Orde Baru, Soeharto, dan Humor

702 336 Ubai Muchtar

“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita adalah produk Orde Baru. Melalui beragam cara, seperti teknologi media, arsitektu[r], bahasa, dan lain sebagainya, propaganda dijalankan dengan gencar dan berkelanjutan. Selama 32 tahun telah berhasil menciptakan manusia-manusia Indonesia dengan pikiran searah cita-citakan rezim Orde Baru.”

Dari catatan Mahardika Yudha, Katalog Festival Orde Baru OK.Video, Juni 2015

Siang yang terik di tengah bulan Juni yang bukan penghujan. Di sebuah gedung bercat putih. Di Jalan Medan Merdeka Timur. Di Gambir di pusat Jakarta. Di antara bangunan di Galeri Nasional Indonesia. Tiga orang duduk di depan menghadap deretan kursi yang penuh. Sebagian yang tidak mendapatkan kursi berdiri. Di luar cuaca panas sampai di dalam ruangan. Dua buah penyejuk udara dihidupkan. Seseorang mulai bercerita.

Tentang kepala seorang presiden, juga seorang tukang cukur yang jenaka. Soeharto, penguasa 32 tahun rezim Orde Baru. Tiga bulan sekali presiden menyerahkan kepalanya kepada tukang cukur. Presiden harus mencukur rambutnya. Tukang cukur akan memangkas rambut presiden. Di kala Soeharto merapikan rambutnya, si tukang cukur jenaka selalu bertanya, “Sudah ada calon pengganti, Pak?” Soeharto pun dengan lugas menjawab, “belom”.

Perjumpaan tiga bulanan dengan tukang cukur itu. Juga pertanyaan yang sama dari tukang cukur jenaka andalan itu membuat Soeharto jengkel. Suatu hari di tengah prosesi cukurnya, pertanyaan itu muncul kembali. “Kenapa kamu tanyaken hal itu melulu?” tanya Soeharto.  Si tukang cukur jenaka andalan presiden menghentikan guntingan. “Habis kalo saya tanya itu, bulu kuduk bapak merinding, rambut naik, jadi saya gampang buat mencukur,” aku si tukang cukur jenaka andalan presiden.

Kelakar tentang tukang cukur dan Soeharto banyak beredar di kalangan jurnalis di masa Orde Baru sedang kuat berkuasa. Bahkan mantan presiden, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pernah menyampaikan kelakar tersebut di acara Pekan Humor Indonesia yang diprakarsai Yayasan Pijar bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, September 1992. Lelucon tentang kehidupan Soeharto, Harmoko, Moerdiono, dan kebijakan-kebijakan di masa Orde Baru berkuasa kerap muncul dan lalu tenggelam. Sebagian besar tercipta dari mulut-mulut wartawan yang bertugas di kala itu.

Seseorang meneruskan cerita humornya.

Dua mahasiswa saling melemparkan tebakan untuk adu kepintaran. Si A bertanya pada B, “Apa perbedaan dan persamaan antara kepala Harmoko dan pantat penyanyi seksi, Madonna?”

“Ah, gampang. Kalau kepala Harmoko itu belah pinggir, sedang pantat Madonna belah tengah. Tapi isi keduanya sama,” sahut si B. Si A pun manggut-manggut mengakui kepintaran temannya tersebut.

“Humor menjadi pelepasan masyarakat yang kala itu berada di bawah tekanan,” demikian menurut Tri Agus Siswowiharjo, pengajar STPMD. Ia duduk di tengah, di antara Yusi Avianto Pareoanom (Wartawan cum sastrawan) dan Arman Dhani (Penulis) sebagai moderator. Siang itu, Senin, 15 Juni 2015 dalam diskusi panel Humor: Menyindir di Moncong Senapan, rangkaian simposium Cara Orde Baru Menciptaken Manusia Indonesianya.

Diskusi panel yang digagas Indoprogress tersebut merupakan rangkaian kegiatan festival seni video Internasional bertajuk Orde Baru OK.Video—Indonesia Media Arts Festival 2015 yang digelar RuangRupa hingga 28 Juni 2015.

Direktur Artistik OK.Video, Mahardika Yudha menuturkan bahwa festival ini merupakan festival ketujuh yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali sejak diadakan pertama kali pada tahun 2003. Sebanyak 73 seniman dari 21 negara ikut serta dalam festival kali ini. “Termasuk di antaranya 12 karya yang lolos seleksi Open Submission,” ujarnya dalam siaran pers.

Seniman yang ikut serta di antaranya datang dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Austria, Belanda, Belgia, Ceko, Hong Kong, Indonesia, Inggris, Jerman, Jepang, Kolombia, Venezuela, Philipina, Prancis, dan Pakistan.

Di tahun ketujuh ini, festival akan menyajikan capaian artistik berupa karya-karya video, film, pertunjukan, multikanal, bebunyiaan, rekayasa digital, seni berbasis internet, dan kemungkinan-kemungkinan lain dari karya-karya berbasis teknologi media.

Mahardika mengatakan pada tahun ini, OK.Video mengusung tema “Orde Baru” sebagai poros festival. Tema tersebut diusung untuk menggambarkan teknologi media (analog) yang dikuasai dan digunakan rezim otoriter (negara) dalam membangun persepsi publik. Di sisi lain, runtuhnya rezim Orde Baru mengawali kebangkitan demokrasi dan terjadinya politik teknologi media (digital) yang dikuasai warga.

Kembali ke Orde Baru. Atas nama keamanan dan ketertiban Soeharto menciptakan sensor. Hukum, teror, propaganda, bahkan sensor dalam menyampaikan humor diciptakan untuk merebut, memanipulasi, dan mempertahankan kekuasaan. Menyampaikan kritik atau sekadar unek-unek yang mengarah ke kekuasaan negara, harus disampaikan dengan hati-hati. Tidak jarang alat kekuasaan negara dikerahkan untuk melakukan intervensi, bahkan membubarkan paksa mimbar-mimbar bebas yang digelar masyarakat sebab disangka mengusik ketenangan penguasa. Terkadang mereka yang ikut serta di dalamnya ditangkap dan dipenjarakan. Mimbar-mimbar bebas yang terlaksana hanyalah mimbar yang sudah melalui sensor. Sehingga yang terjadi bukanlah mimbar untuk mengkritisi kekuasaan melainkan ajang puja-puji untuk penguasa.

Humor hadir sebagai pelepasan dari suasana sumpek dan penat, sekaligus mengisi sendi-sendi kehidupan masyarakat yang tegang. “Lelucon juga dapat berfungsi sebagai kritik terhadap keadaan tidak menyenangkan atau kebosanan di tempat atau negara sendiri,” demikian ungkap Gus Dur yang dicatat Tri dalam makalahnya, “Humor: Sosialisasi Kebencian Terhadap Rezim”.

Tahun 1986, penerbit Grafiti Press menerbitkan buku Mati Ketawa Cara Rusia. Buku tersebut menjadi tanda hadirnya humor politik di Indonesia. Kata pengantar buku itu ditulis oleh Gus Dur yang juga sangat jenaka melebihi isi bukunya. Buku dengan judul asli Russia Dies Laughing yang disunting Zhanna Dolgopolova itu berisi lelucon yang menertawakan komunisme di Rusia dan Eropa Timur. “Buku itu sangat berpengaruh dan mengilhami pembaca di Indonesia. Ternyata lelucon antikomunis bisa diadopsi untuk menertawakan rezim Orde Baru yang antikomunis,” ungkap Tri Agus Siswowiharjo.

Media massa berperan penting dalam penyebaran humor. Selain melalui tulisan, humor juga diekspresikan melalui anekdot atau sketsa karikatural. Meski demikian, “Humor politik yang banyak ditemukan di masyarakat tidak kurang sensasi dan variannya,” ucap Yusi Avianto Pareoanom.

Menurut Gus Dur, dalam catatan Tri Agus, protes dengan lelucon memang tidak efektif, kalau dilihat dari sudut pandang politik. Dalam sejarah tak ada rezim yang jatuh karena humor. Tak ada gerakan politik besar berlandaskan pada humor. Kendati demikian, sebagai wahana politis humor memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi musuh bersama. Selain itu, humor juga memiliki kegunaannya sendiri. “Minimal, ia akan menyatukan bahasa rakyat banyak dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dikeluhkan dan diresahkan”.

Humor politik yang banyak beredar di sekitar tahun 1980-1990an kemudian dibukukan dalam Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto. Buku tersebut dihimpun dari penulis humor dan media massa yang menerbitkan tanpa diketahui penulisnya. Isinya seputar lelucoan tentang Soeharto, menteri-menterinya, dan isu terkait kekerasan militer di Timor Timur dan Aceh. Buku yang terbit pada Januari 1998 ini tidak mencantumkan penerbit apalagi penulisnya. Di kemudian hari diketahui bahwa Tri Agus Siswowiharjo adalah salah satu penyumbang tulisan dalam buku tersebut. Satu-satunya yang tertera yaitu tukang gambar buku tersebut: ISKRA.

Iskra merupakan nama lain dari seniman rupa serta tukang gambar sekaligus pencipta lagu anak/rakyat merdeka Bambang Adyatmaka, atau dikenal dengan nama Yayak Kencrit atau Ismaya. Pria kelahiran Yogyakarta tahun 1956, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Salah satu karyanya berupa kalender “Tanah Untuk Rakyat” yang dihiasi puisi Wiji Thukul menyebabkan kemarahan penguasa Orde Baru. Yayak menjadi sosok yang dicari sehingga ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya ia menyusul istri dan anak-anaknya ke Koln, Jerman.

Humor politik di media massa mengalami masa kegelapan setelah muncul kasus tabloid Monitor. Tabloid Monitor adalah tabloid di bawah Kelompok Penerbit Gramedia. Aswendo Atmowiloto menjabat sebagai pemimpin redaksi dan penanggung jawab. Monitor menjadi pelopor media berbentuk tabloid. Di setiap edisi, Monitor menyelenggarakan angket berhadiah untuk pembaca. Angket dikirim ke redaksi disertai kupon. Angket yang terpilih mendapatkan hadiah uang.

Salah satu angket berhadiah dengan pertanyaan, “Siapa tokoh yang Anda kagumi dan apa alasan memilih?” Redaksi Monitor selanjutnya menyusun hasil angket berdasarkan jumlah yang paling banyak sampai terakhir. Hasil angket diumumkan di Tabloid Monitor edisi 15 Oktober 1990. Dari 50 nama yang teratas yang dikagumi, tercantum nama Nabi Muhammad pada urutan sebelas setelah Arswendo. Sedangkan nomor pertama diduduki Soeharto.

Dapat diterka akibatnya, protes umat Islam merebak. 17 Oktober 1990 massa mendemo kantor Monitor. Lima hari kemudian, massa mengepung kantor Monitor. Melempari kantor, menerobos masuk ruang redaksi, mengaduk-aduk arsip, menghantam komputer, serta menjungkirbalikkan meja dan kursi. Kantor hancur. Massa meminta pertanggung jawaban Arswendo. Arswendo sendiri dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. “Setelah kasus Monitor, artikel-artike di bawah Kelompok Penerbit Gramedia, seperti Kompas kemudian tidak selugas dan sekritis sebelumnya. Tulisannya menjadi berlapis-lapis,” demikian disampaikan Yusi Avianto.

Orde Baru
“Awan panas dari Lubang Buaya, …. Awan panas yang aneh, sarat akan sebab akibat dan aksi reaksi. Begitu tiba-tiba, tanpa rencana. Lubang itu memuntahkan lava pijarnya, menjalar melalui serangkaian reaksi, seperti bom atom. Ribuan orang meninggal dunia.”

Orde Baru membangun kekuasaan dengan darah. Dimulai di suatu pagi. Di bawah kepemimpinan Letkol Untung, komandan batalion pengawal kepresidenan, sekelompok perwira muda yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S) berusaha menahan tujuh orang jenderal terkemuka Indonesia, di antaranya Menko Hankam Kasab Jenderal Nasution dan Panglima Angkatan Darat (Pangad) Jenderal Yani pada malam 30 September menjelang 1 Oktober 1965.

Gerakan 30 September meyakini adanya bukti bahwa tujuh jenderal AD tersebut membentuk Dewan Jenderal yang dengan batuan CIA merencanakan suatu kudeta pada Hari ABRI 5 Oktober 1965. Gerakan bermaksud mencegah mereka dan melindungi Sukarno dengan menangkap mereka, membawa mereka ke Lubang Buaya, Pondokgede, menginterogasi mereka dan menyerahkan kepada Presiden Sukarno.

Pagi itu Sukarno mengetahui bahwa telah jatuh korba. Segera ia pergi ke Pangkalan Udara Halim. Presiden harus segera menunjuk pengganti Jenderal Yani yang tewas. Ia menolak menunjuk Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad, yang tidak termasuk ke dalam tujuh jenderal yang merencanakan kudeta, dan karena itu tidak ditangkap. Tetapi sebagai penggantinya Sukarno menunjuk Pranoto, jenderal yang lebih junior sebagai panglima sementara.

Soeharto, setelah menujukkan keengganan segera melancarkan serangan balik di Jakarta dengan dukungan Nasution. Soeharto menolak mengizinkan Pranoto bergabung ke Halim. Pasukan Soeharto baru menduduki pangkalan tersebut pada 2 Oktober pagi.

Dalam siaran radio yang dimulai pada pukul tujuh pagi, G30S mengumumkan bahwa gerakannya adalah gerakan militer, bahwa G30 S telah menahan “Dewan Jenderal” yang merencanakan kudeta. Sore harinya, siaran radio yang berbeda didengungkan Mayjen Soeharto. Ia menyatakan “gerakan kontrarevolusioner” telah menculik para jenderal melalui aksi “percobaan kudeta” terhadap Sukarno. Ia juga mengumumkan bahwa dirinya telah mengambil alih komando Angkatan Bersenjata dan menghancurkan G30S dibantu para petinggi Angkatan Laut beserta kepolisian. Pada tahap ini tidak ada petunjuk bahwa PKI ada di belakang G30S. Tuduhan resmi dan pengkambinghitaman PKI baru dimulai pada 4 Oktober, tepat ketika jasad para jenderal diangkat dari Lubang Buaya.

Soeharto berhasil memanipulasi G30S dan mengkambinghitamkan PKI. Berbagai macam rumor segera disebarluaskan, bahwa para pemuda dan perempuan PKI melakukan ritual pembunuhan para jenderal berbau seks. Media massa di Barat dengan setia melaporkan semua itu. pada 7 Oktober, kaum ekstrimis Islam yang dihasut melakukan serangan ke kantor pusat PKI dan juga rumah Aidit. Pada 17 Oktober, Kolonel Sarwo Edhie menggerakkan pasukan komandonya ke Jawa Tengah untuk melakukan pembantaian. Gerakan ini tidak hanya melegalkan protes terhadap PKI, tetapi juga pembunuhan terhadap 500.000 sampai dua juta orang komunis. Pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali paling mengerikan. Sungai-sungai diwarnai merah darah manusia. Tak terhitung anggota dan simpatisan PKI ditahan. Jalan telah terbuka tanpa halangan bagi penghisapan rakyat Indonesia beserta seluruh sumber dayanya.

Pada Maret 1966, Soeharto menuntut wewenang lebih besar dan pembubaran PKI secara resmi. Korban pembunuhan terus meningkat, penjara dan tempat tahanan penuh sesak, kamp-kamp tahanan di seantero negeri menjamur.

Lawan-lawan PKI mengambil hukum ke tangan mereka sendiri. Mereka dapat melakukan penghancuran, penjarahan, pembakaran, pembunuhan, pengusiran, dan kekejaman lainnya. Di beberapa tempat pembunuhan menggunakan daftar nama anggota komunis atau mendapatkan nama dari bantuan orang-orang desa yang menengarai oraang komunis. Mereka segera ditangkap, dalam banyak kasus pasukan AD dan para pemuda teroris sayap kanan saling membantu dalam memburu dan membunuh siapa saja yang dianggap bersimpati dengan kaum kiri.

Segera setelah itu dapat ditemukan kepadatan penduduk menurun di wilayah tempat PKI mendapatkan paling banyak suara dalam pemilihan umum yang telah lewat. Di wilayah Kediri perlu dilakukan upaya agar mayat-mayat korban yang terapung di sungai tidak memasuki kanal-kanal irigasi yang menuju pesawahan. Di Surabaya, ketika mayat-mayat itu kandas di tepi sungai dangkal dan menimbulkan gangguan kesehatan. Banyak juga di antara kaum komunis tersebut berpofesi sebagai guru. Ketika sekolah-sekolah di Jawa Timur dibuka pada awal 1966, lebih dari sepertiga guru hilang.

Banser merupakan bagian dari ampat hidjau seperti yang disampaikan W.F. Wertheim. Sebagaimana dikutip Julia Soulhwood dan Patrik Flanagan dalam bukunya Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1991, Wertheim menyatakan ada ampat hidjau yang menghancurkan dan terlibat dalam perburuan terhadap orang-orang Komunis tahun 1965. Apa saja empat hidjau itu? Ungkap Wertheim: “Hijau adalah warna Islam, warna baret tentara, warna kesatuan mahasiswa KAMI dan terakhir tapi yang tidak kalah pentingnya, Duta Besar Kebangsaan Amerika Marshall Green.”

Rezim Soeharto menandai awal kekuasaannya dengan kekerasan fisik dan mental dalam skala yang besar. Pembunuhan massal terjadi di banyak daerah terutama di pedesaan. Kota besar agak luput dari pembunuhan massal akan tetapi rezim menggerakkan rakyat kebanyakan untuk menyerang kantor-kantor, rumah-rumah anggota simpatisan PKI. Soeharto mendapatkan tujuan ganda sekaligus, menghancurleburkan PKI dan menciptakan teman dan korban yang patuh dari mereka yang selamat dari pembunuhan.

Salah satu pemutarbalikan bahasa terkejam yang dilakukan rezim Soeharto adalah istilah resmi untuk pembebasan “kembali ke masyarakat”. Bagi korban yang selamat, ini sebuah ironi. Masyarakat Orde Baru bagi mereka yang terlanjur disiksa dan dipersalahkan adalah kamp penjara sendiri. Korban yang dibebaskan rata-rata dalam kondisi cacat dan luka-luka. Fisik juga mental. Akibat derita panjang yang harus mereka rasakan selama di penjara.

Dapat dipahami mengapa sastrawan Pramoedya Ananta Toer tidak mau menerima maaf-maafan dan rekonsiliasi omong kosong. Seorang kiri dari Lereng Merapi pernah berujar, “Kalau ada anak muda kampanye rekonsiliasi di depan saya, pada detik itu juga akan saya injak-injak mulutnya”.[]Tarogong, 4 Ramadan 1436 H

Ubai Muchtar

Ubai Muchtar

Kontributor tetap buruan.co. Guru SMPN Satap 3 Sobang dan Pemandu Reading Group "Max Havelaar" di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten.

All stories by:Ubai Muchtar
Leave a Reply

Ubai Muchtar

Ubai Muchtar

Kontributor tetap buruan.co. Guru SMPN Satap 3 Sobang dan Pemandu Reading Group "Max Havelaar" di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten.

All stories by:Ubai Muchtar
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.