First Man: Perjalanan Ruang Angkasa dan Ruang Batin Neil

820 820 Aryo Jakti Artakusuma

Neil Amstrong adalah sebuah nama yang akan selalu terngiang-ngiang dalam benak. Sedari kecil sudah lumayan akrab dengan nama itu. Kedua orang tua saya, terutama Ibu, selalu bercerita mengenai kisah heroik sang manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan ini.

Tahun 2018, Sutradara tersohor Amerika Serikat, Damien Chazelle, membuat sebuah film biopik tentang Neil Amstrong, berjudul “First Man”. Film ini merupakan adaptasi dari buku James R. Hansen yang berjudul First Man: The LIfe of Neil Amstrong.

Ryan Gosling, yang juga berperan sebagai aktor utama dalam film Chazelle berjudul La La Land (2017), kali ini didapuk untuk memerankan sosok Neil Amstrong yang kalem dan tenang secara lahiriah.

Chazelle memunculkan sosok Neil yang sama sekali berbeda dari yang selama ini hadir dalam benak saya. Di film ini, sosok Neil benar-benar digambarkan sebagai manusia seutuhnya. Neil yang anti-hero, Neil yang energi psikisnya dihabiskan untuk mengatasi masalah-masalah pribadi dalam benak dan jiwanya. Neil Amstrong yang mengalami kemelut batin berkepanjangan.

Perjalanan Neil bukan hanya mengenai perjalanannya bersama Apollo 11 menuju bulan, namun juga perjalanan dalam berbagai keadaan bisa membuatnya hilang kendali. Sebuah perjalanan yang menunjukkan ruang batin Neil maupun ruang angkasa yang dijelajahi olehnya.

Salah satu hal yang paling menonjol untuk melihat perjalanan ruang batiniah dan ruang angkasanya adalah saat kematian putrinya, Karen. Putrinya meninggal saat umurnya masih balita. Ketika Neil berhasil mencapai bulan, ia meletakkan gelang milik Karen, juga bertuliskan nama Karen, di bulan yang hampa dan sunyi itu.

Ingatan tentang kematian Karen selalu menghantui Neil setelah kejadian itu. Hingga Neil masuk di kamp pelatihan sebagai astronot yang dipersiapkan untuk misi-misi angkasa NASA.

Ruang angkasa yang diilustrasikan Chazelle dalam film ini, membangkitkan ingatan saya akan larik puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul “Manusia Pertama Di Luar Angkasa”.

Kini Aku melayang di tengah ruang
Dimana tak berpisah malam dan siang
Hanya lautan yang hampa dilingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang
Jagad begitu tenang…

Ruang angkasa yang ditampilkan oleh Chazelle adalah imaji yang sunyi, sepi, jauh, dan mungkin juga dingin. Sebuah ruang yang mengisolasi. Pada adegan ketika Neil dan Buzz pertama kali membuka pintu dan menuruni tangga Apollo 11, semuanya langsung hening, hampa tidak bisa mendengar apa-apa. Perasaan terisolasi dalam ruang yang bernama angkasa ini akan sangat kuat meresap secara lirih dalam film, dan puncaknya ditampilkan dalam adegan itu.

Sebagai sebuah sajian sinematografi, film ini juga menyuguhkan citraan maupun imaji yang kuat dalam pengambilan gambar. Entah itu adegan membuka pintu, Neil sedang menggendong Karen, ketika Neill memakai baju astronot, ataupun adegan-adegan yang menampilkan ruang besar di markas NASA, yang berisi pesawat, roket, dan benda-benda lainnya.

Ada beberapa hal kecil dalam film ini yang cukup menggelitik benak saya. Pertama, bagaimana proyek ruang angkasa ini ternyata sebuah proyek bagi orang yang tak kuasa menahan beban mental akan menjadi stress dan gila. Mereka harus dihadapkan pada resiko kecelakaan yang bisa saja melenyapkan nyawa mereka. Dan hal itu menimpa karib-karib Neil dalam proyek-proyek sebelum Apollo 11 diluncurkan.

Yang kedua adalah ditiadakannya adegan mengibarkan bendera Amerika Serikat di bulan. Untuk yang satu ini jelas kiranya Chazelle akan mendapat masalah, minimal komentar miring dan cacian dari para nasionalis pendukung Trump yang fanatik itu.

Dan yang ketiga adalah bagaimana Chazelle menyelipkan potongan-potongan kejadian dan protes yang mengiringi misi Apollo 11 ini. Salah satunya yang masih terngiang di pikiran saya adalah footage  wawancara Kurt Vonnegut, penulis fiksi ilmiah cum tukang cemooh nomor wahid di negaranya yang pada saat itu getol mengomentari misi ini, dan juga tentunya lagu Gil Scott-Heron berjudul “Whitey on The Moon”.

Baca juga:
Layar Tancap di Pantai Depok
Ahmad Yulden Erwin: Puisi itu Sains

Begitulah, setidaknya film ini menyuguhkan suatu narasi tentang film bertemakan ruang angkasa yang berbeda dari kebanyakan. Ruang angkasa yang selama ini bak fantasi dibuat terasa realistis. Neil Amstrong ditampilkan sebagai sosok manusia yang juga bisa rapuh, tenggelam dalam batin serta cengkeraman kejadian masa lalu.

Neil Amstrong yang sentimental, yang menyukai lagu “Lunar Rhapsody”. Saking menyukainya, ia bawa saat ia berada dalam Apollo 11 ketika mereka menuju bulan. Neil Amstrong yang mempunyai perasaan cinta yang mendalam, yang hanya bisa terdiam ketika istrinya menjenguknya, terhenyak, lalu saling menatap dan tak lupa memberikan ciuman melalui kaca ruang isolasi yang memisahkan mereka.[]

Aryo Jakti Artakusuma

Aryo Jakti Artakusuma

Pegiat Komunitas Selepas Senja. Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan. Tinggal di Yogyakarta.

All stories by:Aryo Jakti Artakusuma

Leave a Reply

Aryo Jakti Artakusuma

Aryo Jakti Artakusuma

Pegiat Komunitas Selepas Senja. Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan. Tinggal di Yogyakarta.

All stories by:Aryo Jakti Artakusuma
error: