Puisi-puisi Irwan Segara

820 820 Irwan Segara

Banten Girang

Adalah hijau hutan, kenangan yang ungu,
Rumah-rumah kelabu, masa depan yang kemilau,
dan wilayah-wilayah
Yang belum ditaklukan

Ayah dan anak itu,
Menatap tanah baru dari ketinggian
Di mata mereka
Patung-patung Durga dan Ganesha retak
Keyakinan lama akan berganti dengan yang baru
Yang akan jadi selimut
Bagi jiwa yang ditaklukkan
Kidung-kidung pemujaan
Kelak berganti lantunan azan

“Lalu setelah itu apa, ayah?”
tanya Hasanuddin penuh keraguan.

Kenapa harus ada yang ditaklukkan
Dan ada yang menaklukkan?

Keheningan mengalir seperti arus
Sungai-sungai melantunkan kepulangan
Kata-kata telah mati
Di hadapan keheningan.

Dari Surosowan

Dalam diriku
Malam bertabur mantra
Membentang cahaya bulan
Dari langit ke danau batin,
Pusara waktu dan reruntuhan benteng
Yang ditinggalkan
Sepasang mataku mengembara
Dari Surosowan hingga Vihara
Ingatanku meleleh dalam kasunyatan
Sepasang kakiku seperti huruf-huruf
Yang menyusuri putih kertas
Melangkah dari selembar sunyi
Ke lembar yang lain
Dari lembah-lembah gelap
Menuju jalan setapak yang senyap
Jadi pengembara tanpa peta,
Dalam diriku
Segala yang mati
Dibangkitkan kembali.

Di Dermaga

Ke mana tahun-tahun lenyap
setelah kulayari dengan perahu nasib

dermaga ini
adalah satu-satunya tempat
yang menyambut
segenap pertemuan dan perpisahan

sebelum angin mengantarmu menuju keluasan

ke mana perginya tahun-tahun yang lewat
kenangan tak selamanya kemenangan
kau tak perlu mengenangku
lantaran kita pernah hidup bersama

laut yang kau layari
adalah lautku juga
biru langit yang kau tatap
adalah langit yang kutatap juga

badai tiba lebih cepat dari biasanya
sia-sia kita tegakkan angan dan mimpi

ke mana perginya tahun-tahun yang lewat
cuaca tak selamanya badai
ke mana perginya peristiwa-peristiwa itu
waktu tanganmu dan tanganku meraba jiwa cinta

Hoodoo
buat a.s.

Ada yang diam-diam menjagamu
Dari tangan-tangan kegelapan,
Dari bencana yang diseret kaki-kaki nasib

Ada yang diam-diam menjagamu
Dari kehendak untuk bunuh diri,
Misalkan: melompat dari ketinggian gedung,
mencoba mengiris urat nadi sendiri.
Pikiran-pikiran itu hanya lewat dalam benak,
lalu sirna bagai angin.

Ada yang diam-diam menjagamu
ketika orang-orang menjelma binatang
yang menembakkan birahi
dari sepasang mata mereka,
betapa tubuhmu adalah hidangan.
Namun seperti ada sesuatu yang menjagamu
dari segenap bencana.

Irwan Segara

Irwan Segara

Lahir di Lebak, Banten, 17 April 1989. Puisi-puisinya termuat di Jurnal Sajak dan Kompas. Buku puisinya "Perjalanan Menuju Mars" (Gambang: 2018). Kini menetap di Yogyakarta. Anggota tambahan Sindikat Sastra Rawarawa.

All stories by:Irwan Segara
Leave a Reply

Irwan Segara

Irwan Segara

Lahir di Lebak, Banten, 17 April 1989. Puisi-puisinya termuat di Jurnal Sajak dan Kompas. Buku puisinya "Perjalanan Menuju Mars" (Gambang: 2018). Kini menetap di Yogyakarta. Anggota tambahan Sindikat Sastra Rawarawa.

All stories by:Irwan Segara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.