Puisi-Puisi Pradewi Tri Chatami

820 820 Pradewi Tri Chatami

Unlucky — Untuk Alice Sebold, Karena Wonderland Ternyata Tidak Ada

I’ll soak my skin in heroin, until I feel untouchable*

Umurmu waktu itu delapan belas, seharusnya masih cukup untuk kauturut kelinci
masuk ke lubang rahasia. Tapi kau malah berjalan pulang melewati terowongan.

Di ujung sana tiada cahaya.

Sementara baru sampai separuh perjalanan, seseorang memerkosa dan memukulimu.
Umurmu waktu itu delapan belas, dengan umur trauma lebih panjang dari masa kecilmu.
Tapi polisi berkata,

“Kau beruntung, seseorang diperkosa dan dibunuh betulan di sana.”

Kau masih belum keluar dari terowongan dan di ujung sana tiada cahaya.

Mereka tak menemukan siapa pemerkosamu. Kautemukan ia, atau ia menemukanmu,
begitu yang kaupercaya. Polisi menemukan sehelai rambut yang jatuh dari lelaki tak kaukenal dan selaput ingatanmu menjebloskannya ke penjara. Mereka ingin kaupercaya bahwa mereka bisa bekerja, bahwa keadilan bisa tercipta, bahwa kau beruntung. Atau kau yang begitu menginginkan keberuntungan?

Umurmu waktu itu delapan belas, setahun lebih tua dari desegregasi, dua tahun lebih tua
dari asasinasi Malcolm X, lima tahun lebih tua dari asasinasi MLK.

Apakah kau sudah keluar dari terowongan? Apakah ada cahaya di ujung sana?

Umurmu kini lima puluh delapan. Dari cermin kaulihat umur trauma
dan penyesalanmu kelak tercantum di tulang-belulang tercinta, berebut keabadian
dalam sepotong buku,

Sementara umur kebebasan pemerkosamu sepanjang sistem hukum Amerika.

2021-2022
*potongan lirik lagu Untouchable - Rialto, dengan penyesuaian.


Kamikakushi

Tak ada makan siang gratis dan semua orang harus menjaga namanya sendiri, lelaki itu berkata sambil memberinya mantra, lalu mengantarnya mencari kerja.

Gadis itu mengingat semua dan menghapus air matanya. Ia tidak akan kehilangan dirinya, dan akan menolong orangtuanya. Seorang penyair berkata, apalah arti sepotong nama. Tapi bukankah itu yang diberikan Tuhan pertama-tama pada manusia?

Tuhan dan hantu ternyata begitu terobsesi pada nama-nama, pada sepotong wajah dan macam aroma. Sementara ia telah tumbuh dan melupakan isak tangisnya, lelaki itu berubah menjadi naga.

Apakah jahat dan baik, jika semua bisa berganti rupa, bahkan tak punya wajah sama sekali.

Gadis itu pun pergi dan menemukan cintanya: sepasang sepatu yang dulu hanyut adalah pertanda bagi pertemuan dan perjalanan, mungkin juga, perpisahan.

Segalanya telah kembali, dan yang kelak kaumiliki barangkali hanya kenangan baik, asal kau tak menoleh lagi, katanya.

Gadis itu berlari melupakan penyihir dan kereta, permandian dan naga. Ia tetap tak tahu apakah yang jahat dan yang baik, tetapi pada kenangnya mengalir sepotong nama, sebuah tanda.

2020


Semangka

Semangka yang kubeli di pasar jatuh dan menggelinding ke tembok penjara. Seseorang memungutnya dan berterima kasih, dengan doa dan sebutir semangka, ia akan bisa bebas
dan pulang ke ujung Barat negeri ini, lalu menghilang.

Semangka yang kubeli di pasar jatuh dan menggelinding ke Palestina. Seseorang memungutnya, lalu mengirisnya sambil berkata bahwa kebun-kebun jadu’l di Jenin melahirkan anak-anak
dan harapan bagi para pengungsi. Ia pernah juga mendengar seseorang dipenjara karena seiris semangka. Ia bungkus seiris semangka dengan bendera dan menyerahkannya kepadaku, “from the river to the sea…”

Semangka yang kubeli di pasar jatuh dan menggelinding ke Amerika. Seseorang memungutnya dan berkata, kami tumbuhkan semangka di kebun-kebun kami setelah merdeka, dan orang-orang kulit putih tak menyukainya. Mereka sebut ini buah kotor milik orang Arab yang kini menjadi buah kesukaan para kera.

Semangka yang kubeli di pasar jatuh dan menggelinding entah ke mana saat sepotong lagu diputar dan terus terngiang saat aku mencari semangkaku,

“Watermelon sugar high
Watermelon sugar high
Watermelon sugar high
Watermelon sugar high
Watermelon sugar…”*

2021-2022
*potongan lagu Watermelon Sugar – Harry Styles.

Mencuci

Aku baru kelas empat SD ketika ibu memintaku mencuci pakaian seluruh keluarga.

“Pisahkan pakaian putih dan berwarna, hati-hati ada kain yang masih luntur.”

Kusiapkan dua ember, kadang tiga. Air masih harus kutimba dari sumur dangkal.
Aku suka mencuci, melihat buih putih menjadi coklat. Segala noda bisa hilang,
kau hanya perlu menggosoknya sedikit lebih keras, menambah sabun sedikit lebih banyak, merendam sedikit lebih lama.

“Aku kesulitan mengingat peristiwa dalam lintasan usia, tapi aku ingat apa yang terjadi dan bagaimana perasaanku,” kataku kepada konselor, belasan tahun kemudian. Terkadang aku teringat saat mencuci dan mencoba merendam memori lebih lama, menggosok-gosok kepalaku agar bisa terang segala peristiwa.

Peristiwa-peristiwa luntur, dan aku merasa berdosa. Apakah aku tak sengaja mencampur memilih jalan yang salah, atau peristiwa buruk terjadi kepadaku?

Bagaimana cara mencuci ingatan, dengan deterjen apa semua kenangan dibersihkan?

2021-2022


El Mar, La Luna

Aku selalu merindukan laut sekaligus tahu bahwa aku hanya bisa mencintainya dari jauh.
Ia tak menerima siapa saja yang tak mahir berenang dan aku tak kunjung berhasil meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja tinggal di kedalamannya.

Ia kembalikanku ke tepian, memintaku duduk di karang dan menatap batas yang tak mungkin aku lewati. Gelombangnya mencapai kakiku dan menyampaikan semacam kerinduan, semacam pengumuman bahwa ia akan surut ke palung dalam dirinya dan tak membawaku serta.

Bila pagi datang ia memintaku pulang. Bila malam tiba ia berikan kepadaku para pelaut yang akan memintaku menunjukkan arah, membangkitkan gelombang, dan sedikit saja cahaya tempat ia bercermin, dan sedikit mengakui bahwa ia telah kehilanganku berkali-kali untuk kami saling menemukan lagi.

2021

Pradewi Tri Chatami

Sehari-hari bekerja sebagai staf redaksi Marjin Kiri dan berjualan buku di Littera Textilis.

All stories by:Pradewi Tri Chatami