Puisi-Puisi Alda Merini

820 820 Eka Ugi Sutikno

Alda Merini

Aku menyukai beberapa pecinta yang tulus
tanpa mereka sadari apa-apa mengenainya.
Dan aku menenun jaring laba-laba dari ini
dan aku selalu menjadi sasaran akan ciptaanku sendiri.
Di dalam diriku terdapat jiwa cabul
dari salah satu santo yang syahwat akan darah dan hipokrit.
Banyak orang memberikan label pada cara hidupku
dan segalanya, sedangkan aku hanya histeris.

 

[Bagiku, aku menjadi burung]

Bagiku, aku menjadi burung
dengan rahim lembut yang cerah,
seseorang memotong tenggorokanku
hanya untuk tawa,
entahlah.
Bagiku, aku menjadi elang laut masyhur
dan mengitar di atas lelautan.
Seseorang meletakan akhir dari perjalanan panjangku,
tanpa ada derma dalam nada itu.
Tapi bahkan berbaring di tanah
kini aku berlagu untukmu
cinta atas lagu-laguku.

 

Pernikahan Romawi

Ya, ini akan menjadi rumah kita,
hari ini aku di sini untuk menyaksikannya;
tapi kau, laki-laki sehat, siapa kau?
Aku menerima langkahmu: sebuah formula keabadian.
Kau mengambil rupa yang tak terelakan.

Kau akan menggaliku hingga ke akar
(tidak untuk mencariku, tidak untuk menolongku)
kau akan menanggalkan segala yang tersembunyi
melalui kebengisan dari kebiasaan gilamu.

Kau akan menggagahi intisariku
laki-laki yang memaksaku:
kau kan melukai dagingku dengan gigimu,
kau akan mengendap ke dalam semangat kerinduan
untuk menyumbat rasa dari keterdesakan.

Seperti batu yang memisahkan air,
muda dan arus amuk,
serampangan, kau akan menguraiku
ke dalam lengan-lengan delta lara…

 

Dan Ini akan Menjadi Lebih Mudah

Dan ini akan menjadi lebih mudah untukku
untuk menghampirimu pada tangga kelam,
maka tumbuhlah hasrat seorang yang memperkosaku
seperti serigala tandus di malam hari.

Aku tahu bahwa kau akan memetik buah-buahanku
bersama sepasang ampunan tangan yang bersahaja…

Dan aku juga tahu bahwa kau mencintaiku dengan mesra
suci, tak terhingga, dalam sedih…

Apabila tangisku padamu, aku mengelantangkannya perlahan
dengan berhari-hari seperti yang dilakukan cahaya pudat
dan dalam sunyi aku mengirimkannya kembali pada kedua mataku,
yang, jika aku melihatmu, hidup bersama bintang-bintang.

 

[Ibu pertamaku terampas]

Ibu pertamaku terampas
berada di malam musim yang gugur
ketika seorang majenun membawaku
dan menempatkanku di atas rumput
dan memaksaku agar mengandung seorang anak laki-laki
oh taklah bulan pernah menangis jerit
menantang arah bintang-bintang,
dan taklah rahimku pernah menangis jerit,
dan Tuhan tak akan memalingkan kepalanya
seperti yang telah ia lakukan secara seksama
memperhatikan keperawanan ibuku
dilanggar, diperlakukan sebagai pangkal tertawaannya.
Perempuan pertamaku terampas
berada di sudut gelap
di bawah gelora panasnya seks,
bersama senyum paling manis
dan segala yang termaafkan.
Tapi aku sendiri tidak akan pernah memaafkan
dan si anak laki-laki itu terambil dari rahimku
dan dipercayakan ke dalam “kesucian” kedua tangan,
tapi aku adalah orang hina,
aku adalah orang yang mendaki surga
agar memiliki benih permulaan.

 

Celemek

Ibuku, meski begitu, memiliki sebuah celemek
untuk hari-hari libur dan kerja
dan agar senang ia melipur diri dengannya.
Kami menemukan hiburan di celemek itu
yang telah diberikan kepada para pemungut kain tua
setelah kematiannya, tapi seorang gelandang,
menyadari sifat keibuan itu,
yang terbuat dari bantal lembab,
untuk nafkah ritual pemakaman si gelandang.

 

 Peribahasa

Tak selamanya
yang orang kendalikan
menjadi hal
yang abadi.

Penyair
yang menatap segala
mendakwa
kebebasan
berpikir.

Aku menikmati dosa seolah itu menjadi
awal dari kemenjadian yang baik.

Surga tidak suka denganku
karena sejauh yang aku lihat adalah tidak adanya nafsu.

Aku jatuh cinta karena
tubuhku
selalu
berevolusi.

Aku tidak pernah membiarkan diriku
menjadi pengecualian
dari diriku.

Hasrat erotis
selalu tertuju pada teks.

Fitnah
adalah rumpang kata
yang, sesekali hadir
pada maksud,
terletak di rahang besi.

Terdapat malam-malam
yang tak pernah
terjadi.

Seseorang tidak pernah mengetahui
bagaimana kehidupan
mereka, lidah-lidah
para pecinta.

 

Perang

O manusia perusak seperti parit
para pelayan mencuci tangan mereka padamu,
para hamba pembunuhan
yang mengubah pakaianmu kalimatmu pendengaranmu
yang menjadikanmu hantu emas.
Burung-burung berlendir mendatangi kediamanmu
berwajah burung gereja
mengikat pergelangan tanganmu pada dendam kesumat
dari orang-orang
yang ingin mencemarkan Tuhan.
O perang, nabi dari segala rasa takut
yang merebak durjana, anak perempuan sejati
terlahir dari tanah bernama
kau tidak mendengar juga tak berbayang:
kau adalah monster hina yang memakan
ambang pintu
dan masa depan seseorang.

 

Damai

Sejak maut mengambil alih kita
yang tak terjamah menit seperti roti
bahwa pencinta tidak tersengat olehnya
begitu juga perempuan pada tawaran puncak.
Di mana kehidupan, meluap dengan sendirinya,
memisahkan kita dari tubuh antara kawanan Gembala
yang terbuat dari cahaya, maut terlahir karenamu.
Menghempaskan segala derita
masa penghabisan dan hanya terlahir
bahwa mungkin saja sempat beralih dari rahim…
Meski begitu, jauhlah kita dari hasrat
yang meluap seketika
datang berjuang ke dalam hari-hari gelita
meski jika ia tercelup ke dalam kesempurnaan
dari esensi sejati
segeralah kita akan tumbang, dihancurkan oleh cahaya.
Pohon bukanlah pohon dan bunga
tidak memutuskan dirinya untuk menjadi cantik
ketika jiwa iblis mengharap kuasa.
Tapi hari kematian
ketika pencinta, pengendara kereta tempur yang suram,
membiarkan tali kekang,
ya, babak suci
akan terhampar dengan sendirinya dalam kuasa kerajaan.
Dan makna akan tersingkap,
dan segalanya berada pembaringan,
ketika semua yang tumbang akan bernapas waktu,
napas sempurna.
Kini hanya hasrat cabul
yang dapat mengambil segalanya, tapi esok
ketika maut masih gagah…

 

Alda Merini (1931-2009) dikenal sebagai penulis dan penyair perempuan Italia yang dua kali pernah dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan hadiah Nobel. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Susan Stewart dari buku Love Lesson: Selected Poems of Alda Merini (2009). Seluruh puisi di atas diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Eka Ugi Sutikno.

Eka Ugi Sutikno

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno
Eka Ugi Sutikno

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno