“Go Set a Watchman”, Ketika Jean Louise Beranjak Dewasa
“Mengapa aku kembali ke sini? Untuk menyakiti diriku sendiri, kurasa.” (hlm. 215)
Jean Louise Finch. Tentu, bagi yang telah membaca To Kill a Mockingbird karya Harper Lee akan sangat akrab dengan nama panggilannya, Scout. Bocah perempuan tomboy yang senang mengenakan celana monyet, suka bermain dengan kakak laki-lakinya Jem, juga Dill.
Itu dahulu. Dalam Go Set a Watchman, Scout mulai beranjak dewasa. Ia telah menjadi seorang gadis mempesona yang kuliah di kota besar New York. Namun, ia masih tetap lebih suka mengenakan celana, bukan blus layaknya gadis-gadis seusianya.
Di masa libur studinya ia pulang ke Maycomb County, kembali ke kampung halamannya dengan gejolak semangat generasi baru Amerika Serikat. Beberapa hari saja di Maycomb County, ia melihat Maycomb bukan lagi tempat yang tepat baginya. Kota kecil di selatan Amerika Serikat itu mulai menampakan jatidiri aslinya.
Kota itu dipenuhi olah orang picik yang rasis. Termasuk ayahnya sendiri, Atticus Finch. Kenyataan itu membuat Jean Louise tak sanggup tinggal lebih lama untuk menghabiskan liburan di kampung halamannya.
Padahal, dalam To Kill a Mockingbird, Atticus digambarkan sebagai tokoh idola. Pengacara yang mampu memperjuangkan seorang kulit hitam yang kaumnya dimarjinalkan di Maycomb County. Pada kepulangannya kali ini, semua itu hancur di mata Jean Louise.
Melalui Jean Louise, kita dapat merasakan ketegangan generasi baru yang sedang tumbuh di Amerika Serikat pada masa itu. Dimana isu rasialisme begitu mencuat. Wacana yang sebenarnya belum susut benar hari ini.
Konflik batin mencuat dan menggelisahkan Jean Louise. Cara pandangnya yang baru membuatnya dapat melihat, bahwa Maycomb County masih primitif dalam perkara kesetaraan hak antara warga kulit hitam dan kulit putih. Hal itulah yang membuat ingatan dua puluh tahunnya terhadap Maycomb County dan Atticus menjadi berantakan.
Dalam Go Set a Watchman kita diajak Harper Lee untuk merenungkan mengenai masalah kemanusiaan dan peradaban. Seperti dapat kita simak pada kata-kata Dr. Finch alias Paman Jack kepada Jean Louise, “Kelahiran manusia adalah hal yang paling tidak menyenangkan. Berantakan, menyakitkan, dan kadang beresiko. Dan, selalu berdarah. Begitu juga dengan peradaban….” (hlm. 208).
Paman Jack pulalah yang mampu meredam kemarahan Jean Louise terhadap Maycomb County, terutama kemarahan terhadap Atticus. “…teman-temanmu justru membutuhkanmu saat mereka salah. Mereka tak butuh kamu saat mereka benar—“ (hlm. 280).
Sebenarnya, Harper Lee tidak begitu ingin menerbitkan Go Set a Watchman sejak naskah ini ditulis sebelum To Kill a Mocking Bird (theguardian.com). Namun begitu, karya yang telah terpendam empat puluh tahun itu kini telah hadir memperkaya khazanah prosa dunia. Go Set a Watchman terbit pertama kali pada 14 Juli 2015 di Amerika Serikat dan Inggris.
Hanya berselang dua bulan dari penerbitan perdananya, pembaca Harper Lee di Indonesia sudah dapat membacanya dalam bahasa Indonesia. Mulai awal September Go Set a Watchman telah dirilis oleh Penerbit Qanita.[]
Data Buku
Judul: Go Set a Watchman
Penulis: Harper Lee
Penerbit: Qanita
Tebal: 288 hlm.
ISBN: 978-602-1637-88-3

