Puisi-Puisi Ananda Bintang

820 820 Ananda Bintang

Hujan di Jatinangor

Adalah Jatinangor yang kesepian
Seorang lapuk tak menemu pulang
Menghujam bebatuan, menikam terang

Jatinangor malam
adalah jatinangor yang muram
Gegap—gelap—bau hujan
Ibu merintih di dapur makan

Melihat, mendengar seorang anak
Memanggil sunyi, menelan duri.

Bahwa; “kematian…” ujarnya,
“adalah harum yang tak bisa dipadamkan.”

2019

 

Subuh

Aku terbangun dari subuh buta
memungut waktu-waktu di udara

Biar hari selamanya panjang
dan selingsing fajar ketinggalan berita

2021

 

Nasi Kucing

Kata pemerintah, kita harus di rumah
Menanti kematian mengetuk pintu
Dan waktu tambah uzur

Lalu kucing-kucing
Kehilangan arah pulang
Tak disediakan makan

2020

 

Waktu yang Terlipat  

Di kamar, ada laci
Kusimpan ketakutan-ketakutan
Dilipat dan dirahasiakan

Kututup rapat-rapat
Dan kubuka untuk kematian

2021

 

Pertemanan Kontemporer 

Aku menemanimu
Sebab kamu SEO-Friendly
Lahir dari sirkel-sirkel tersohor
Tenggelam beratus like dan retweet

Engagement rate-mu tinggi
Fotogenik dan mudah dimanipulasi

Tapi, hari ini masih siang
Nanti aku temui jam 7 malam
Di mana traffic dan insight
Sedang melayang-layang

 2021

 

Langit

Adakah indah dari langit,
selain kematian yang puitik?

Mendongak
Seikat langit tak berisi
Awan bekas hujan kemaren
Bebauan panas sedikit kena matahari
Badan selonjor di rumput
Dan gatal-gatal

Kita bicara sambil sesekali
mendongak ke langit kosong
tentang dunia yang pudar,
yang mati atau yang ditinggal.
Dan bertanya, itukah kematian?

2020

Ananda Bintang

Ananda Bintang

Mahasiswa dan penikmat sastra. Sedang merintis komunitas @lingkarpuisifib bersama teman-temannya di FIB Unpad. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa.

All stories by:Ananda Bintang
Ananda Bintang

Ananda Bintang

Mahasiswa dan penikmat sastra. Sedang merintis komunitas @lingkarpuisifib bersama teman-temannya di FIB Unpad. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa.

All stories by:Ananda Bintang