Orang-orang Luaran (4)

820 820 Langgeng P. Anggradinata

Empat tahun lalu. Amad keluar dari kampungnya di Tuba karena harga getah karet terjun bebas ke harga 2.500 dari harga 14.000. Seperti pula yang dilakukan mayoritas orang Tuba, Amad dan ayahnya pergi ke daerah lain untuk mencari kerja. Ayahnya pergi ke kota Lain; bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara, atas saran kawannya, Amad bekerja sebagai buruh di kota ini dan tinggal di Luaran.

“Bang, kipas itu kapan matinya? Bising sekali!” keluh Amad. Ia bertanya kepadaku tentang exhaust fan pabrik sepatu yang tidak pernah mati.

Aku cukup dekat dengannya. Pada tahun pertama ia tinggal kota ini, ia beberapa kali memintaku untuk mengantarnya ke mal. Amad tampak takjub dengan barang-barang yang dijual di sana.

“Bang, ini ‘kan merek sepatu yang dibuat di pabrik. Ini mahal banget! Saya yang lem solnya ini!”

Kami hanya melihat-lihat. Amad tidak mampu membeli apapun di sana. Aku memarkir motorku di parkiran belakang mal itu. Amad tampak menatap sinis pada mal itu, lebih tepatnya menatap exhaust fan yang menderu.

“Kenapa letak kipas itu selalu di belakang?” tanya Amad.

Kenapa letak kipas itu selalu di belakang? Sementara, di belakang, ada rumah-rumah yang berjejalan.

Luaran adalah daerah padat penduduk yang terpencil yang terletak di belakang pabrik sepatu. Tembok belakang pabrik itu berseberangan dengan gerbang kontrakan ini—hanya dipisahkan jalan sempit. Suara exhaust fan itu memang lantang. Pada masa awal aku tinggal di sini, suara bising exaust fan itu sampai masuk ke mimpiku.

“Gila! Suaranya sampai ke mimpi!” protes Amad.

Amad sering bercerita tentang kampungnya di Tuba seolah hanya itulah yang dapat ia banggakan. Di kampungnya, dulu, ia bekerja sebagai penyadap karet. Keluarganya memiliki lahan yang dapat dikatakan tidak terlalu luas. Namun, lahan itu berhasil menghidupi Amad dan ayahnya. Di kebun, ia mendengar suara gesekan ranting belaka atau suara nyamuk yang menyerang, satu-satunya musuhnya di sana—kadang ada suara knalpot brong juga milik pemuda kampung.

“Kau hancurkan pabrik itu. Dia bakal mati!” kataku setengah bercanda.

Pada kerusuhan buruh satu setengah bulan lalu, seperti saat Don Quixote melawan kincir angin, aku melihat Amad melempar batu ke arah exhaust fan itu. Namun, batu itu tak mampu menghancurkannya. Serikat buruh menuntut tunjangan hari raya (THR).

Perusahaan tidak memberikan THR kepada pekerja kontrak berlandaskan pada surat perpanjangan kontrak kerja yang telah ditandatangani sebelumnya. Amad dan buruh kontrak lainnya melalui serikat buruh menentangnya karena tidak sesuai dengan undang-undang dan menuduh bahwa perusahaan telah menipu para buruh kontrak.

Demonstrasi dilakukan beberapa kali. Namun, demonstrasi akhirnya terhenti. Para pemimpin serikat buruh tidak ingin melanjutkan tuntutan karena posisi mereka lemah secara hukum. Anggota serikat buruh yang berstatus pekerja kontrak, termasuk Amad, tidak akan menerima THR tahun ini.

“THR tahun ini untuk saya pulang, Bang. Sudah empat tahun saya tidak pulang. Bapak saya pun akan pulang tahun ini. Rindu sekali sama Bapak. Bagaimana pun kami harus memperjuangkannya, Bang!”

Amad dan para buruh lainnya tidak puas dengan keputusan serikat buruh. Mereka kembali berdemonstrasi tanpa dipimpin oleh pengurus serikat buruh. Alhasil, aksi berubah  menjadi kericuhan kemudian bereskalasi menjadi kerusuhan. Pada hari itulah, aku melihat Amad melempar batu ke arah exhaust fan itu. Pada hari itu pula, Sep, dengan seragam satpamnya, malah duduk dan minum kopi di teras flatnya.

Perusahaan memutus kontrak para buruh yang dituding sebagai provokator. Amad adalah salah satu tertuduh. Entah Amad beruntung atau tidak, kasus kerusuhan itu tidak dibawa ke polisi. Bersamaan dengan kabar PHK, para pemimpin serikat mendapat motor Honda Revo terbaru.

“Motor baru, Bang?” tanya Amad kepada Deng, pemimpin serikat buruh yang juga tinggal di kontrakan Luaran.
“Motor inventaris!”
“Aku pinjam buat mudik, Bang. Bapakku juga mau pulang tahun ini. Bisa?”
“Kau mudik, motor tak balik. Lagi pula kau bukan anggota serikat lagi!”

Aku kira, sejak saat itu, Amad tidak percaya dengan serikat. Dan sejak saat itu, Amad menarik diri dari orang-orang, lebih-lebih, saat Amad mendengar kabar tentang kelicikan yang dilakukan para pemimpin serikat buruh.

Dan sebuah kabar buruk datang dari kota Lain. Ayahnya meninggal karena tertimpa coran yang belum kering. Seorang mandor meminta ayahnya melepas kaso pada coran itu. Sesuai rencana, tahun ini ayahnya pulang.

“Hidup adalah hukuman,” gumam Amad satu hari sebelum ia bunuh diri.