Fb. In. Tw.

Puisi-Puisi Azman H. Bahbereh

Lebenstein

di anak tangga depan biara
pada tahun yang jauh
tangis seorang bayi
meletupkan gelembung mimpi biarawati.

dimulainya dinding kastil
serta lancip katedral
mengawal perjalanan
ke satu kaul: sumpah suci abadi

masih sucikah itu bagimu, ida?

dari mulut seorang pelacur
telah kaudengar sebuah kelahiran:
bukanlah di samping lilin-lilin
yang mendongakkan nyalanya ke kayu salib
melainkan dari sisa pembakaran yang terbang sebagai abu.

dua kutub hinggap di bahumu
mereka saling tikam dari atas mimbar masing-masing
dan kau, tak berhasil menemu diri
mana gelap mana terang
sebab kali ini, kau terjebak bayang yang bimbang.

sinagog yang musnah di sudut-sudut lublin,
atau gereja megah tempat kanak-kanakmu beranak pinak?

pertanyaan itu
mengikat kedua kakimu
kau rebah pada kenangan hari belia
sewaktu berangan-angan altar akan membawamu
ke tempat paling kudus.

namun, kepalan tangan
dan pejaman mata
di bawah kayu penyaliban
bukan lagi kepunyaan.

kau adalah didih darah yang mendendam
mengalir, membentuk seribu kanal
ke liang-liang pembantaian.

dengan tatapan tak berunggun
juga nyawa yang melayang
seperti musim dingin di balik jendela
kau gerakkan tubuh menuju cermin
setangkai rambut keluar
di antara kening dan mantila biru mudamu.

sebuah pertanyaan kembali muncul
mengembun di tubuh cermin:

akankah kaugantungkan tuhan di belakang pintu?

sementara di luar
salju menderitkan gerendel gerbang
alis matahari mengintip dari belakang
mengendap lewat gigil batang-batang poplar.

dan kau, ida
sedikit demi sedikit melepaskan diri
berjalan keluar dengan jiwa telanjang
lalu melihat lelaki saxophone
meniup tahun baru dengan irama blues
di atas lantai dansa.

2022

 

Lewat Alas Baluran Malam Hari

di jalan ini
malam tercipta dari ribuan denging serangga
memasung ketakutanmu
yang melata dari ujung sepatu
sampai kedua ruas bahu.

kau tak menemukan setitik kunang-kunang
berpendar layaknya wajah resi
hanya keterasingan yunus
berayunan di ranting pinus
yang ujungnya hilang ditelan kegelapan.

di jalan ini
tak ada apa-apa
kecuali kuning lampumu
menjulurkan lidahnya
ke jalan-jalan berliku
yang seolah terbentuk oleh tubuh ular.

dan madu bulan
yang mengapung tinggi di atas ubun-ubunmu
menatap kesendirianmu
ketika suara-suara mesin terlampau jauh.

2022

 

 

Lumba-Lumba di Bawah Langit Lovina

pagi masih bergelayut
di langit biru safir
awan-awan,
mengukir kawanan domba.

kita duduk sejajar
setengah menekuk lutut
di kursi beton yang memanjang
mendengarkan angin berlalu
lewat kerincing kalung-kalung kerang
sambil mengikat diri
dalam kebisuan sendiri
di bawah sayup-sayup dedaun ketapang.

dari arah pelayaran sana
sejauh jarak diam kita
sebuah perahu mengecup bibir pantai
pelancong cina
juga turis eropa
berduyun-duyun naik ke atasnya
menenteng toples
berisikan remah-remah roti.

“mereka ke tengah laut.” ucapmu

mesin mendesing
baling-baling mengadu nasib
seperti katir di kedua sisi,
gelak tawa yang mekar di mulut mereka
membelah laju udara
mereka bersiap menyeka mata sipit dan gading rambut
dengan peluh keringat lumba-lumba.

2022

 

 

Malam Pembantaian

pisau di atas batu asah itu
mengedipkan matanya
meneror kepala-kepala linglung yang ada di ruangan
mereka berhambur mundur
berebut tempat di sudut
dengan kedua kaki gemetar.

rintihan serak mereka
gumam cemas mereka
bayangan lemas mereka
kelopak buncah mereka
keringat dingin mereka
menyumbat napas di kedua rongga mereka.

lampu gantung pucat pasi
menyaksikan tiga di antara nyawa-nyawa mereka yang terkulai
ditarik pangkal lehernya
dibaringkan
di atas kursi penjagalan.

tanpa baju
jari-jari si penjagal
memeluk gagang pisau
dan
terdengar secorak bunyi sedikit tenggelam
ketika mata pisau yang berkilat itu
menjilati kulit kerongkongan ketiganya.

merah darah mengucur
sampai ke tepian
merayapi lantai acian
anyirnya menggumpal bersama asap rokok
yang membumbung tinggi
ke seng abu-abu ruangan.

sementara di balik pintu bambu
malam legam sudah terbaring lemas
di emperan toko roti
memandang ajal yang mendekat.

“seret tiga lagi.” jerit si penjagal

lalu
dari luar ruangan
terdengar keras
kokok kawanan mereka bersahutan
memanggil-manggil sekolompok malaikat
yang tengah turun dari atas langit.

2022

Lahir di Singaraja, Bali. Mahasiswa dan tukang jagal ayam. Akun media sosialnya: @azmanhbahbereh

You don't have permission to register