Puisi-puisi Aya Canina
kita bayangkan
kita bayangkan
kita bercinta
pada malam ovulasi nanti
mungkin listrik padam lagi
mungkin air pam mati lagi
mungkin kali bekasi naik lagi
mungkin jamet gebar geber lagi
mungkin pribumi bakar sampah lagi
mungkin di jembatan besi
tukang kerang dara
ngabisin sebungkus garpit sampe pagi
dan bayi tetangga kepanasan menolak asi
ibunya bakal ngeluh di grup cluster
ibu-ibu lain pusing mikirin bekal sekolah besok pagi
minta solusi
ke bupati korupsi?
pada tuhan yang maha pengasih?
kita bayangkan
kita bercinta
selama 20 tahun cicilan lagi
masih ada 240 malam ovulasi lagi
ah, semoga bulan depan
aku menstruasi
pernikahan
pagi ini hati si mbak pedih sekali
sebab si mama telpon barusan tadi
cuma untuk tanya masak apa buat suami.
pernah si mbak mengeluh pada mama
tentang jauh kini jarak rumah dan jakarta
tentang jauh kini jarak tubuhnya dan bahasa
tapi mama selalu kembali ke semula:
tapi di sana deket pasar kan?
tukang ayam ada, mama
tukang ikan ada
tukang sayur ada
tukang beras ada
tukang marah
ya anak mama ini.
nasib membawa kita ke kota korup ini
tidak bisakah kita saling mengasihi
tanpa membawa serta status istri?
jalan pulang
si mbak melaju dengan beat keylessnya
di punggungnya backpack kulit sintetis
dengan jaket junkies dan crocs bae clog
dengan iphone pro dan tumbler corkcicle
si mbak merasa
jalan raya kabupaten ini bukan untuknya.
tapi tetap ia melaju
melewati perempatan setan
melewati jejeran kios sate biawak
melewati spanduk rombeng iklan perumahan
melewati usia tiga puluh
melewati angan-angan slow living
                       tai!
sambil memandang kanan-kiri
si mbak mencari kisi-kisi puisi.
di depan rumah sakit ananda
lima lampu jalan padam
para begal mungkin lagi kobam.
si mbak menyingkirkan ancaman
dengan membayangkan kenangan
sebuah ciuman
dari lelaki yang bukan suaminya.
itu puisi, pikirnya.
kita butuh sesuatu yang jalang
untuk hidup yang sudah sebegini malang.
di depan jalanan berlubang
payudaranya berguncang
bau asap pembakaran
membuyarkan lamunan.
ah!
ia ingin pulang
ia ingin telanjang
ia ingin memikirkan
masih ada kenikmatan
yang bisa ia kecup
dari segala ketelanjuran.
di gerbang cluster
geber lagi, jamet!
ciprat lagi becek itu ke baju gue!
mari pulang
tidak ada strava hari ini
tidak perlu catatan
untuk lari menuju kenyataan
untuk lari dari negara
yang menjadikanku & jamet
saling berprasangka
aku pulang
jamet mendahuluiku.
di gerbang cluster
di samping pos sekuriti
dia parkirkan vario cepernya
sekuriti itu menyambutnya
jamet salim pada sekuriti
sekuriti mengelus kepalanya
jamet tertawa
sekuriti tertawa
sederhana
tapi bapakku tidak bisa.
baiklah, kumaafkan
bekas becek di baju ini.
tambun, 2026
tidak ada seekor puisi di sini
yang ada hanya seekor huruf a besar
     Asu!
dua puluh tahun cicilan
untuk bait-bait si mbak yang rentan kebanjiran
karena clusternya mepet kali bekasi
Ah!
mbak penyair
tidak ada waktu untuk sedih sedih
si mbak harus ke pasar
cari 1 liter pandan wangi
buat bekal kerja suami
buat makan malam suami
tidak pernah lagi hanya buat diri sendiri
belum pernah
kata-kata batuk separah ini
kena asep knalpot vario ceper
kena asep pembakaran sampah
warga belakang cluster
belum pernah
si mbak susah payah
mengais luka & nostalgia
untuk memberi makan seekor saja
puisi
bulan ini jadwalnya renovasi
rumah dulu, puisi nanti
meski di antara keduanya
si mbak masih kerap bertanya-tanya
mana yang sebenarnya
mampu membawanya
pada pulang

