PUISI-PUISI VINA KHAIRUNISA
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Menjahit Keluarga
Aku pernah menjahit keluarga ini
dengan benang yang kupungut
dari lantai ruang tamu.
Kusambungkan bapak pada ibu,
ibu pada anak,
anak pada meja makan.
Namun gunting di kepala bapak
terlalu tajam. Setiap malam tiba,
ia potong obrolan jadi remah-remah sepi.
Ibu coba menambalnya dengan air mata,
tapi lubangnya terlanjur lebih besar
dari sisa usia mereka.
Kusambung pertengkaran dengan diam.
Kusambung diam dengan harapan.
Beberapa jahitan masih bertahan
di bingkai foto keluarga,
di ucapan selamat pagi,
di tawa yang dipinjamkan untuk tamu.
Jarum di tanganku akhirnya patah dua,
meninggalkan sisa perca dan benang-benang
di atas karpet tua.
Kini benang itu kusimpan di laci.
Sesekali aku membukanya
untuk memastikan
bahwa yang putus memang benangnya,
bukan kami.
Bandung, Juni 2026
Belajar di Pasar
Di pasar, aku tidak membeli apa-apa.
Hanya coba memungut
ilmu yang tumpah
ruah di antara gerobak dan teriakan.
Tak ada papan tulis. Tak ada coretan.
Hanya getaran dari angka-angka
diubah menjadi nasi.
Seorang ibu menawar harga,
dengan hitungan rumit
lebih dari rumus-rumus
yang pernah kutulis di kelas.
Seseorang menyebut pasar
sebuah kepelikan:
tempat makan disimpan
untuk diberi pada yang lapar.
Mungkin sekolah juga begitu,
tapi aku tidak selalu tahu
siapa yang lapar
siapa yang akan kenyang.
Bandung, Juni 2026
Lantai Tiga Puluh Dua
Aku mendongak pada lantai tiga puluh dua
pada langit merah muda
yang tak pernah menyapa kembali mataku.
Tertancap kaca tebal
diukir setinggi puncak angin.
Terlihat, tirai digesernya pelan
dan secangkir kopi mengedarkan pandangan.
Padanya, ia yang di atas sana,
aku ingin memelukmu sebentar saja
menitipkan patah-patah kata
seperti yang kuadukan pada tuhan di amparan.
Aku mendongak
pada lantai licin yang kelabu
dipeluk aku dengan rintik-rintik dari langitnya.
Aku dengar
sesuatu yang diberikan tuhan tak pernah tertukar.
Tapi yang satu mencicipi awan
yang lain selalu mengunyah sisa hujan.
Bandung, Juni 2026
Yang Tak Pernah Kau Baca
Sudah kubisikkan
lewat pintu yang tak pernah kau buka
tentang sepatumu yang sempit
dan pikiranmu yang tipis
tentang buku-bukuku
yang tak pernah kau baca.
Kertas ini sudah menguning
tak dijamah tak pula disentuh.
Kau sibuk menulis sejarahmu
tikusmu pun tak berani menyapa tulisanku.
Rumah surat itu
tak pernah kau buka
tak lagi kau sapa.
Tapi suaraku akan ada di sepanjang jalan
di kotak suratmu yang tak lagi merah.
Akan tetap kutemani kau
sampai tulisanku
benar-benar menghidupimu.
Bandung, Juni 2026

