Menyimak Riak Sungai yang Mengalir Mundur
Kumpulan cerpen Sungai yang Mengalir Mundur menghadirkan narasi keinginan yang dibenturkan dengan realitas. Judulnya sendiri, yang mengandaikan kemungkinan aliran sungai yang mundur, telah menjadi metafora sentral bagi upaya tokoh-tokonya untuk mengingkari konsekuensi. Narasi tersebut disajikan melalui cerpen: 1) Ari-ari; 2) Surat dari Sura; 3) Sungai yang Mengalir Mundur; 4) Membujuk Ratmi; 5) Dosa Sutar; 6) Pada Pagi; 7) Kamu, Tiur, dan Pak Bim; 8) Ubo Rampe; 9) Calon Istri Muradi; 10) Dalang Jemblung; 11) Membakar Penyamun; dan 12) Jalan ke Luar. Kedua belas cerpen menunjukkan adanya pola berulang yang membentuk tubuh antologi ini seperti sebuah sungai. Terdapat riak-riak mulai dari hulu, tengah, hingga hilir: membentuk kritik sosial yang menyentuh relasi berpasangan, keluarga, moralitas, hingga konstruksi identitas di tengah tekanan tradisi dan modernitas.
Ibarat kita berada di hulu sungai, kita dapat melihat bahwa riak-riak yang terjadi pada setiap kelok sungai ini adalah adanya ekspektasi dan realita yang tidak mengalir beriringan. Riak-riak tersebut semakin memercik saat bertemu dengan ego setiap tokohnya.
Cerpen Ari-ari menjadi cerpen pertama yang disajikan dalam kumpulan cerpen ini. Seperti kita ketahui, ari-ari adalah organ penting yang berfungsi sebagai penghubung antara bayi dan ibunya sebagai pemberi nutrisi pada bayi dalam kandungan. Dalam masyarakat Jawa dan Sunda, ari-ari dinggap sebagai “kakak” bayi sehingga dikubur dengan ritual tertentu. Selain itu, terdapat tradisi Puput Puseur yang dilakukan saat pusar bayi yang baru lahir mengering dan lepas. Dalam Ari-ari, realita tekanan ekonomi dan adat menciptakan kecuraman pemisah antara Karyo, Munih, dan mertua. Cangkul yang “menghantam pendil tanah liat” menjadi simbol kekerasan diam-diam yang lahir dari frustrasi.
Dalam Surat dari Sura, Sura ingin bersama Adam. Hal tersebut berbenturan dengan realitas Adam yang sudah memiliki komitmen dengan perempuan lain. Dalam Sungai yang Mengalir Mundur, tokoh Aku ingin membuktikan hidupnya lebih baik dari mantannya dan ingin membuat mantannya menyesal. Hal tersebut berbenturan dengan realitas sang mantan yang tidak menyesali keputusannya berpisah dan tidak tergantung pada pengakuan orang lain. Dalam Membujuk Ratmi, Ratmi ingin bahagia dengan bercerai dengan suaminya lalu menikah dengan selingkuhannya. Hal tersebut berbenturan dengan realitas tokoh aku yang mengabaikan ketulusan Ratmi. Dalam Dosa Sutar, tokoh aku dan suami ingin membantu Sutar dengan meminjamkan uang. Hal tersebut berbenturan dengan realitas ketidakmampuan Sutar mengembalikan uang sehingga Sutar tertekan hingga bunuh diri. Dalam Pada Pagi, istri ingin kembali merasakan cinta suaminya seperti dulu. Hal tersebut berbenturan dengan realitas ia lupa cara mencintai suami. Pada Kamu, Tiur, dan Pak Bim, Tiur ingin bisa sekolah sementara kamu ingin bebas dari kekangan. Hal tersebut berbenturan dengan realitas tokoh kamu dan Tiur yang saling iri. Dalam Ubo Rampe, tokoh Aku ingin tetap dicintai oleh suaminya. Hal tersebut berbenturan dengan realitas tokoh suami yang cintanya semakin dingin kepada tokoh Aku setelah kedatangan tokoh Tinah.
Dalam Calon Istri Muradi, Martini ingin pernikahan yang harmonis dengan suaminya. Hal tersebut berbenturan dengan realitas Muradi, suami Martini yang ingin menikah dengan Mayang. Dalam Dalang Jembung, Ki Tohar ingin dihormati sebagai dalang dan ayah. Hal tersebut berbenturan dengan realitas Ki Tohar yang tidak bisa menjaga profesinya dan anaknya yang hamil di luar nikah yang meninggal bunuh diri. Dalam Membakar Penyamun, tokoh aku ingin keadilan tanpa kekerasan. Hal tersebut berbenturan dengan realitas Bapak dan warga yang main hakim sendiri dengan membakar penyamun hidup-hidup. Dalam Jalan ke Luar, Zul ingin diterima dan tidak diolok-olek karena bau badannya. Hal tersebut berbenturan dengan realitas ia yang dikucilkan dan harapannya terbatas pada masa depan yang sama seperti ayahnya.
Jika diibaratkan kita telah sampai ke tengah sungai, kita akan menyaksikan tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini “tersangkut” di tepi-tepi sungai. Mereka memiliki ilusi dan mengagungkan pencitraan sebagai pelarian dari realitas. Ketika komunikasi langsung gagal, tokoh-tokoh mencari pelarian dalam ilusi dan konstruksi citra. Cerpen Sungai yang Mengalir Mundur menjadi contoh telak: tokoh Aku sibuk membandingkan dan memamerkan kehidupan “bahagianya” di media sosial untuk menyakinkan Kinan bahwa Kinan salah. Narasi ini menyoroti pencitraan, di mana kebahagiaan diukur dari unggahan, dan kepuasan berasal dari rasa iri orang lain. Ilusi serupa muncul dalam “Surat dari Sura,” di mana Sura terus mengirim surat yang tak pernah dibaca, memelihara cinta satu sisi dalam fantasinya. Mereka berusaha “mengalirkan sungai mundur” dengan menciptakan narasi yang menyangkal kenyataan pahit—seperti pernikahan yang gagal, cinta tak berbalas, dan beban hidup yang membelenggu.
Benturan antara keinginan dan realitas ini mengalir deras sehingga memercikkan riaknya ke tepian sungai. Riak-riaknya terasa begitu nikmat dan segar—menumbuhkan ruang apresiasi dari keberadaan kopi. Penulis mampu memanfaatkan keberadaan kopi untuk menguatkan karakter tokoh-tokohnya. Ada tokoh yang dideskripsikan menikmati kopi, latte, dan espresso. Ada pula tokoh yang dideskripsikan menyediakan kopi untuk tokoh lain sebagai bukti bakti dan cinta. Jenis kopi dimanfaatkan untuk menunjukkan status sosial tokoh.
Aspek lain yang sangat penting untuk diapresiasi dari kumpulan cerpen ini adalah pemilihan nama-nama tokoh. Mayoritas tokoh memiliki awalan huruf “S”. Secara visual, huruf “S” menyerupai kelokan sungai. Selain itu, huruf “S” pun menjadi huruf pertama kata “Sungai” yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini berkelindan dengan makna sungai.
Setelah cerpen Ari-ari, cerpen kedua memiliki tokoh dengan huruf pertama “A” (Adam) dan cerpen terakhir memiliki tokoh dengan huruf pertama “Z” (Zul). Cerpen Ari-ari dalam konteks ini saya baca sebagai keterputusan individu dengan dunia rahim sekaligus keterhubungan individu dengan bumi. Tokoh Adam dalam cerpen kedua dalam konteks ini saya baca sebagai simbol manusia di muka bumi. Tokoh Zul dalam cerpen Jalan ke Luar dalam konteks ini saya baca sebagai metafora akhir dari sebuah sungai yang bermuara ke laut untuk kemudian menguap dan mengulang siklus hidup air sungai.
Menyimak Riak Sungai yang Mengalir Mundur pada hakikatnya mengantarkan kita ke hilir. Bahwa hidup harus terus mengalir. Antologi ini berhasil menangkap denyut nadi masyarakat Indonesia yang terjebak di antara tuntutan adat, ekonomi, dan hasrat individu. Setiap cerita adalah potret kritik terhadap kegagalan komunikasi, pelarian pada pencitraan, dan moralitas yang terfragmentasi. Sungai yang “mengalir mundur” adalah mustahil tetapi kemustahilan itu bisa saja menjadi mungkin karena adanya situasi khusus. Justru dalam ketidakmungkinan itulah antologi ini menemukan kekuatannya—sebagai cermin tajam bagi pembaca untuk menyimak riak-riak dalam kehidupan sosial kita.
Bandung, 13 Desember 2025
Tulisan ini merupakan pengantar diskusi buku kumpulan cerpen Sungai yang Mengalir Mundur di Toko Buku Pelagia (Sabtu, 13 Desember 2025)

