Fb. In. Tw.
Ilda Karwayu - Bertaruh pada Aktualisasi Diri, Buruan.co

Bertaruh pada Aktualisasi Diri

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

Judul di atas ialah satu dari sekian opsi kacamata bagi kita dalam membaca karya mutakhir Nukila Amal, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (KPG, 2025). Sebelum itu, banyak pembaca prosa Nukila Amal yang merasa runtuh ekspektasinya setelah menamatkan novel peraih Buku Prosa Pilihan Tempo 2025 ini. Agaknya kejomplangan muara konflik serta plot dan alur antara novel tersebut dan dua prosa padu Nukila Amal sebelumnya menjadi sebab1 . Akan tetapi, perlu diakui bahwa terdapat satu yang tak berubah–bahkan semakin subtil adanya–, yakni kemahiran pengarang memainkan narasi.

Ya, novel Cala Ibi (GPU, 2003) dan kumpulan cerpen Laluba (Pustaka Alvabet, 2005), sedari awal dibaca, telah menghentak pikiran kita melalui rangkaian peristiwa ganjil maupun cara tokoh-tokoh itu diperkenalkan. Lain dari dua saudaranya itu, novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar membuka dirinya dengan cukup santai; barangkali terkesan demikian gara-gara pembandingnya yang begitu itu.

Ikhtiar yang Tak Benar-Benar dibuka dengan pengibaratan–secara simpel–benak si tokoh utama: Juna, dengan pohon2. Ya, Juna merupakan seorang suami, yang bekerja kantoran dan juga menulis di rumah. Dia pernah menerbitkan satu buku–tapi tidak begitu laku di pasaran–, dan kini sedang menggarap buku terbaru. Sedang, dalam artian telah melewati delapan tahun lamanya. Juna tinggal di rumah warisan orangtua dia, bersama Kinan, istrinya. Mereka telah menikah lebih dari dua tahun.  

 

Cover buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar

Tokoh Kinan, yang menikahi Juna lalu pindah dari rumah orangtuanya–yang tak begitu jauh jaraknya dari rumah suami–, bekerja sebagai notaris. Ia merintis kantor notaris sendiri3 sembari mendampingi Juna menulis serta bekerja kantoran.

Kedua tokoh di atas diberi kuasa oleh pengarang untuk jadi narator bagi suara masing-masing. Selain mereka, terdapat dua tokoh lainnya lagi yang juga diperlakukan senada, yakni tokoh mama/oma (a.k.a Bu Dina) dan Alia. Dengan kata lain, novel ini mendapuk empat tokoh utama.

Tokoh mama/oma diceritakan sebagai seorang ibu rumah tangga, janda–ditinggal mati suami–dengan dua anak dan satu cucu. Ia beranak Kinan (yang kemudian menikahi Juna) dan Jani (yang kemudian menikahi Rustam), serta bercucu Alia (anak Rustam dan Jani). Lahir dan sempat tumbuh di Saparua4–sebelum akhirnya pindah ke Jakarta bersama papi sekeluarga–, tokoh mama/oma mencerminkan sosok perempuan berpola pikir terbuka nan kritis. Di masa tua, ia pun tidak rewel kepada anak-mantu, alih-alih sibuk di luar rumah sebagai–katakanlah–aktivis lingkungan tingkat rukun tetangga, dengan sebutan “kelompok tanaman”. Ia mengajak beberapa orang tetangga untuk menegur pemangku kebijakan atas kerusakan jalan melalui aksi tanam-tanam bunga di lubang jalan yang rusak. Tak hanya itu, mama/oma pun memberdayakan tanah sekitar rumah ibadah sebagai kebun kolektif warga.

Terakhir, tokoh Alia, si ponakan perempuan Juna dan Kinan, tampaknya mewarisi semangat hidup oma beserta kedua orangtuanya–yang dua-duanya bekerja tapi tetap punya waktu membersamai anak semata wayang. Ia dikelilingi oleh manusia-manusia dewasa yang menjadikan keluarga dan pengembangan budi pekerti sebagai prioritas diri. Maka, Alia tumbuh jadi remaja SMA yang pandai, juga ambisius terhadap masa depan dirinya. Bahkan di saat seorang lelaki (namanya Rama) sedang mendekati, Alia dengan sadar bersiasat tarik-ulur supaya proyeksi masa depannya tidak meleset: menang OSN dulu, lalu masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes, barulah mau berpacaran dengan Rama5–sebab Alia pun tertarik kepada lelaki pemain basket tersebut.

Keempat tokoh di atas bergerak menjahit cerita bersama sejumlah tokoh pendukung. Terdapat 11 bab sebagai fragmen suara keempat tokoh; dan setiap bab diwakili oleh satu atau lebih narator, yang secara otomatis akan dipinjam sudut pandangnya, baik oleh tokoh utama lainnya maupun tokoh-tokoh pendukung. Tidak seperti para suara-suara tokoh utama, suara milik tokoh-tokoh pendukung tidak selalu dinarasikan oleh mereka sendiri.

Di satu kesempatan, suara Jani muncul melalui narasi tokohnya sendiri ketika sudut pandang sedang diambil alih oleh Kinan. Begitu pula tatkala mama/oma dan Alia pegang kendali sudut pandang; Rustam, Bi Minah, Mang Abdul, Atikah, dan Rama, berkesempatan memakai tanda petik dua dalam suaranya–yang menandakan bahwa narasi mereka memang begitu adanya.

Namun, hal tersebut tidak berlaku ketika tokoh Juna sedang pegang kendali sudut pandang. Bilamana giliran Juna muncul sebagai narator, dia jadi benar-benar memegang kendali narasi. Dengan siapa pun Juna bicara, respons si lawan bicara bakal selalu tanpa tanda petik dua. Apakah memang si pengarang hendak meminjam sudut pandang Juna sebagai pencipta semesta cerita? Oleh sebab itu, tokoh Juna punya aturan main berbeda dari tiga narator lainnya: pada bab, atau bagian, di mana Juna berperan sebagai narator, segala ucapan si lawan bicara Juna tersampaikan kepada pembaca melalui tuturan Juna seorang.

Tokoh Juna, di mata para narator lainnya–Kinan, mama/oma, Alia–digambarkan sebagai sosok lelaki baik. Dia gemar membantu, dan ketulusannya itu terpancar betul-betul6. Sayangnya, kegemaran Juna membantu sesama itu tidak diterapkan oleh dia kepada Kinan untuk satu hal. Apa itu? 

Perlu kita ingat: dari empat tokoh utama dalam novel bersampul latar merah terang ini, hanya Kinan yang sedari awal tidak terjelaskan aktivitasnya di luar peran sebagai istri, anak, pekerja, dan tante. Kita bisa dengan mudah menemukan bahwa Juna berkutat pada kerja kepenulisan–dengan distraksi luar biasa–; mama/oma sudah punya jadwal dan proyeksi atas kerja-kerja aktivisme ia bersama kelompok tanaman; dan Alia, dengan darah muda yang berputar-putar dalam tubuhnya, tetap fokus pada rencana masa depan–baik di bidang akademis ataupun urusan asmara. Aktivitas ketiga tokoh ini merujuk pada satu istilah yang acapkali disebut sebagai aktualisasi diri.

Bicara soal aktualisasi diri, apakah di kepala kalian muncul nama Maslow beserta konsep hierarki kebutuhannya itu? Dimulai dari kebutuhan fisiologi di posisi paling bawah, disusul dengan rasa aman, lalu kasih sayang, kemudian penghargaan, dan posisi tertinggi adalah aktualisasi diri. Bagi Maslow, kebutuhan-kebutuhan itu bersifat hierarkis. Contoh, jika kebutuhan kasih sayang dan penghargaan belum terpenuhi dengan baik, manusia akan sulit mencapai aktualisasi dirinya7.

Berkaca dari susunan itu, sekiranya tokoh Kinan telah memenuhi kebutuhan ia sedari fisiologi (sandang; pangan; papan) sampai penghargaan (karirnya sebagai notaris berjalan baik). Maka, sudah saatnya Kinan menjelajahi kebutuhan aktualisasi diri. Keberhasilan ia merintis kantor notaris sendiri selama bertahun-tahun tampaknya bukan aktualisasi diri yang ia minati, sebab sepanjang penceritaan berlangsung Kinan cuma sebut soal pekerjaannya itu sedikit saja. Itu tidak lebih banyak nan tegas dari pengutaraan kehendak Kinan sesungguhnya:

“Maka malam ini kukatakan secara khusus padamu: Aku mau punya bayi. Aku mau bayi perempuan, laki-laki, sama saja. Aku mau mengandung, membawa-bawa janin kecil dalam perutku. Kau mau jalan-jalan di mal beli baju bayi dan es krim rum kismis. Aku mau membelikannya baju bayi, warna kuning yang netral jender, bisa dipakai bayi perempuan atau laki-laki. Aku mau jalan kaki dengan perut besar dan berat, aku mau segala rasa mual dan gerah dan ngidam macam-macam untuk memberi organ dan jaringan dan darah dan daging untuk bayi. Aku mau perutku sebesar tambur. Aku mau terus berkantor dan berurusan dengan dunia. Aku mau berjalan di antara orang-orang, senyum sekongkol pada sesama perempuan hamil–atau yang perutnya besar dan sering dikira hamil. Aku mau punya bayi. Cetak tebal cetak miring, huruf kapital. Aku berkehendak punya bayi. …
(hal. 109)

Sayangnya, Juna merespons secara tak jelas. Alih-alih mengarahkan fokus kepada keinginan istri untuk punya bayi, dia dengan perlahan melipir pada urusannya: 

“Eh… bukannya aku tidak ingin menghamilimu. Tapi, apa kau tidak khawatir dengan target… … kita bisa-bisa akan tertekan dan tidak tokcer? Khususnya aku? …
(hal. 107)

“Kin, kau nggak ingin… ini kukatakan dengan hati-hati sekali, tidak perlu reaksi berlebihan. Kau tidak ingin tunggu sampai bukuku selesai dulu baru kita punya bayi? Aku–”
(hal. 108)

“Kin? Kau nggak ingin menjajal piara anak kucing dulu? Anak anjing? Marmut? Kin?”
(hal.110)

Dan, di situlah konflik kemudian mengakar8.

Juna dan Kinan sama-sama tumbuh dari keluarga kelas menengah dengan pendidikan terjamin9. Simpulan tersebut didapatkan dari pepecahan informasi yang bertebaran di setiap ucapan tokoh, terutama tokoh mama/oma. Kita bisa lihat bagaimana mama/oma bertingkah-laku, pula bagaimana ia menyampaikan sedikit demi sedikit latar belakang kedua besan–orangtua Juna–kepada pembaca. Selayaknya seorang tua yang asyik sendiri bercerita, dan kita diam-diam menyimak sambil mengiringi beliau di belakang atau di samping. Ya memang, permainan narasi semacam inilah yang konsisten tumbuh-hidup dalam kepengerajinan Nukila Amal.

Kembali pada kondisi Kinan: dengan latar belakang keluarga biologisnya yang demikian, ditambah latar belakang keluarga suami yang sekufu itu, ia jelas mendambakan satu aktualisasi diri juga. Kita bisa melayangkan imajinasi pada kondisi: barangkali dulu karir sebagai notaris tampak menjanjikan bagi Kinan, tapi nyatanya tidak juga. Kinan mendambakan aktualisasi diri yang berdampak tidak hanya bagi dirinya dan lingkungan sosial–klien di kantor?–tapi juga orang-orang di sekitarnya yang ia kasihi. Ada suami; yang kepadanya Kinan yakin akan punya perubahan sikap bilamana mereka merawat bayi10.

Sikap menunda-nunda. Menunda-nunda selesaikan naskah novel terbaru. Novel terbaru yang telah bertahun-tahun ditumpuk saja gagasan dan referensinya. Ke sana Kinan mengarahkan kekecewaan sekaligus harapannya terhadap visi mewujudkan aktualisasi dirinya. Ia menyelaraskan aktualisasi diri Juna dengan miliknya.

Apakah selaras juga pada akhirnya? Tidak ada yang tahu sebab pengarang memberikan kuasa kepada pembaca untuk meneruskan rangkaian interpretasi–bahkan setelah buku ini tamat. 

Kecuali itu, kita dapat melihat upaya penyelarasan aktualisasi diri pada tokoh-tokoh lain; adalah Alia dan lelaki yang mendekatinya, Rama. Perjalanan cinta remaja ini tak berhenti sampai pada bingkai narasi curhatan Alia kepada oma/mama ia belaka. Ada momen di mana tokoh Rama akhirnya muncul dan menyuarakan dirinya sendiri; tentu bukan dari kendali narasi Juna, melainkan narasi Alia:

… “minggu depan kita nonton di mana?”
“Teater Djakarta gimana? Daripada di mal melulu.” Aku jawab begitu, semoga jawabanku kedengaran tidak terlalu antusias penuh semangat, …
(Hal. 176)

Apa yang dilakukan Alia kepada Rama, yakni menarik ulur status hubungan mereka, secara konsisten mengisyaratkan pertaruhan aktualisasi diri masing-masing; Alia dengan prestasi bidang sains, sementara si Rama dengan prestasi bidang olahraga. Nah, barangkali punya pacar sembari mengumpulkan prestasi di bidang olahraga basket11 bukanlah masalah bagi Rama, tapi ternyata tidak demikian bagi Alia, yang menyatakan diri mesti fokus12. Walau begitu, keduanya saling menaruh hati. Ya, ini yang membuat perbedaan cara pandang itu bisa dikesampingkan.

… lokasi di rumah sakit, dan Oma sedang nggak sehat. …
(Hal. 176)

Kondisi mama/oma yang mengalami stroke ringan, dan mesti dirawat di rumah sakit13. Sebelum masuk ke pertemuan dua remaja itu, kita bakal melewati narasi panjang perihal refleksi hidup mama/oma serta Juna pada Bab 10: BULAN NEON14

… Seumur hidup baru sekali ini aku dipakaikan popok. Rasanya aneh. Aku tidak senang dilap badan oleh suster. Dipakaikan… dipakaikan baju, dimandikan… aku rasa tidak senang, tidak nyaman.
Seperti hilang daya. Tenaga. Kehendak. Seperti bukan diriku sendiri. …
Kata bapak dokter nanti belajar bicara. Dengan terapis. Pulih tidak akan lama.
Belajar bicara lagi. Seperti bayi lagi. …
Banyak yang lain, saudara, teman. Yang saki, yang meninggal, muncul dalam obrolan dan cerita. Obrolan orang tua-tua.
(Hal. 153)

Aku tidak ingin orang-orang hati susah. Aku tidak suka orang-orang datang bezoek. Tadi ada orang-orang, Frankie dan Rahayu, kelompok tanaman. Mereka siluet abu-abu. Aku lihat bunga tadi, mungkin nyata. Kata Kin mereka bawa bunga dan buah. Aku ingin bilang pada Kin. Aku mau bilang tidak usah beritahu orang-orang aku di rumah sakit, tapi tidak bisa. Karena kau belum mati, belum di akhir hayat.
(Hal. 154)

Aku tidak tahu bagaimana melanjutkan usia, aku tidak siap…
(Hal. 155)

Adalah mama/oma dengan tuturan ringkas-ringkas berhasil memancing perenungan kita soal usia, hubungan sosial, kematian. Lain daripada itu, Juna muncul di pertengahan bab dengan tuturan panjang nan rumit beserta grasa-grusu tindakan, membuat kita seketika bersimpati kepadanya; bahwa dia mengasihi mertuanya sebagaimana dia tak mau kehilangan istrinya.

Begitu pula Kinan:

Bajingan di tepi jendela itu. Aku takkan pernah genap memahaminya, apalagi mengetahui dirinya. Tetapi, kutahu dia telah selalu berusaha. Dalam kecepatannya sendiri, proses dan caranya sendiri. Juna akan sampai ke sana, akan menyusulku. Hanya soal waktu. Itu satu hal yang kupahami tentang Juna, salah satu dari keberlebihannya dan ketakcukupan dirinya, keseluruhannya, kebajingannya. Dia hanya sedang menjadi dirinya.
(Hal. 187)

Pada akhirnya, ia pun telah selalu berusaha memahami Juna dengan caranya sendiri. Suaminya tetap menunda naskah novel, dan ia tetap tak mengandung. Pengembangan karakter dua tokoh ini sampai pada kesimpulan bahwa barangkali aktualisasi diri mereka bukanlah menjadi Juna seorang penulis ataupun Kinan seorang ibu; melainkan jadi pasangan yang baik bagi satu sama lain, juga memastikan anggota keluarga baik-baik saja kondisinya.

Namun, barangkali, aktualisasi diri–sejatinya–berada lebih kompleks dari yang kita kira, bukan sekadar susunan kebutuhan yang telah dirumuskan oleh Abraham Maslow. Kompleksitas itu digali mendalam pula oleh Scott Barry Kaufman–berangkat dari pemikiran Maslow. Sepenemuan Kaufman, aktualisasi diri bukanlah satu capaian yang kaku dan hierarkis dalam perjalanannya, melainkan dinamis dan ditunjang oleh sejumlah faktor, antara lain: bagaimana manusia bertumbuh-kembang (termasuk asupan cinta dari manusia sekeliling) dan seberapa besar keberanian mereka untuk melakukan eksplorasi pengalaman15.

Cermatan dari Kaufman tersebut justru lebih dekat dengan narasi para tokoh Ikhtiar yang Tak Benar-Benar. Kita menyaksikan pertaruhan aktualisasi diri yang lebih dinamis pada hubungan Juna dan Kinan serta Alia dan Rama; bahkan mama/oma dan opa Is (almarhum suaminya). Hubungan yang natural adanya dapat terbentuk berkat rancangan karakter yang diperhatikan sungguh-sungguh oleh pengarang. Pada akhirnya, jika dibandingkan dengan dua karya Nukila Amal yang lalu-lalu, novel Ikhtiar yang Tak Benar-Benar telah menyuguhkan pengalaman membaca yang–pada level tertentu–lebih reflektif. Setiap eksplorasi pengalaman tokoh-tokoh utama dapat direnungkan dalam-dalam: apa dan bagaimana itu ikhtiar yang benar-benar?

 

2026

  1. Goodreads (2026, June 1). Ikhtiar yang Tak Benar-Benar. https://www.goodreads.com/book/show/239037293-ikhtiar-yang-tak-benar-benar []
  2. Nukila Amal, Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2025). []
  3. Amal, Ikhtiar, 106. []
  4. Amal, Ikhtiar, 60. []
  5. Amal, Ikhtiar, 60-61. []
  6. Amal, Ikhtiar, 50, 60, 113, 146, 154, 176, 186. []
  7. Britannica Editors (2026, May 15). humanistic psychology. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/humanistic-psychology []
  8. Amal, Ikhtiar, 29, 106. []
  9. Amal, Ikhtiar, 113-116. []
  10. Amal, Ikhtiar, 110. []
  11. Amal, Ikhtiar, 175. []
  12. Amal, Ikhtiar, 61. []
  13. Amal, Ikhtiar, 152. []
  14. Amal, Ikhtiar, 149-167. []
  15. Kaufman, Scott. (2018). Self-Actualizing People in the 21st Century: Integration with Contemporary Theory and Research on Personality and Well-Being. Journal of Humanistic Psychology. 63. 002216781880918. 10.1177/0022167818809187. []

Menulis puisi dan prosa. Buku puisinya Binatang Kesepian dalam Tubuhmu (GPU, 2020) masuk nomine Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun 2022. Aktif berkegiatan di Komunitas Akarpohon Mataram dan Sekolah Pemikiran Perempuan. Tahun lalu, bersama 12 penyair perempuan NTB lainnya, menerbitkan Himpuan Puisi Penyair Perempuan NTB Vol.2: Memasuki Ladang (Akarpohon, 2025). Sehari-hari mengajar English dan Bahasa Indonesia di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI).

Post a Comment

You don't have permission to register