Puisi-Puisi Giuseppe Ungaretti

820 820 Eka Ugi Sutikno

Bangkit
Mariano, 29 Juni 1916

Tiap kali
aku tinggal
di waktu sebelumnya
di berjangka waktu terdalam
dalam diri

Aku begitu luput dari ingatan
mengikuti kekalahan hidup

Aku terbangun di bak mandi
yang biasa dihargai
dengan kejutan
juga dipermanis

Aku memburu langit yang
lembutnya merentang
bersama mata yang waspada
dan aku teringat
beberapa kawanku yang maut

Tapi apa itu Tuhan?

Dan makhluk
menakutkan membuka
mata lebarnya
dan menyambut
bintang-bintang luruh
dan daratan kelu

Dan merasa
pulih

 

Sungaiku

Aku belah pohon mutilasi ini
yang terbengkalai di dalam lembah
itulah hidup yang tak seberarti
sebuah sirkus
di antara pertunjukan
dan aku memperhatikan
mega-mega berlalu
dengan tenang menyeberangi bulan

Pagi ini aku berbaring
di dalam sebuah kendi air
dan seperti sebuah istirah
relik

Isonzo memeliturku
kini
seperti salah satu bebatuannya

Aku mengibarkan diri
dan pergi
seperti seorang akrobat
di bawah air

Aku berjongkok
di dekat pakaianku
yang kotor karena perang
dan seperti orang badui yang menerima
matahari

Inilah Isonzo
dan inilah aku
mengetahui lebih baik untuk menjadi
pemberani yang taat
di jagat alam

Siksaanku adalah
tidak untuk mempercayai diri
dalam keselarasan

Tapi tangan-tangan
sembunyi itu meremasku
memberikanku
kerenggangan
bahagia

Telah kuperhatikan
selama tahun-tahun
kehidupanku

Inilah sungai-sungaiku
inilah Serchio*
yang telah memberikan air
mungkin selama dua ribu tahun
untuk para petaniku
untuk ayah dan ibuku

Inilah Nil
yang melihatku
lahir dan tumbuh
terbakar ketidaktahuan
di daratan luas

Inilah Seine
dan gejolaknya
telah kuaduk
dan datangi agar mengetahui dengan sendiri

Inilah nostalgiaku
yang bersinar melaluiku
di masing-masing
kini adalah malam
yang tampak bagiku
sebuah bayang
mahkota

*Sungai Serchio mengalir di dekat Lucca

 

Dentum
Locvizza, 23 September 1916

Bersama laparnya serigalaku
aku runtuhkan
tubuh biri-biriku

Aku seperti
perahu tanpa harap
dan seperti lautan bandot

 

Nostalgia
Locvizza, 28 September 1916

Ketika
malam hampir punah
sebelum sececah musim semi bermula
dan orang-orang
jarang berlalu

Sewarna gelap
bercucur
tebal di atas paris

Di sudut
jembatan
aku merenung
sunyi yang tak terhingga
dari gadis lampai

Kami berdua
berpenyakit
berlari bersama

Dan ketika melakukan di lain tempat
di sanalah kami tinggal

 

Mengapa
Carsia Guilia, 1916

Hati gelap hilangku
membutuhkan beberapa keringanan

Di retakan lumpur berbatu
seperti bilah rumput yang di tempat ini punya
hendak bergetar sepoi dalam cahya

Tapi aku
berada di ambin waktu
hanya kepingan-kepingan batu belah
di jalan sementara
peperangan

Sejak
ia menatap paras
abadi dunia
kegilaan ini
jatuh ke dalam labirin
hati jengkelnya
yang rindu ingin tahu

Hati pendengaranku
telah dikemas
seperti bekas roda kendaraan
tapi diketemukanlah yang dicari
terperanjat
dari perjalanan maut

Aku mengamati horizon
berkerak dengan kawah

Hatiku menghendaki gejolak
setidaknya yang dilakukan malam
setidaknya bersama jet-jet roket

Aku membopong sebuah hati
yang bergemuruh di bawah tanah
dan memecah
seperti tempurung
tanah datar
tapi enggan meninggalkanku
meski dengan penerbangan sekalipun

Hati malang
kebingungan
bersama ketidaktahuan

 

Envoi*
Locvizza, 2 Oktober 1916

Yang terhormat
Ettore Serra
Puisi adalah dunia ras manusia
Dari kehidupanku
Segala yang membunga dari kata
Keajaiban yang tembus pandang
Dari fermentasi igauan

Ketika menemukan
Satu buah kata
Di keheninganku
Inilah yang kupahat di kehidupan
Seolah neraka

*Puisi ini merupakan karya terakhir dari Il Porto Sepolto yang ditujukan untuk Ettore Serra, yang menerbitkan buku ini.

Biodata Penyair
Giuseppe Ungaretti (1888-1970) adalah anak dari petani Tuscan yang beremigrasi ke Mesir dan menjalankan sebuah toko roti di pinggiran Alexandria. Ia adalah penyair pembaharu Itali, jurnalis, esais, kritikus, dan akademisi. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Patrick Creagh (Penguin Modern European Poets).

Eka Ugi Sutikno

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno
Eka Ugi Sutikno

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno