Puisi-Puisi Halim Bahriz

820 820 Halim Bahriz

Kangen

tunas-tunas pakis bernyanyi
untuk purnama yang memucat
dan berkaca-kaca, resah wajah
berserah diayunkan kehendak
seimbau angin di muka air

matanya lamunan telaga

dingin, desir usai derai gerimis
merebahi punggung telanjang
: rambut panjangnya terangkat
lengan dan lehernya mencipta
siluet, pendar-pendar garis
tipis–keperakan–pula

sebuah pose yang lelah

begadang memandangi keramba
ikan-ikan dengan sisik bercahaya
–kemuning, tosca, merah pinang–
yang sesungguhnya tak pernah ada

terminal bungur, 2019

Mengapa Waktu

tetapi waktu: kadang semirip benang
dan kuncup api berjalan dari ujung ke ujung
kadang serupa kafan, lalu padanya kita sulam
sebuah peta—garis yang tak pernah
berbalik ke arah yang telah
ditinggalkan

tetapi waktu: kadang belaka tubuh
balok es melarikan diri dari dalam kulkas
lalu menggonggong di bawah lampu-lampu
yang dipadamkan, “beri kami matahari
yang tak membakar!”

kadang sebuah tidur, seorang mimpi
yang memerangkap kita dalam kebebasan

lalu apakah aku apakah kebebasan?

barangkali sebuah nyala, gairah, cinta
yang dengan bahagia senantiasa bertanya
mengapa: segala cara untuk berakhir
tidak mengubah akan ke arah mana
kita akan menjadi selamanya

lalu apakah diam apakah mengingat?

anggap saja seorang lupa, yang terjaga
tiba-tiba—lantas begadang dalam bahasa
seumpama insomnia ingatan sang alarm
yang tertegun mencari-cari leluhur

“apakah waktu! mengapa waktu!”

banda aceh, 2018

Sang Arsitek Hujan
:buat afrizalian

hujan menanam mimpi dalam biji-biji
yang tertidur, matahari membangunkannya
seumpama asal-usul memanggil-manggil

____utopia!

angin menghiburnya, mengantar bau laut
membacakan igauan galaksi yang mungkin
(samar-samar) masih dikenalinya

biji-biji pun menjelma pohon dan pohon-pohon
mendirikan belantara; malam lalu menanam

____pidato!

dalam butir-butir telur, kuncup-kuncup montong
di rahim-rahim hira—cacing tanah dan sayap lebah
mengaji, rekah teratai bernyayi di bawah purnama
yang memucat dan gemetar menggapai-gapai
seimbau ayunan angin pada wajah telaga

dingin seusai gerimis pun berbaring
di dasar paru-parumu …

dan langit pagi mengirim siul merpati
orkestra serangga, kembung cacing tanah
pula sebuah nyala, sabda dalam pecah
tangisan bayi:

“sebermula adalah cahaya
lalu kata lalu lupa”

sembalun, 2018

Halim Bahriz

Halim Bahriz

Penulis (yang sementara ini) tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Pada penghujung 2017, esai-feature-nya dinobatkan sebagai juara pertama (kategori umum) gelaran The 4th ASEAN Literary Festival. Buku puisi tunggal pertamanya yang belum lama ini terbit: Igauan Seismograf (2018).

All stories by:Halim Bahriz
Leave a Reply

Halim Bahriz

Halim Bahriz

Penulis (yang sementara ini) tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Pada penghujung 2017, esai-feature-nya dinobatkan sebagai juara pertama (kategori umum) gelaran The 4th ASEAN Literary Festival. Buku puisi tunggal pertamanya yang belum lama ini terbit: Igauan Seismograf (2018).

All stories by:Halim Bahriz
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.