Fb. In. Tw.

Perkara Miskin Kosakata

Potongan video dari siniar Indah G. yang mempersoalkan kemiskinan kosakata bahasa Indonesia mendapatkan banyak sorotan. Membeludak pula warganet yang kontra terhadap pernyataan yang keluar dalam obrolan santai bersama Cinta Laura tersebut. Dalam obrolan itu juga Indah begitu bersemangat menyatakan kalau bahasa Indonesia kurang presisi untuk menyatakan sebuah maksud dalam proses komunikasi.

Menariknya, pernyataan Indah yang menyebut bahasa Indonesia miskin kosakata justru menggunakan kalimat bahasa Indonesia. Ini justru membuktikan kalau melalui bahasa Indonesia, Indah bisa berpikir kritis dan mampu menyampaikan dengan presisi—hal yang ia anggap kurang dalam bahasa Indonesia—pemikirannya tanpa menggunakan bahasa Inggris yang dijadikan pembanding.

Keterangan potongan video di Instagramnya yang—lagi-lagi menggunakan bahasa Indonesia—menyatakan kalau banyak orang Indonesia yang sudah cukup fasih berbahasa Inggris lebih sering menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi daripada menggunakan bahasa Indonesia. Hmm… Bukankah ini gejala normal dalam berbahasa? Penutur akan lebih memilih bahasa yang fasih dikuasainya daripada yang kurang apalagi tidak dikuasai.

Pertanyaannya, “banyak orang Indonesia” yang dimaksud Indah itu sudah cukup fasih berbahasa Indonesia atau belum? Selain soal kefasihan, topik pembicaraan dan siapa mitra-wicara (terkait kelas sosial, latar belakang ekonomi, dan budaya) juga menentukan bahasa apa yang akan digunakan berikut kosakata apa yang akan lebih banyak dipakai. Barangkali yang dikenal Indah selama ini adalah mereka dari kalangan kelas atas dengan latar budaya yang lebih dekat dengan dunia Barat daripada budaya Indonesia. Ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan Indah dan lingkungan sosialnya. Secara kasat mata juga dapat dilihat dalam video siniar bagaimana cara dia makan sembari mengobrol, atau makanan di meja siniar yang mungkin hanya bisa disebut dalam bahasa Inggris.

Pernyataan bahwa bahasa Indonesia miskin dalam siniar tersebut lebih didasarkan pada pengalaman orang per orang dalam berbahasa Indonesia. Pengalaman tersebut tentu berdasar pengetahuan orang-orang tersebut tentang kosakata bahasa Indonesia sehingga tidak relevan dijadikan dasar. Bisa jadi yang miskin adalah pengetahuan orang-orang tersebut tentang kosakata bahasa Indonesia. Pengetahuan kita yang miskin akan sesuatu tidak lantas memiskinkan apa yang kita ketahui tersebut.

Sikap kontra warganet terhadap penyataan Indah semakin kuat saat dalam kolom komentar Indah menunjukkan perbandingan jumlah kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Memang benar data yang disajikan bahwa jumlah kosakata dalam bahasa Inggris telah mencapai satu jutaan sementara bahasa Indonesia memiliki jumlah kosakata sekitar seratusan ribu. Persoalannya, dalam siniar jelas dapat disimak kalau dasar pernyataan soal miskinnya kosakata bahasa Indonesia berdasarkan pengalamannya pribadi dan orang-orang yang dikenalnya dalam menggunakan bahasa Indonesia. Tentu, saya tidak menutup mata kalau bahasa Indonesia masih kalah jauh soal jumlah kosakata dari bahasa Inggris. Namun, jumlah yang sedikit tidak serta merta menjadikan bahasa ini kurang baik untuk digunakan dalam berkomunikasi. Baik atau tidaknya komunikasi ditentukan oleh penguasaan jumlah kosakata seorang penutur, bukan suatu bahasa. Jumlah kosakata bahasa Inggris yang satu jutaan itu tak dapat digunakan dengan lancar oleh seorang penutur yang hanya menguasai ratusan kosakata.

Selain itu, kelancaran komunikasi tidak hanya mengandalkan pengetahuan bahasa, tapi juga budaya masyarakat penutur bahasa tersebut. Cinta Laura bilang perlu muter-muter dulu untuk menyampaikan maksud dalam bahasa Indonesia sejatinya itu sedang membahas budaya sebagian besar orang Indonesia yang gemar berbasa-basi sebelum menyampaikan maksud. Ia tidak sedang membahas bahasa Indonesia yang justru memiliki sifat lugas dan dinamis. Kita bisa menemukan kelugasan tersebut dalam sejumlah karya ilmiah dan karya sastra. Namun, perlu digarisbawahi di sini, kedua jenis karya tersebut adalah jenis yang unggul ya, bukan yang ditulis pemula atau yang ecek-ecek yang biasanya banyak muter-muter-nya dalam menyampaikan masalah. Sementara itu, kedinamisan bahasa Indonesia ditunjukkan dalam kaidah baik dan benar serta lenturnya bahasa ini dalam menyerap kosakata baru yang dibawa setiap zaman.

Bagaimanapun, siniar tersebut cukup bagus dan mampu memantik sikap cinta banyak warganet pada bahasa Indonesia. Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa dari sedikitnya kosakata bahasa Indonesia masih banyak yang belum dikuasai oleh orang Indonesia. Perlu ada upaya standardisasi untuk peningkatan jumlah perbendaharaan kosakata untuk setiap warga agar tidak ada kesan bahasa Indonesia miskin dan kurang presisi. Upaya meningkatkan daya baca masyarakat adalah langkah tepat sebab bahasa Indonesia tidak hanya ada dalam ranah lisan, yang sepertinya dijadikan dasar dari obrolan di siniar. Dalam ranah tulisan, kosakata bahasa Indonesia jauh lebih banyak dimanfaatkan dan dieksplorasi.

Bahasa-bahasa di dunia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Apa yang jadi masalah adalah ketika perspektif suatu bahasa digunakan untuk menilai bahasa yang lain, maka yang ada hanyalah kekurangan. Ini juga yang kemudian dilakukan oleh warganet untuk melawan pernyataan Indah, semisal diminta mencari kosakata dalam bahasa Inggris untuk kata “padi”, “gabah”, “beras”, dan “nasi”. Kalau diperpanjang dengan cara seperti itu pembicaraan hanya akan menjadi debat kusir.

Selayaknya untuk menilai suatu bahasa ditempatkan pada kebudayaan yang melahirkannya. Kalau dinyatakan bahwa bahasa Indonesia mencerminkan budaya kemalasan, coba periksa dulu itu bahasa Indonesia yang digunakan di mana dan pada saat apa. Harus juga dilihat secara menyeluruh, bukan generalisasi dari satu-dua kasus untuk menilai secara keseluruhan. Jangan-jangan anggapan kemalasan itu adalah tinggalan praktik kolonial yang semestinya sudah raib di benak masyarakat Indonesia.

Oh ya, terakhir, baik Cinta maupun Indah adalah kosakata bahasa Indonesia lho.

Pengajar di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

You don't have permission to register