MENU
miss-tjitjih

2 Mei 2017 Catatan

Pameran Arsip Miss Tjitjih: Strategi Reproduksi Arsip

Kita tidak akan menemukan arsip-arsip tua berupa naskah-naskah sandiwara yang membuat kita bersin-bersin. Kita juga tidak akan menemukan sebuah meja dengan mesin tik di atasnya atau sebuah diorama atau sebuah latar panggung teater atau panggung teater itu sendiri atau kuas rias tahun 1957. Kita tidak akan menemukan arsip-arsip semacam itu di Pameran Arsip: Miss Tjitjih dan Modernitas yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk merayakan ulang tahun Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih ke-89 Tahun.

Ini mengejutkan saya. Saya tidak melihat sebuah museum setengah-jadi dibangun sore itu, Rabu (26-4-2017) di Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di ruangan itu, saya hanya melihat bentangan banner yang bercokol di dinding dan dua buah pilar; berisi tulisan-tulisan, sejarah, daftar naskah-naskah, foto naskah sandiwara, informasi-informasi penting, cerita-cerita, dan sedikit potongan foto seseorang. Hanya ada satu spot yang menarik perhatian saya, yakni boneka hantu yang dipanjang di sudut ruangan lengkap dengan ranting bambu dan tanaman hias dan akar-akar gantung. Saya yakin bahwa spot itu hanya menjadi sekadar benda pajangan; bukan sebuah penanda penting apalagi strategi untuk menakut-nakuti pengunjung. Untuk sebuah pameran arsip—sejujurnya saya jarang menghadiri pameran semacam ini kecuali ketika saya berkunjung ke sebuah museum, ini terlalu sederhana.

Pada tahun 2014 di bulan Februari, saya pernah datang ke sebuah pameran karya-karya atau semacam benda-benda penting milik Nh. Dini di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bagi saya—waktu itu—ini adalah pameran yang menarik. Saya dapat melihat meja tempat Nh. Dini menulis sejumlah novelnya, lengkap dengan mesin tik dan sebuah foto perempuan tua dan sebuah foto seorang perempuan muda dengan laki-laki Prancis. Apa betul itu meja tempat Nh. Dini menulis? Saya tetap akan percaya walapun Nh. Dini bilang bahwa meja itu sesungguhnya adalah meja yang diambil dari ruang kerja PDS HB Jassin.

Mengapa Pameran Miss Tjitjih tidak melakukan itu? Tentu saja akan menarik melihat benda-benda masa lalu jika kita beriman kepada kata mutiara seorang arkeolog: “Masa lalu adalah misteri.” Kita akan dapat membayangkan bagaimana orang-orang pada masa lalu menulis naskah sandiwara, membuat tiket, mencetak poster, atau membuat surat-surat izin dan permohonan bantuan dana. Namun, bukankah cara-cara itu malah membuat sebuah pameran menjadi seperti kebun binatang? Kita akan terkesan pada binatang-binatang yang dipamerkan karena kita tidak pernah melihat binatang-binatang itu di sekitar kita. Selebihnya, kita hanya bisa tahu bahwa binatang-binatang itu masih hidup dan berharap mereka akan dirawat dengan baik.

Reproduksi Arsip
Apa yang dilakukan Pameran Arsip Miss Tjitjih—bagi saya—merupakan strategi mereproduksi arsip. Arsip tidak lagi dipandang sebagai kertas-kertas berdebu yang bikin kita bersin-bersin atau benda-benda fisik atau semacamnya. Arsip bisa menjadi benda nonfisik atau memori yang ada dalam kepala setiap manusia. Pameran Arsip Miss Tjitjih mencoba untuk mereproduksi arsip-arsip tentang Miss Tjitjih ke dalam kepala pengunjung. Pameran itu menuntut pengunjung untuk aktif membaca hal-ihwal sejarah Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Pameran itu menjadi semacam buku kecil dan pintu masuk untuk memahami kelompok sandiwara Sunda yang ada di Jakarta sejak tahun 1928.

Dari pintu masuk Galeri Cipta, kita bisa mengisi buku tamu dan memulainya dari kanan—sebenarnya, kita bisa memulainya dari sudut mana saja. Di sana—seperti yang saya ceritakan di awal—sebentang banner bercokol di dinding. Kita akan melihat potongan-potongan buku dan surat kabar hasil cetak digital. Kita akan melihat sebuah potongan berita dengan judul “slamatan Javastaal stokvis” dari majalah Java Bode, 21 Januari 1950. Koran itu memberitakan mengenai selamatan di Gedung Miss Tjitjih Kramat (sebutan kelompok ini saat mereka pentas di Kramat Munde Senen, Jakarta Pusat). Perusahaan Dagang Transnasional Javastaal Stokvis mengadakan selamatan itu dalam rangka nasionalisasi perusahaan dari tangan kolonial ke tangan Indonesia.

Pameran ini melihat bahwa peristiwa tersebut menjadi contoh bagaimana perusahaan dan kelompok kesenian dapat berkolaborasi. Kelompok kesenian tidak selamanya mengandalkan hibah dari pemerintah. Selain itu, Miss Tjitjih menjadi saksi dekolonialisasi masa itu. Pada masa itu, arus era modern pun mulai berlangsung di Indonesia. Pada masa itu pula, Miss Tjitjih mesti bersaingan dengan Bioskop Rivoli yang letaknya dekat dengan Gedung Pertunjukan Miss Tjitjih.

Setelah itu, kita dapat beralih ke sisi yang lain. Di sana—masih tetap sama—terdapat bentangan banner yang berisi periodisasi Miss Tjitjih, dari mulai Periode Kramat, Angke, sampai Cempaka Putih. Periodisasi itu berdasarkan tempat pertunjukan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Dari banner itu, kita juga akan melihat daftar ratusan naskah yang telah ditulis dan dipentaskan.

Pada sisi lain, kita akan melihat jauh lebih dalam kelompok sandiwara ini. Ada sebuah tulisan yang kepalang besarnya, “Kultur Hantu”. Hantu menjadi ciri khas kelompok sandiwara yang dibentuk dengan nama Opera Valencia oleh Abubakar Bafagih. Terdapat dua naskah sandiwara yang mahsyur dan telah dialihwahanakan, yakni “Beranak dalam Kubur” dan “Si Manis Jembatan Ancol”. Kultur Hantu dalam pertunjukan Miss Tjitjih ini sudah muncul pada periode 1970-an. Saat itu, mulai banyak film-film yang bergenre horor. Seperti yang dituliskan pada banner itu, kultur hantu ini bahkan berpengaruh pada perfilman pada masa itu.

Jika melihat pertunjukan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, selain hantu, kita akan melihat teknik-teknik yang dapat memukau penonton: teknik yang mengerikan sekaligus menggelikan. Kita akan melihat pocong terbang atau teknik terbang, properti-properti unik (manusia berkepala ular), teknik petir (yang dibuat dari suara seng dan pantulan cahaya dari seng), dan lampu guricak.

Pada sisi lainnya, kita akan melihat potongan gambar naskah sandiwara kelompok teater ini. Dari foto tersebut kita dapat melihat sebuah naskah yang berjudul “Siluman Gentawangan” (1985) yang ditulis tangan. Naskah tersebut telah mengalami korup di bagian-bagian pinggirnya: ringkih dan riskan rusak.

Pada bagian itu, terdapat informasi bahwa gedung pertunjukan Miss Tjitjih pernah mengalami kebakaran. Pada tahun 1997, kebakaran melenyapkan arsip-arsip Miss Tjitjih. Hal ini membuat kelompok sandiwara ini tidak memiliki basis arsip yang kuat. Pameran ini, sebenarnya, telah melakukan reproduksi arsip-arsip. Ya, seperti yang saya katakan di awal, arsip yang berharga ialah memori dalam kepala manusia: arsip nonfisik. Metode yang digunakan tim riset pemaren ini sangat menarik, yakni menggali arsip-arsip nonfisik itu dari memori dan kultur budaya tutur anggota kelompok sandiwara ini.

Ini menjadi proses yang menarik. Terjadi dua proses reproduksi arsip: (1) dari memori ke media pameran dan (2) dari media pameran ke memori pengunjung. Namun, strategi reproduksi arsip semacam ini akhirnya sangat tergantung pada kognisi pengunjung. Jika pengunjung memiliki kesadaran pengarsipan yang baik, reproduksi arsip akan berjalan dengan baik; begitu pula dengan sebaliknya.

Menyimpan Daging dalam Kulkas
Jika arsip atau dokumen atau monumen (fisik) adalah perkakas penyimpan memori, memori itu akan riskan hilang. Pada masa orde lama, Sukarno pernah menghancurkan monumen-monumen kolonial untuk meruntuhkan memori kolektif tentang kolonialisme. Bahkan, ia juga meruntuhkan rumahnya yang digunakan untuk membacakan teks proklamasi. Bersamaan dengan diruntuhkannya monumen-monumen itu, Sukarno membangun kembali monumen-monumen baru, seperti patung Selamat Datang, Stadion Gelora Bung Karno, dan Hotel Indonesia.

Abidin Kusno dalam bukunya yang berjudul Ruang Publik, Identitas, dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto (2009) melihat apa yang dilakukan Sukarno sebagai proses pelupaan. Ia melihat bahwa sebenarnya Sukarno memiliki kesadaran bahwa memori kolektif tidak bisa dibiarkan tertanam dalam bentuk fisik (bangunan, monumen, dan ruang). Sukarno menganggap bahwa benda-benda sejarah menyimpan banyak memori buruk yang tidak bisa diatasi dengan pameran-pameran benda-benda sejarah itu sendiri.

Di sisi lain, jika menjadi perkakas penyimpan memori (kolektif), arsip atau dokumen atau monumen (fisik) mampu menciptakan rasa aman. Mekanisme ini sama seperti menyimpan daging dalam kulkas. Ketika kita menyimpan daging dalam kulkas, kita tidak perlu khawatir dengan daging itu. Daging itu tidak akan busuk dalam jangka waktu yang cukup panjang. Istri saya seringkali lupa bahwa ia menyimpang sejumlah makanan di dalam kulkas. Ia menganggap bahwa semuanya akan aman jika dimasukan ke dalam kulkas.

Jika mekanisme dan analogi itu benar, tentu nasib memori akan sama dengan daging dalam kulkas itu. Arsip atau dokumen atau monumen (fisik) akan membantu kita dalam menyimpan memori sekaligus melupakan memori. Ketika arsip atau dokumen atau monumen (fisik) itu dibuat atau dibangun, kita tidak perlu merasa khawatir bahwa memori itu akan hilang. Kita bisa mengambilnya kapan saja jika kita perlu, ya, jika kita perlu—ini sebuah klausa yang penting.

Saat saya duduk di sekolah menengah pertama (SMP), saya pernah menyukai seorang perempuan bernama Tina dari kelas sebelah. Libur panjang membuat saya tidak bisa melihatnya. Pada saat itu pula saya lupa dengan wajahnya. Berulangkali saya mengontruksi wajahnya dalam ingatan saya dan saya merasa bahwa konstruksi wajahnya selalu meleset dalam ingatan saya. Namun, akhirnya saya berhasil juga mengingatnya dengan cara mengingat momen-momen saat saya bertemu dengannya. Kalau saja saya memiliki fotonya tentu pekerjaan itu tidak akan saya lakukan. Kalau saya memiliki foto Tina, tentu saya tidak perlu mengingat wajahnya. Jika lupa dengan wajahnya, saya hanya perlu melihat fotonya. (dan) Jika saya lupa untuk kesekian kalinya, saya hanya perlu melihat fotonya lagi, lagi, dan lagi. Ini sama halnya dengan analogi daging dalam kulkas.

Penyimpanan memori dan pelupaan memori memiliki modus yang hampir sama. Perasaan seseorang yang tidak takut lupa karena ia telah menyimpan memorinya pada sebuah benda adalah proses pelupaan. Ia tidak perlu merasa membuat arsip baru yang nonfisik karena ia telah memiliki perkakas fisik untuk menyimpan memorinya. Dengan demikian, daging akan aman tanpa perlu diingat-ingat-kapan-kita-menyimpannya.

Bagaimanapun hal yang dilakukan Pameran Arsip Miss Tjitjih menjadi pengikis tradisi pengarsipan lama. Mereka mencoba untuk mencari dan memreproduksi arsip nonfisik. Tentu saja ini menjadi ikhtiar untuk menjaga memori tentang Miss Tjitjih dan kelompok sandiwaranya. Jikapun arsip-arsip kelompok ini kembali terbakar, kita tidak perlu terlalu khawatir—ya, barangkali begitu.

Beberapa waktu lalu arsip kasus pembunuhan Munir dikabarkan hilang. Banyak orang saling tuding: siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan itu. Kemudian seorang mantan presiden dengan perasaan gelisah—dan memang sering berperasaan gelisah—dan sedikit heroik mengabarkan bahwa ia memiliki fotokopian arsip itu. Namun, jikapun fotokopian itu hilang, tentu saja ingatan kita terhadap kasus tersebut tidak akan hilang karena kita tidak sedang menyimpang daging dalam kulkas.[]

Foto: Dokumentasi Sartika Dian Nuraeni

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>