Sebuah Mimpi yang Merepotkan

800 586 Halim Bahriz

Ayah pingsan di sawah ketika hari telah memasuki samar wulu, tepat pada tanggal kematian kakek. Sampai di rumah, raut mukanya yang masih terbengong-bengong, menyerupai prolog penderita sesak menjelang kambuh. Menurut pengakuannya, dia tersadar dan mendapati hari sudah sepenuhnya gelap, kemudian mencium parfum kakek dari sekujur tubuhnya yang dekil dan masih dilumasi keringat. “Bau Madina,” selorohnya.

Orang-orang di kampung kami umumnya memang masih percaya, bahwa momen meretasnya ambang batas antara sore dan malam merupakan saat dua dunia saling berpapasan. Kematian dan kehidupan, kasat dan tidak kasat, kasar dan halus. Sebab itulah, dianjurkan bagi siapa pun, ketika samar wulu tiba sebaiknya menghabiskan waktu dengan bercakap dan tak melamun.

Ayah termasuk satu dari sedikit orang yang mula-mula enggan mempercayainya. Ayah selalu membela diri dengan berkata, “Bukannya tak mau, tapi tidak bisa. Seandainya kakekmu tidak mempercayakan pendidikan ayah semenjak sekolah dasar sampai perguruan tinggi di yayasan Muhammadiah, mungkin bisa.”

Namun setelah mengalami insiden pingsan dan tak ada siapa pun yang memergoki, pendirian ayah berubah drastis. Dia mulai bersikap sebaliknya terhadap hal-hal berbau klenik. Tepatnya memang bukan disebabkan pingsan, melainkan mimpi.

Pada saat tak sadarkan diri itulah dia bermimpi: sedang sendirian di rumah lalu mendengar sebuah  ketukan pintu yang dalam pendengarannya memberi sebayangan gemerincing bunyi lonceng Jibril, dan ketika membuka bilah pintu, dia menyaksikan tubuhnya sendiri yang telah terbujur kaku dalam sebungkus kafan.

Pagi keesokan harinya, secara mengejutkan dan heboh dia memperlihatkan gejala aneh. Ayah terjangkit phobia dengan warna putih. Dia membuang semua kapas pembersih make up, baju, dan mukena milik ibu. Juga seragam sekolah adikku. Ayah semakin tekun salat tapi tak mau berangkat ke sawah atau berladang sendirian. Selalu minta ditemani.

Situasi keluarga semakin runyam setelah mimpi buruk kedua datang: lelaki 64 tahun tersebut mendadak tak mau salat lagi. Dalam mimpi tersebut, ayah mengambil wudu tengah malam karena didera perasaan ingin tahajud. Pada rakaat pertama dia dengar debur laut, pula melihat bayi-bayi kucing terombang-ambing di atas sebilah papan yang diceritakannya mirip patahan lambung kapal. “Seperti sedang dilanda badai,” dan katanya, “dunia yang besar ini tidak lebih luas dari mata yang berpejam,” dan katanya lagi, “tidaklah ada cara melihat yang lebih dalam dari sepasang pejam yang bersujud.”

Namun yang membuat Ayah terkejut, ketika dia hendak melakukan gerakan salam. Kepalanya tak mau diajak menoleh. Beku! Ayah merasa salatnya tak bisa diakhiri. “Aku belum mau mati! Aku tak mau mati!” igauannya selagi mimpi itu masih menyekap tidurnya.

Awalnya aku merasa keengganan ayah untuk salat bukan hal yang serius. Namun aku salah besar. Rupanya, diam-diam, ibu terusik sekaligus menunggu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan akhirnya menuntut perceraian. Ayah ngamuk. “Kamu ingin suamimu mati? Kamu minta aku mati?” Ibu terdiam, tapi tak juga bersedia mengubah keputusan dan aku, yang kebetulan adalah anak tertua mereka sangat kebingungan.

Aku tidak bisa berbuat banyak untuk mengurangi kesuraman suasana rumah, kecuali sekadar membujuk ibu agar lebih sabar dengan perkataan yang, sebenarnya, lebih cocok untuk diriku sendiri. “Cinta tak pernah mengajarkan kita meninggalkan seseorang dalam keadaan sedang terpuruk, Bu.” Sementara terhadap ayah, aku lebih kebingungan lagi. Dia sudah menyerupai seorang gila yang merasa dirinya paling waras di rumah kami.

Ayah mengatur segalanya dan menolak usul siapa pun. Dia cuma mau mengenakan kacamata hitam di luar rumah, mengganti lantai, mengecat ulang seluruh dinding dengan warna kuning golkar dan biru demokrat yang norak, membakar buku-buku, memindahkan semua cermin ke gudang, pula menjual petak sawah terakhir keluarga untuk membiayai kegawatan itu. Bahkan melarang kami tertawa di dalam rumah, dan sebagainya dan sebagainya.

Adikku? Dia cukup diberi coklat, atau tidak dilarang mengunyah permen karet, atau dibiarkan mandi sore dengan terlambat. Namun keriangan adikku yang tak berkurang sedikit pun tidaklah membatalkan situasi berikut: keluargaku seperti sekumpulan pasien rumah sakit jiwa, dengan satu-satunya manusia waras berupa bocah tengil berusia enam tahun yang hampir selalu gagal membedakan sampo dan sabun cair.[]

 

Halim Bahriz

Halim Bahriz

Penulis (yang sementara ini) tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Pada penghujung 2017, esai-feature-nya dinobatkan sebagai juara pertama (kategori umum) gelaran The 4th ASEAN Literary Festival. Buku puisi tunggal pertamanya yang belum lama ini terbit: Igauan Seismograf (2018).

All stories by:Halim Bahriz
Leave a Reply

Halim Bahriz

Halim Bahriz

Penulis (yang sementara ini) tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Pada penghujung 2017, esai-feature-nya dinobatkan sebagai juara pertama (kategori umum) gelaran The 4th ASEAN Literary Festival. Buku puisi tunggal pertamanya yang belum lama ini terbit: Igauan Seismograf (2018).

All stories by:Halim Bahriz
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.