Orang-orang Luaran (5)

820 820 Langgeng P. Anggradinata

Buruh dan petugas keamanan saling dorong. Sep berada di antara dua kelompok itu.  Tubuhnya mulai limbung.

Pada sore hari, seusai demonstrasi buruh, Sep menerima hukuman karena keluar dari barikade dan pulang ke kontrakannya lalu menyeduh kopi.

“Hei, Mad! Kau tak bisa hentikan exhaust fan itu dengan batu!”

Lalu, Sep mengambil sebatang besi padat dan memberikannya kepada Amad. Amad menghunus besi itu. Ia dorong hingga besi itu menahan putaran kipas. Amad dan Sep merasa menang. Mereka merasa senang meski itu sebuah kemenangan kecil belaka.

Kericuhan kembali pecah pada esok hari. Para demonstran mendorong barikade. Sep telah mengenakan seragamnya dan helm. Komandan menyuruhnya masuk ke barikade bersama dengan polisi.

“‘Sep, tahan, Sep!’ itu perintah komandan saya,” cerita Sep kepadaku.

Ia masuk dan seketika keluar dari barisan.

Lantas, sebuah batu melayang dan mengenai helm polisi.

“Anjing! Siapa, woi?” Umpat seorang polisi. Kaca helm-nya pecah.

Polisi mendorong massa. Beberapa buruh terinjak. Polisi memukul demonstran dengan rotan. Satpam yang tidak banyak jumlahnya itu menendang demonstran dengan sepatu lars.

Lemparan batu kedua. Beberapa tiang bambu dari bendera serikat pekerja menimpa massa. Tiang bambu itu dilempar sembarangan. Lemparan batu ketiga mengenai kaca. Pos penjaga dirusak. Sep melempar batu keempatnya.

Empat hari setelah kerusuhan itu Sep dipecat. Surat pemecatan itu ia terima setelah Amad menerima surat yang sama. Seorang saksi mata melihat Sep melempar batu ke arah barikade, ke arah pabrik sebanyak delapan kali.

“Saya melempar baru cuma empat kali! Kamu bisa bayangkan? Tunjangan hari raya saya tidak turun! Nasib kami sama seperti buruh-buruh itu! Lalu, saya disuruh mencegah buruh-buruh itu untuk melawan? Bangsat!” Umpat Sep.

“Berapa hari lagi sih Lebaran?” Tanyanya kepadaku.

Delapan hari lagi Lebaran. Amad belum menemukan cara untuk keluar dari Luaran. Ia ingin pulang. Ia telah berjanji akan pulang dan bertemu dengan ayahnya di Tuba, kampung halamannya.

“Motor baru, Bang?” Tanya Amad kepada Deng, pemimpin serikat buruh yang juga tinggal di kontrakan Luaran.

“Motor inventaris!”

“Aku pinjam buat mudik, Bang. Bapakku juga mau pulang tahun ini. Bisa?”

“Kau mudik, motor tak balik. Lagi pula kau bukan anggota serikat lagi!” Sergah Deng kepada Amad.

“Kau dapat hadiah dari perusahaan?” Ejek Sep.

“Ini motor inventaris! Masih untung kau tak dihukum!”

“Hidup adalah hukuman!” Gumam Amad satu hari sebelum ia bunuh diri.

Setelah Amad bunuh diri, seperti saat kematian Kun, kehidupan di Luaran berjalan dengan biasa saja. Mungkin hari ini akan sama jikapun kemarin adalah kiamat.

Aku dan Sep, atas permintaan pemilik kontrakan, membereskan barang-barang Amad. Ya, tidak ada keluarga Amad yang bisa ke Luaran. Jarak Luaran dan Tuba sangat jauh. Mereka meminta kami untuk membuang (atau mengurus) barang-barang Amad. Barangkali mereka yakin bahwa tidak ada barang yang berharga yang perlu diwariskan.

Aku ingat, saat kematian Kun, Sep menemukan empat buku YellowPages. Di empat buku itu, Kun melingkari seluruh nama Betje di buku itu seperti mengikat nama-nama itu. Ada ratusan nama Betje. Nama yang terakhir Kun lingkari (dan sekaligus diberi tanda centang) adalah nama Betje dengan nomor telepon 319227 di buku YellowPages Surabaya.