, Meranti yang tingginya tak main-main untuk memasang pulut burung. Semakin sering pulalah ia berangkat sendirian ke Hulu Sungai.

Sampai suatu hari salah satu kapal Ah Liem tenggelam dalam pusaran riam di Hulu Mahakam. Sang saudagar itu tenggelam bersama anak buahnya beserta belasan ton rotan dan getah damar yang ia beli dari Datah Bilang. Sejak itu, Nara Danum sering menunjukkan wajah murungnya saat berjumpa dengan Letang.

“Ibuku memiliki kekasih,” ucapnya saat senja di barisan meranti tua yang menjorok ke sungai.

“Secepat itu?” Letang menghentikan gerakannya melepaskan tali tambat perahunya.

“Sebenarnya sudah lama, sejak ayah sering berpergian ke Hulu Mahakam.”

“Kenapa tidak kau adukan pada ayahmu saat itu?”

Nara Danum diam tidak menjawab, Letang tahu gadis itu menyembunyikan sesuatu darinya. Ia mengetahui segalanya tentang kekasihnya itu. Termasuk pandangan dari mata sendu yang ia alihkan ke kaki-kaki mungilnya itu.

“Ada apa, Danum?”

“Tidak apa, Kak Letang.”

Letang kembali bertanya, “lantas kepada dirimu tidak beritahu ayahmu perihal selingkuhan ibumu itu, Danum?”

“Karena aku takut nanti tidak bisa berjumpa dengan dirimu lagi, Kak Letang.”

Letang mengernyitkan dahinya, ia bingung harus bereaksi seperti apa sebab Nara Danum meninggalkannya sendirian di tepi sungai. Sebulan kemudian, ia dengar jika ibu Nara Danum menikahi seorang lelaki muda.

“Letang, mari meng-ati,” ajak Liang Lutuk.

Letang menolak, ia ingin bergegas ke Hulu Sungai untuk menemui Nara Danum. Ia yakin gadis muda itu tengah bersedih dengan berita pernikahan ibunya. Tetapi, Liang Letuk meyakinkannya untuk memasang pulut lebih dahulu. Membawa sekalian burung-burung untuk dijual, guna membelikan hadiah kepada Nara Danum yang tengah bersedih.

“Ah Liem sudah meninggal, siapa lagi yang akan membeli burung-burung itu di Hulu Sungai?” tanya Letang.

“Tenang saja, aku punya kenalan pedagang yang juga menyukai burung hias dari Hilir Sungai, namanya Ihsan Mubil dan ia salah satu kolega Ah Liem semasa hidup, jadi ia sering singgah di Hulu Sungai,” jawab Liang Lutuk dengan wajah serius.

Akhirnya, Letang setuju dan keduanya berangkat pagi hari. Memasuki hutan belukar, Liang Lutuk membawa Letang ke tempat biasanya mereka memasang pulut burung. Di hutan itu, Letang nyaris menghafal setiap belukar dan pohon yang ada. Namun, saat terus menuju timur Liang Lutuk mengajak Letang untuk memasang pulut di sebuah pohon yang tak pernah mereka panjat.

“Yakin? Pohon Meranti ini tidak pernah kita panjat,”

“Seminggu lalu, aku dengar suara Murai dari puncaknya.”

Keduanya memanjat lewat sulur-sulur kayu yang saling membelit Meranti, perlahan tapi pasti mereka sampai di dahan pertama. Liang Lutuk tak berhenti di dahan itu, ia terus naik karena sejatinya Murai memang menyukai dahan-dahan tertinggi suatu pohon. Letang sendiri duduk di dahan pertama, ia mengikat pinggangnya dengan tali rotan yang terhubung ke salah satu sulur untuk menjaganya agar tidak jatuh. Ia membuka wadah pulut, membiarkan aroma pahitnya mengudara. Lalu membaluri cairan lengket dari getah karet itu ke sebatang kayu seukuran ibu jari. Setelah memastikan kayu itu terbaluri sempurna, Letang mengoper kayu itu kepada Liang Lutuk yang ada tiga dahan di atasnya.

Liang Lutuk membuka ikatan bambu yang ia gendong sejak tadi. Di dalamnya ada seekor burung Murai betina sebagai pancingan. Ia mengikat kaki burung itu dengan tali dari kulit kayu, menaruhnya tidak jauh dari kayu yang dibaluri pulut tadi. Liang Lutuk memeluk dahan dan menggeser tubuhnya perlahan ke ujung dahan yang kecil, di sana ia memasang perangkapnya dan saat hendak kembali, naas tangannya tergelincir lumut yang tumbuh subur di batang kayu yang jarang menerima cahaya matahari langsung.

Pegangannya lepas, Liang Lutuk jatuh. Ia terjun bebas ke bawah, melewati Letang yang berusaha meraihnya. Tiada Letang sangka, Liang Lutuk ceroboh tidak mengikatkan tali rotan di sulur kayu. Suara debuman keras diiringi teriakan kesakitan di bawah sana, membuat Letang bergegas turun.

Saat bergelayutan di sulur-sulur kayu, mata Letang melihat seekor monyet besar yang duduk di salah satu batang kayu dibawahnya. Monyet itu duduk sambil memandang Letang yang turun tergesa-gesa, tidak sadar ia salah meraih salah satu sulur muda yang tak mampu menopang berat badannya. Letang langsung jatuh, menyusul Liang Lutuk.

Beruntung, ia jatuh dari ketinggian yang tak seberapa. Namun, dadanya sesak sesaat, pinggangnya menjerit, ia meringis. Ia coba melihat di mana Liang Lutuk berada sekarang, meski kesakitan ia merasa dirinya masih baik-baik saja dibandingkan Liang Lutuk.

Namun, di bawah sana di antara dedaunan kering dan semak belukar tidak ia temui Liang Lutuk. Letang berteriak memanggil kawannya itu, namun tidak ada jawaban selain suara serangga dan gemersik dedaunan. Susah payah ia merangkak mengitari Meranti itu, namun tetap nihil. Di tengah rimba itu, hanya ada dirinya seorang, Liang Lutuk hilang sementara Letang kehilangan kesadaran.

Jauh di hulu, Ihsan Mubil datang dengan kapal besarnya. Merapat ke dermaga membawa banyak rotan dan getah damar. Istri Ah Liem menyambut kedatangannya sambil bergelayutan di tangan seorang pria yang jauh lebih muda dibandingkan dirinya.

Pria itu menyalami Ihsan Mubil dengan senyum sumringah, “Danum, beri salam kepada calon suamimu.”

Nara Danum yang ada di dekatnya tidak menyambut uluran tangan Ihsan Mubil, ia menggeleng meski ibunya ikut menegur gadis itu beberapa kali. Ihsan Mubil terus mempertahankan senyumannya, meski jelas dari raut wajahnya ia kesal dengan perlakuan Nara Danum kepadanya.

Mereka akhirnya menyusuri dermaga, membahas pernikahan antara Nara Danum dan Ihsan Mubil, namun Danum menentangnya dengan keras. Ia menolak makan dan minum, bahkan mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak ingin bertemu siapapun, kecuali Letang yang selalu terucap dari bibirnya.

“Bagaimana Liang Lutuk? Danum masih menolakku dan menginginkan Letang,” ucap Ihsan Mubil.

“Berusahalah lebih keras Ihsan Mubil! Aku yakin perlahan-lahan gadis itu akan luluh padamu, terlebih Letang sudah tak pulang lebih dari tiga bulan,” jawab Liang Lutuk, ayah tiri Nara Danum.

“Berarti perjanjian kita dengan Lias itu berhasil?”

“Tentu saja! Letang pasti sudah mati di dalam rimba, hantu itu pandai menyesatkan orang.”

Ihsan Mubil semakin semangat untuk datang menarik hati Nara Danum. Ia datang setiap hari, bahkan membangun rumah di Hulu Sungai. Menemani Danum yang duduk setiap senja di teras kamarnya, konon menunggu Letang kembali. Tak putus asa Ihsan Mubil menunggu pujaan hatinya itu, ia telah jatuh cinta pada Danum sejak remaja. Ayahnya dan Ah Liem adalah teman dekat yang sama-sama berasal dari kota, merantau dan merintis usaha meski di dua kampung yang berbeda.

Sedekade sudah Ihsan Mubil menunggu, Danum akhirnya akhirnya luluh. Meski hatinya masih benci, ia tahu Letang mungkin tak kembali lagi. Akhirnya meski terpaksa Danum menerima pinangan Ihsan Mabul yang melompat dari teras rumah saking bahagianya.

Pernikahan mereka hendaknya segera dilaksanakan, namun Danum memilih untuk melangsungkannya selepas Nutuk Bahapm. Karenanya pesta panen tahun ini dirayakan dengan meriah atas sumbangan dana Ihsan Mubil. Biduan terkenal diundang, tujuh kerbau dipotong, hampir sekecamatan orang-orang diundang. Pesta meriah, orang-orang makan dan minum dengan wajah bersuka cita, Liang Lutuk tersenyum puas, perusahaan kapalnya akan bertambah besar. Ihsan Mubil berjanji akan memberikannya dua kapal baru jika ia berhasil membantunya menikahi Nara Danum, meski itu berarti menyingkirkan kawannya sendiri.

Ritual paper yang ditunggu-tunggu harusnya sudah selesai sejak tadi. Jika saja mereka tidak kedatangan seorang tamu yang membuyarkan acara. Liang Lutuk memucat, ia tahu benar siapa yang Nara Danum peluk sambil menangis itu, meski di pandangannya pria itu berbulu lebat bagaikan monyet.

Pria itu menunjuknya, matanya memandang tajam kepada Liang Lutuk, Nara Danum menangis sampai sesak napas, Ihsan Mubil melompat mencoba menyelamatkan calon istrinya.

Sementara, Liang Lutuk berteriak. Wajahnya seputih kapas, ia mengoyangkan tubuh setiap orang yang ada di atas panggung.

“Usir dia!”

“Monyet! Usir hantu monyet itu! Jangan sampai ia menangkapku!”

Hadi Rahman adalah seorang seniman dan penulis lintas disiplin dari Kutai Barat, Kalimantan Timur. Karyanya menyoroti isu-isu kelokalan, mitologi, cerita rakyat, dan kritik ekologi yang ada di Katim. Saat ini sedang menempuh pendidikan psikologi di salah satu universitas di Samarinda dan juga sebagai ilustrator paruh waktu. Saat ini ia juga bergiat di dalam Komune TerAksara Indonesia yang berfokus pada pendidikan literasi masyarakat lokal dan sastra interdisplin.

Post a Comment

You don't have permission to register