Fb. In. Tw.

Puisi-Puisi Faika Alhabsyie

/1/ Kepulangan Orang Mati

nenek dan kebayanya
adalah satu tubuh
setiap malam
kulihat dirinya dalam bayangan kuning kemerahan;
lalu menjelma menjadi hitam

di depan mesin jahitnya ia duduk
disisirnya rambutnya
yang panjang pekat,
sepanjang menyentuh lantai papan rumah

Ia menyeru,
namun tak bersuara
membuatku terjaga sepanjang malam
agar kubukakan pintu untuknya.

 

/2/ Wanita Penunggu

Paman berkata bahwa:
ada yang menungguku di belakang
ingin diceritakannya sesuatu padaku
namun aku tak pernah mau

“Perempuan berbaju merahkah?”
hanya senyum ia sodorkan
mencekam

menjelang fajar
kuberanikan diri menemuinya
ia tampak sakit; pucat
dihampiri kelam
setiap malam

saat ia mendekat
dengan tergopoh-gopoh
tanpa sadar ada sesuatu yang direnggut dariku

kemudian hari
aku jatuh sakit

 

/3/ Folklor di Waktu Magrib

kunyalakan lampu-lampu rumah
tirai-tirai ruang tamu kututup
terdengar deritan-deritan pintu

kumandang azan mulai berseru
Namun, bocah-bocah masih berlarian– melanglang
menghiraukan panggilan ibunya

kudengar, katanya ada seorang anak dari kampung sebelah menghilang
hilang dalam permainan sembunyi-sembunyi
dengan kawannya ‘yang lain’

ketika kuintip dari tirai jendela,
ia dipulangkan oleh seorang perempuan

Perempuan itu lalu berjalan menuju halaman teras
mengetuk pintuku
aku terpaku

 

/4/ Rindu yang Terkutuk

ada laci di atap rumah
tak pernah ada yang membukanya
setiap malam kudengar ketukan
tuk, tuk, tuk
tuk, tuk, tuk

“Ini ayah.” serunya di balik sana
namun, hari sudah terlalu larut
ayah tak akan pulang jam segini

saat kubuka lemari
ibu berbisik, “itu benar ayahmu.”

ketika kubukakannya laci itu
ia dan jelmaan bayangannya
menuruni tangga

apa perlu kunyalakan lampu?
tak usah, katanya
mereka kebasahan
apakah hujan di luar sana?
mengapa tak pakai mantel?
sudahlah. sudah terlalu malam untuk bertanya

aku kembali tidur
mereka menemaniku di bawah meja

 

/5/ Tamu dalam Gelap

seringkali
aku ditinggal sendiri
dalam gelap

kunci pintu,
siapkan lilin,
korek api dan bangku-bangku
alih-alih mati lampu
salah PLN, namun tak jua ingin mengaku

mengaji,
jangan membuka pintu jika ada yang mengetuk tanpa salam

menjelang magrib ocehan-ocehan itu seringkali diucapkan
setiap malam aku membaca kitab
tak dibiarkan jeda
bila bapaktua belum usai sembahyang dan kembali ke rumah

pintu berderit
dari ekor mataku
kulihat mamatua telah pulang dari mesjid
berdiri di ujung tangga sambil mengenakan mukenah putih
dan melihat kemari

Seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin yang sedang menempuh studi prodi Sastra Bugis-Makassar di Kota Makassar. Hobinya membaca buku, menulis puisi di waktu senggang, journaling dan nonton film/serial

You don't have permission to register