Fb. In. Tw.
Cerpen A. Djoyo Mulyono

Licin

 

Terkabarlah, Wa Dulalain, kakek dari Sarbendot yang dapat hidup dalam tiga zaman. Konon, ia demikian sulit dicekal maut lantaran ilmunya yang licin. Namun justru aku heran dengan Sarbendot: mengapa ia sulit untuk menerima warisan ilmu yang demikian sakti itu dari kakeknya!

_____________________

 

Dalam waktu dua-tiga bulan mendatang, ia mendengar kabar: bahwa kaum buruh tani di kampungnya akan memulai hidup sejahtera.

            Sambil menyulut lantas mengisap kreteknya di warung wedang, Dulalain masih terus nyerocos soal harapan yang akan datang. Sedemikian indah impian yang keluar dari mulutnya, tetap saja ada yang menyangkal. Katanya: “harapan itu tidak semudah apa yang dikatakan mulutmu!”

            “Kalian harus percaya itu, Lur, sebab tidak ada lagi yang kita harapkan selain impian!”

_____________________

 

Selepas pulang usaha–lebih tepatnya ngeluyur tak keruan, Dulalain berang dan melempar satu-dua perabotan di rumah kontrakannya di daerah Tanah Abang. Ia tahu seharusnya sore itu istrinya sudah diminta untuk meninggalkan kota sebelum sore tiba.

            “Kenapa kamu belum juga pulang, Ro?” teriak Dulalain menatap tajam.

            Ro’anah diam, ia lebih mirip kucing ketakutan. Ada satu hal yang perlu ia pastikan kalau suaminya tidak terbunuh hari itu juga.

            “Besok pagi, sebelum subuh, kamu harus sudah balik ke kampung: Jakarta sudah tidak aman!” kata Dulalain pelan. “Bahaya!”

_____________________

 

Dua hari selepas jenazah kakeknya ditanam, Sarbendot banyak bercerita mengenai (kesaktian) Wa Dulalain. Ibarat seniman, mungkin kakeknya boleh disebut maestro di kalangan artis daerah. Hanya saja, ia maestro di dunia persilatan.

            “Siapa yang tidak kenal dia: Wa Dulalain,” terang Sarbendot pada semuanya.

            Beberapa orang yang mewakili hadir pada acara doa tujuh hari di rumahnya itu sepakat dengan apa yang dikatakan Sarbendot.

            Sembari mengisap kretek 234-nya, air muka Sarbendot tampak memerah. Seperti hendak menangis, atau seperti orang marah. Tapi yang jelas semua tahu kalau Sarbendot sedang berduka, entah lantaran ditinggal kakek yang telah lama mengasuhnya sejak kecil, atau justru ia menyayangkan kesempatan terbaik dalam hidup dari kakeknya.

_____________________

 

“Katakan sekarang, Dul! Apa yang kamu rencanakan dengan partaimu itu?” kata salah seorang teman buruh yang ditemuinya di Kali Jonggol. Salah satu pintu air yang cukup besar dari peninggalan penjajah itu memang cukup baik untuk menatap sawah mereka dari ketinggian.

            “Sebentar lagi, setidaknya kita akan mendapat bagian sawah dari kaji-kaji yang serakah itu untuk para buruh macam kami,” jawab Dulalain. “Kamu juga bisa mengantongi pistol saat di sawah nanti!”

            “Edan!” timpalnya.

_____________________

 

Dari sekian banyak teman-temannya yang bertato, hanya Dulalain yang tidak melukis tubuhnya dengan bunga mawar di lengan, naga yang melingkar punggung dan kaki, atau gadis telanjang di dada kanan atau kirinya.

Satu hari kata temannya, setidaknya sebagai tukang pukul di kota besar ia perlu punya tato. Dan di antara tato-tato yang disebutkan sebelumnya, gambar gadis telanjang yang paling banyak digemari. Katanya, setiap melihat gambar itu, setidaknya dapat bergairah terus setiap pagi.

“Goblok! Tanpa harus ada tato gadis telanjang, aku selalu ngaceng setiap bangun pagi!” kata Dulalain.

_____________________

 

Sarbendot terperangah menyaksikan sakaratul maut kakeknya di ambin tempat tidur. Orang-orang dan sanak-saudara bingung hendak apa yang dapat mereka bantu di saat seperti itu. Mereka pikir Wa Dulalain akan abadi, tentu saja di umurnya yang sudah sangat tua itu sudah berkali-kali mengalami maut mencekik di depan matanya. Sayangnya ia seperti tidak bisa mati.

            Sudah tiga hari dua malam kakek itu terbaring di ambin dengan mulut yang terus menganga dan sesekali menutup untuk sekadar menenggak air minum. Hingga salah seorang menanyakan dengan tanpa punya niat menyinggung:

            “Apa ilmu Wa Dulalain masih belum diwariskan?” katanya.

            Seketika itu banyak pasang mata menatapnya dingin.

 

_____________________

Kadang di tengah sawah, kadang di pematang, atau bahkan di bawah naungan pohon baujan, seorang bapak-bapak masih membayangkan ucapan manis Dulalain yang ditemuinya di Kali Jonggol.

“Mana mungkin seorang buruh tani hanya untuk pergi ke sawah; di perutnya terselip sepucuk pistol,” pikirnya.

Tapi kabar itu kemudian benar-benar terdengar di radio mengenai salah satu partai yang mengusulkan pada negara untuk membentuk angkatan kelima di Indonesia. Sayangnya, belum lama setelah berita itu mengudara, Dulalain diburu tentara.

_____________________

 

Memang pada peristiwa sebelumnya, penodongan di jalan-jalan lengang itu ia lakukan dengan kelompoknya. Tapi kali ini, entah masih dengan penangkapan yang sama atau dengan tujuan lainnya polisi-polisi itu memburu dirinya.

            “Tapi kayaknya mereka memburu yang bertato,” kata temannya.

            “Kalau begitu aku tidak perlu kuatir, tidak ada gadis telanjang di tubuhku!”

            Tapi pemburu tidak pandang bulu: suara pistol terdengar ditembakkan ke udara. Di tempat persembunyiannya, Dulalain dan teman-temannya berhamburan menyelematkan nasib (tato) masing-masing.

_____________________

 

“Hoek,” bunyi mulut Wa Dulalain dengan keadaan payah meriak. Dalam mulutnya yang setengah menganga itu, riak kuning kental menggumpal di lembaran lidahnya.

            “Cepat buka mulutmu, Nang! Dengan menelan itu, kau mewarisi ilmu bapa tuamu.” 

            Sarbendot menolak untuk membuka mulut, ia terlampau jijik dan ragu. Ia mengira, keburukan cukup sampai di sini saja. Cukuplah bromocorah seperti kakeknya itu akan memutus sendiri ilmunya. Tidak seharusnya anak cucuku turut terseret penderitaan ini, pikir Sarbendot.

            Beberapa menit setelah Sarbendot memutuskan untuk tidak mau menerima ilmu Ajian Welut Putih itu, Wa Dulalain terbatuk keras dengan menelan kembali riaknya. Dengan begitu, Sarbendot membiarkan kakeknya untuk sengsara lebih lama lagi.

_____________________

 

Meskipun dikenal dengan mempunyai Ajian Welut Putih yang membuatnya sulit ditangkap, tapi kali ini ia benar-benar tertangkap. Sore hari, Dulalain dibekuk di salah satu gubuk sawah milik seorang haji.

            “Katanya dia sakti, kok masih ditangkap?” tanya salah seorang pelanggan warung.

            “Ia juga ya, jika dia sakti kenapa tidak dia gunakan ilmunya itu. Ah, payah.”

            Malamnya, di salah satu warung berbeda, Dulalain terlihat masuk dan memesan satu teh bruk seperti biasanya. Dia juga memesan satu mangkuk mie pada pemilik warung, rupanya merapal Ajian Welut Putih dan melata di bawah tanah dari ruang tahanan membuatnya banyak mengeluarkan energi.

_____________________

Teman-temannya terkabar mati terkapar dengan kepala yang berlubang. Ada yang tergeletak di gunungan sampah, ada yang tergolek di karung sungai, atau ada juga yang sudah tidak utuh bagian tubuhnya.

            Rasanya hanya dia yang belum terbidik pistol polisi. Sekarang, ia harus lari dengan cara bagaimana lagi: lari secepat kilat, menghilang dalam sekejap, atau masuk dalam perut bumi.

            Satu hari, ia pernah malas untuk merapal Ajian Welut Putih-nya untuk lari cepat dari kejaran polisi. Sehingga ia hanya menghilang dari bangunan satu ke bangunan lain. Dengan begitu ia tampak amat licin, beberapa anggota polisi dibuat kewalahan: sekali mereka melihat Dulalain melintas dan terhalang bangunan, ia langsung menghilang.

_____________________

 

“Goblok! Ilmu Ajian Welut Putih itu sangat sakti. Kenapa aku tidak nurut saja barang hanya membuka mulutku.”

            “Kamu pikir, ia dapat hidup sampai saat ini sebagai simpatisan partai kiri berkat apa kalau bukan ilmu itu? Ia dapat selamat dari kejaran pistol polisi berkat apa kalau bukan ilmu itu?”

            Sarbendot memaki-maki dirinya sendiri. Sedang aku turut menenangkan meskipun pada waktu sebelumnya sempat juga kumaki-maki. Kini habislah sudah di kampung ini, aku dan Sarbendot mungkin generasi terakhir yang menyaksikan kesaktian kakek tua itu dengan ajiannya.

_____________________           

Kirik! Dulalain itu memang benar-benar sakti,” kata pemilik warung yang mendapatinya memesan makan-minum malam itu.

            “Memangnya kenapa, Mang?”

            “Dia mengaku menembus tanah keluar dari ruang tahanan politik itu.”

            Orang-orang yang mendengarkan cerita pemilik warung sangat antusias. Kejadian malam itu memang aneh tapi nyata. Meskipun mereka banyak mendengar kabar tentang kesaktian Dulalain, mendapatinya langsung baru kali ini. Memang terkadang yang gaib selalu perlu bukti.

            “Dulalain juga bilang, jika saja ia dapat membawa beberapa saudara yang ia kenal di tahanan itu, mungkin dia akan membawa semuanya sekalian agar mereka bebas.”

_____________________

Pada tahun-tahun itu, istrinya sering mengingatkan. Bukan karena Dulalain sakti lalu Ro’anah tidak mempedulikannya lagi. Tapi memang begitu mengerikannya negara saat itu: penjarahan dan pemerkosaan di mana-mana, penembakan tak tahu arah, dan masih banyak lagi kekejaman lainnya.

            “Mbokapa ya sampean eling, Kang!” kata Ro’anah mengingatkan. “Sampean itu sudah tua.”

            Meskipun sering keras kepala, hanya pada nasihat istri yang sering mengkhawatirkan dirinya yang sering membuatnya luluh. Dan saat itu Dulalain kembali untuk menuruti istrinya. Kemudian ia pulang kampung dan menetap di tanah kelahirannya.

_____________________

 

“Kali ini, Wa Dulalain pasti mati!” kata salah seorang yang mendengar Wa Dulalain sedang sekarat di rumahnya.

            “Itu benar, tapi Sarbendot tidak mau mewarisinya.”

“Jika dia lolos dari zaman Petrus dan Partai Kiri, pasti di wabah inilah ajalnya!”

            Kata pamannya yang paham ilmu Wa Dulalain, ia langsung memintakan maaf pada sanak-saudara yang hadir. Kemudian ia menyarankan Sarbendot untuk segera mencari seikat merang dan beberapa tangkai daun kelor untuk mengeluarkan ilmu yang bersarang puluhan tahun dalam tubuh Wa Dulalain.

_____________________

 

Sejak ramai di warung itulah Dulalain banyak disegani orang satu kampung. Sebab mereka menyaksikannya langsung. Beberapa tentara masih sering kali turun kampung menanyakan nama Dulalain, tapi siapa yang dapat menangkap dia.

            “Coba saja bapak tentara tangkap sendiri kalau bisa, dia itu sangat licin!”

            “Ah, Anjing!” makinya lantas menendang perut seorang buruh yang ditemuinya.

_____________________

Kegagalan partainya di masa lalu dan zaman orde baru yang kejam itu telah memberikannya banyak pelajaran. Ia mensyukuri semua itu. Tentu di masa lalu ia begitu banyak berulah, sebab yang lemah selalu jadi mangsa pemerintah.

Tapi ilmu Ajian Welut Putih ini siapa yang mewarisinya jika ia benar-benar ingin mati.

 

Cirebon, 18 Desember 2025

Lahir dan tinggal di Cirebon. Mengajar dan meneliti budaya. Cerpen-cerpen dan esainya telah tersiar di sejumlah koran, majalah, dan media nasional. Dan naskah novel terbarunya yang berjudul: Rukmini dan Perkara-Perkaranya telah mendapat penghargaan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2025.

Post a Comment

You don't have permission to register