Orang-orang Luaran (3)

820 820 Langgeng P. Anggradinata

Setelah suara sebuah benda jatuh dari lantai dua, sebuah teriakan menggema sekali lagi dari flat sebelah. Aku melepaskan simpul tali di leherku dan mengintip ke luar jendela. Hal yang sama pun dilakukan oleh beberapa orang Luaran lainnya. Mereka mengintip ke luar jendela, tapi tidak ada yang keluar dari flat mereka.

Setelah teriakan ketiga, setelah istri Sep keluar dari kamarnya dan meminta tolong, aku keluar flatku dan bergegas menghampiri istri Sep. Ia histeris. Sementara, orang-orang Luaran yang lain hanya membuka pintu dan mengeluarkan setengah badannya dari mulut pintu—seolah tidak ingin terlibat dengan masalah orang lain.

Sep, dengan sengaja meminum, racun cicak di dapur. Bibirnya meruam dan mulutnya mengeluarkan busa. Namun, racun cicak itu gagal membunuh Sep.

Sep adalah mantan petugas keamanan di pabrik sepatu itu. Selama lima tahun ia bekerja di sana dan tinggal di Luaran. Awalnya, ia sering berbincang denganku selepas piket atau di hari-hari libur. Kami memang cukup dekat karena usia kami pun tidak jauh dan flat kami pun bersebelahan di lantai satu. Namun, karena aku dan Sep mulai menarik diri dari orang-orang, momen-momen itu tidak terjadi lagi. Kami hanya berbicara seadanya saja.

Ia hanya tinggal berdua dengan istrinya. Mereka belum dikaruniai anak selama sepuluh tahun (atau dua belas tahun?) menikah. Pada awalnya, Sep dan istrinya tinggal bersama mertua. Namun, ia memilih keluar dari rumah itu dan tinggal di Luaran karena tidak tahan dengan omongan mertua tentang pekerjaan dan momongan.

Empat bulan lalu, Sep hampir bahagia karena istrinya akan melahirkan.

“Sebentar lagi anak saya lahir,” katanya di sebuah warung kopi.
“Ya, syukurlah.”
“Awalnya, saya memang sengaja tidak ingin memilikinya. Gini loh, kita, sebagai orangtua, seperti melempar manusia tak berdaya ke dalam hutan yang buas, dunia yang kejam!”
“Ya, pendapatmu tidak salah.”
“Tapi susah juga melawan omongan orang lain.”

Pada sore itu, istri Sep sudah mulai mulas-mulas.

“Kita ke bidan?”

Lantas, istrinya menangguk.

“Saya akan izin ke komandan untuk tidak masuk di sif malam.”

“Nanti saja dulu. Tunggu benar-benar mau lahir,” saran kakak iparnya yang beberapa hari menjelang kelahiran tinggal bersama Sep dan istri. “Lahirnya sepertinya masih besok. Kalau sekarang masuk ke bidan, biayanya bakal nambah. Mending nanti saja,” lanjutnya.

Karena belum berpengalaman dan tidak punya cukup uang, Sep mengiyakan saran dari kakak iparnya. Dan, ia pun berangkat piket sif malam.

Setelah magrib, aku mendengar istri Sep mengerang kesakitan. Tampaknya, ia akan benar-benar melahirkan. Aku mengetuk pintu flat kamar Sep. Kakak ipar Sep membuka pintu.

“Apa sebaiknya dibawa saja ke klinik?” tanyaku.
“Ngga apa-apa kok? Ini sudah biasa.”

Seorang ibu dari kamar sebelah juga menyarankan agar istri Sep dibawa ke klinik. Namun, si kakak ipar bersikukuh merasa itu tidak perlu.

“Woi! Cepet awa ke rumah sakit! Berisik!” sergah seorang laki-laki penghuni flat lain.

Kakak ipar Sep malah menutup pintu. Namun, seketika ia tergesa keluar dari kamar itu dengan mengenakan jaket. Aku menelepon Sep untuk segera datang. Istrinya terdengar semakin gawat.

Namun, beberapa waktu berselang, kakak iparnya datang dengan menumpang becak. Di belakangnya, Sep lari dengan tergesa. Aku sudah menunggu di depan pintu kamar Sep. Sementara, orang-orang Luaran mematung di depan flatnya masing-masing; mendengarkan teriakan istri Sep.

Kami membuka pintu flat itu. Istri Sep terkapar dan mengangkang. Air ketuban dan darah menggenang. Dari mulut rahimnya, sebuah kepala yang membiru menyembul; terlilit tali pusar. Setelah seorang bidan berhasil mengeluarkan jenazah bayi dari mulut rahim, istri Sep dibawa ke rumah sakit.

Sep dibawa ke rumah sakit. Sep tampak lemas. Serpihan racun cicak masih tercecer di dagu dan lehernya; membuat ruam di bagian itu. Beberapa orang memapah Sep untuk naik ke atas motor. Sesaat sebelum berangkat, salah seorang penghuni kontrakan dari lantai dua menyergah, “Amad jatuh! Amad jatuh!”