Orang-orang Luaran (2)

820 820 Langgeng P. Anggradinata

“Hidup adalah hukuman,” tulis Kun pada secarik kertas yang tergeletak di bawah mayatnya yang tergantung.

Kun bunuh diri di kamar mandi flatnya. Ia ditemukan setelah dua orang polisi datang dan mendobrak kamarnya. Aku menelepon dua polisi itu.

“Telepon saja polisi,” kataku.
“Kau saja. Aku tidak mau berurusan dengan polisi!”

Setelah setengah jam mereka berkerumun, tidak ada yang mau mendobrak pintu flat itu. Aku hanya mendengar saran dan saran belaka, “Dobrak saja pintunya” dan “Telepon saja polisi.” Namun, tak ada yang mau melakukannya. Hingga akhirnya, orang-orang Luaran itu berangsur-angsur membubarkan diri; dihisap oleh pabrik sepatu itu. Saat itu, hanya ada aku, pemilik flat, dan beberapa orang pengangguran lainnya yang berada di depan flat milik Kun.

Polisi pun datang dan menemukan Kun yang tergantung di kusen kamar mandinya.

Sep menekuni secarik kertas yang berisi pesan terakhir Kun. Ia menggumamkan kalimat itu.

Jika hidup adalah hukuman, mungkin kebebasan adalah kematian?

Kematian Kun hanya menjadi cerita semalam. Kehidupan berjalan seperti biasa.

Seperti biasa, pagi-pagi, orang-orang Luaran berangkat ke pabrik sambil mengumpat dan meludah. Seorang penghuni flat marah-marah karena kucing tetangga berak di teras flatnya. Seorang anak remaja merengek minta dibelikan motor. Ia tak mau sekolah. Suara televisi terdengar nyaring di salah satu kamar.

“Woi! Lo lagi ngewe, ya? Kecilin itu TV!”

Semua berjalan seperti semula. Setelah kematian Kun, tidak ada sedikit pun yang berubah dari dunia. Pada sore hari, pabrik memuntahkan buruh-buruh itu seperti penyakit. Mereka keluar dari mulut pabrik dengan wajah yang payah seolah pabrik itu telah menghisap daya hidup mereka. Sebagian dari mereka berbelanja di pasar kaget depan pabrik. Sebagian lagi masuk ke warung-warung kopi; membicarakan pergerakan buruh atau mengeluhkan cicilan HP.

“Kemarin ada yang bunuh diri di kontrakan Luaran?”
“Iya.”
“Besok malam saya mau kabur ajalah dari kontrakan. Ngga ada duit buat bayar.”
“Mati aja lo.”

Kun minum kopi di warung itu setiap sore. Namun, tidak ada yang tahu bahwa Kun minum kopi di warung itu setiap sore.

Sebagian besar dari mereka memilih pulang ke rumah. Mereka mengambil motor mereka yang dititip di lahan parkir dekat pabrik. Para petugas parkir membantu mereka untuk mengeluarkan motor-motor yang berjejalan itu. Mereka membayar karcis parkir dan pergi. Di antara mereka, mungkin tidak ada yang menyadari bahwa si penjaga loket bukan lagi si orang tua, Kun. Tidak ada yang bertanya tentangnya. Mereka tidak pernah mengingat Kun sebagai apa pun.

Mereka tidak pernah mengingatku sebagai apa pun.

Aku mengingat kembali istriku. Sebuah tali menjulur dari langit-langit kamar. Ingatan tentang anakku kembali. Sebuah jendela dan pemandangan yang asing di luar. Anak perempuanku mengirim pesan singkat dua tahun lalu. Ia memintaku pulang. Sebuah kursi dipijak. Sebuah tali tersimpul di leher. Sejak saat itu, anak perempuanku tidak lagi mengirim pesan. Mereka tidak pernah mengingatku lagi.

Sebuah teriakan terdengar dari flat tetangga. Dan suara benda jatuh terdengar dari ujung flat.