Khin Myo Chit, Si Pemberontak Tradisi

820 820 Yopi Setia Umbara

Daw Khin Myo Chit adalah penulis Myanmar yang hidup di tiga jaman: mulai rezim Inggris, Jepang, hingga masa perjuangan kemerdekaan. Ia juga merupakan salah seorang tokoh feminis pemberontak tradisi di negara yang sudah hampir seabad berada di bawah arogansi penguasa militer.

Khin Myo Chit lahir di Sagaing pada 1 Mei 1915. Tak banyak yang tahu nama aslinya. Orang tuanya memberinya nama Ma Khin Mya. Pada saat ia lahir, Myanmar masih berada di bawah kekuasaan Inggris.

Sagaing kaya akan sejarah dan folklor. Salah satu yang paling populer di masyarakat adalah cara pidato mereka yang indah. Ada sebuah idiom dari Sagaing yang cukup populer di masyakat disebut Hla-Daw Tha Sagar—semacam harta karun metafora dan perumpamaan. Idiom tersebut sering dikutip oleh tokoh publik untuk menyenangkan pendengarnya.

Sagaing terletak di dekat sungai Irrawady, 20 km arah barat daya Mandalay. Berbatasan langsung dengan Manipur dan Nagaland, India. Kampung halaman Khin Myo Chit juga merupakan salah satu pusat spiritual di Myanmar. Puluhan pagoda dan biara penting berada di sana.

Masa kecil Khin Myo Chit cukup memengaruhi minatnya terhadap dunia sastra hingga kelak menjadikannya sebagai seorang penulis yang dihormati. Ketika masih kecil, ia sering mendengarkan cerita dari kakeknya Ba Ba Gyi, seorang pemuka agama Buddha. Terutama mitologi Raja Nimi. May May Gyi, neneknya, yang sangat menyayanginya juga menumbuhkan sensitivitas pada dirinya.

Sementara itu, ayah dan ibunya merupakan ironi dalam kehidupannya. Ayahnya, U Taw, adalah seorang perwira polisi Inggris. Seseorang dengan cara pandang sangat kolot terhadap seorang anak perempuan.

Walaupun begitu, Khin Myo Chit, mendapatkan bacaan sastra Inggris mula-mula dari rak buku di kantor bapaknya. Buku-buku berbahasa Inggris seperti karya-karya Charles Dickens, Victor Hugo, dan puisi-puisi Sir Walter Scott, mulai dikenalnya sejak ia kecil.

Pemberontakan Kecil Khin Myo Chit
Namun kebiasaan baru Khin Myo Chit itu tidak disukai oleh ayah dan Ibunya, Daw Than Tin. Perlahan hubungan dengan ibunya pun tidak terlalu baik. Ia sering menguping obrolan ibunya dengan tamu, ia sering disebut anak yang kurang cantik oleh ibunya. Sedangkan ibunya merupakan perempuan terhormat di kotanya sebab pangkat sang suami.

Pada usia 12 tahun, nenek Khin Myo Chit meninggal. Kepergian sang nenek membuatnya sangat berduka. Masa kanak-kanaknya yang penuh cerita dan cinta dari kakek dan neneknya merupakan momen-momen paling membahagiakan dalam hidupnya.

Karena ayahnya sering berpindah tugas, Khin Myo Chit juga sering pindah-pindah sekolah. Kebanyakan sekolah tempat ia belajar adalah sekolah khusus laki-laki. Pada saat itu kebetulan belum ada sekolah negeri untuk perempuan.

Pada masa Khin Myo Chit tumbuh remaja, seperti juga di berbagai belahan lain di dunia, posisi perempuan tidak boleh setara dengan laki-laki. Perempuan tidak perlu sekolah, perempuan hanya boleh tinggal di rumah, perempuan harus ikut ke mana pun suami bertugas, bahkan perempuan sudah cukup sekadar jadi penambah prestise sosial laki-laki.

Khin Myo Chit, yang secara alamiah menolak tradisi kolot itu, setelah lulus SMA di Meiktila kemudian melanjutkan sekolah tinggi di Rangoon (sekarang Yangon). Pada 1932, ia kuliah di Universitas Rangoon. Pada tahun pertama kuliah itu pula karya sastranya pertama kali dipublikasikan di majalah universitas, Tekkatho Kyaung-daik Magazine’s wasanta sazaung – atau majalah untuk edisi musim hujan. Adalah sebuah terjemahan puisi “Patriotism” karya Sir Walter Scott.

Namun, karena malu ia tidak menuliskan namanya pada karya terjemahannya tersebut. Akan tetapi, editor majalah Tekkatho Kyaung membutuhkan nama pena untuk penulis karya tersebut. Lalu ditulislah sebuah nama pena, Khin Myo Chit.

Nama itu digunakan sang editor berdasarkan karya terjemahannya yang berbicara soal patriotisme. Nama pena yang diberikan editor itu kurang lebih berarti seorang gadis yang mencintai negerinya atau patriot perempuan.

Sejak itu ia tetap menggunakan nama pena Khin Myo Chit.

Keberhasilan karya terjemahannya terbit di majalah universitas justru tidak berdampak baik di rumahnya. Orang tua Khin Myo Chit tidak menyukai anaknya menjadi “perempuan cerdas”. Sejak itu segala hal tentang menulis menjadi petaka di rumahnya.

Khin Myo Chit tidak boleh menulis lagi. Memantik perlawanan kecil dalam dirinya. Ayahnya membakar semua kertas-kertas miliknya. Ibunya marah-marah kalau ia ketahuan menulis. Ia harus menulis secara sembunyi-sembunyi. Menunggu orang tuanya tidur agar bisa menulis dengan tenang.

Minggat ke Rangoon
Khin Myo Chit kemudian memutuskan minggat dari rumahnya. Ia tinggal sepenuhnya di Rangoon. Di ibu kota, ia bisa melanjutkan romantismenya dengan sastra Inggris. Di kota itu juga ia bertemu dengan suaminya, U Khin Maung Latt.

Pada 1933, ia mulai menjadi penulis lepas untuk majalah Dagon, sebuah majalah berilustrasi pertama di Myanmar. Majalah itu juga kebetulan didirikan oleh seorang jurnalis perempuan, Khin Khin Lay.

Seiring waktu, kemampuan menulis Khin Myo Chit dengan bahasa Inggris yang tidak umum banyak diterbitkan di banyak media massa. Bak gayung bersambut, pada masa itu media massa mulai terbuka pada karya-karya tulis perempuan, seperti Dagon Magazine, Thuriya Paper, dan Myanma Alin. Selain menulis cerpen, ia juga menulis artikel-artikel mengenai kesetaraan gender.

Pada 1937 Khin Myo Chit menjadi staf editorial Burma Journal. Di usia yang baru 22 tahun ia sudah mulai menancapkan cakarnya sebagai penulis sekaligus jurnalis perempuan berpengaruh.

Pada 1938, Khin Myo Chit bergabung dengan gerakan mahasiswa. Ia mulai terlibat dalam sejumlah aksi demonstrasi anti kolonial. Ia terkait dengan Thakins sebuah kelompok sayap kiri pro kemerdekaan bersama tokoh-tokoh Burma seperti Aung San (ayah Aung San Suu Kyi), Ba Hein, Ba Swe, dan U Nu yang kemudian menjadi Perdana Menteri pertama Burma pasca-kemerdekaan. Ia bertugas di Seksi Perempuan Pejuang Pro Kemerdekaan.

Meski terlibat dalam banyak aksi pergerakan nasional, Khin Myo Chit tidak tertarik terjun ke dunia politik. Ia memilih kembali menekuni jalan sunyi menulis. Sebuah pilihan yang sangat penting bagi sejarah hidupnya.

Pada 1958-1962 Khin Myo Chit menjadi editor di harian berbahasa Inggris The Guardian Daily. Lalu mulai 1964 ia menjadi editor media pemerintah Burma Working People’s Daily (WPD). Namun, pada 1968 dia dipecat karena sejumlah tulisannya yang dianggap anti pemerintah.

Pada 21 Juli 1968, Khin Myo Chit menulis editorial terakhirnya untuk WPD yang berjudul “Dandruff on My Hello”. Dalam editorial itu ia menulis tentang kematian seorang kawannya yang bernama Bo Zeya, salah satu dari 30 kamerad yang dianggap musuh oleh pemerintah.

“Saya menangisi Bo Zeya meskipun Tuhan tahu bahwa aku tidak peduli politik atau ideologinya. Saya menangisi seorang kawan yang meninggal dan pergi untuk selamanya. Tapi saat ini seseorang tidak dapat melakukan hal yang sederhana tanpa dijuluki kapitalis atau komunis… Sesungguhnya kita bisa menjadi manusia sekaligus Sosialis (dalam kebenaran dengan cara Burma) pada saat yang sama, bukan?”

Salah satu karya fiksi Khin Myo Chit yang paling populer adalah “The 13-Carat Diamond”. Cerpen itu pertama kali terbit di The Guardian Daily. Cerita berlatar Burma di bawah koloni Jepang. Sebuah satir yang dikemas dalam kisah humor sepasang anak muda yang ingin kaya dalam semalam. Cerpen ini juga terdapat dalam 50 Great Oriental Stories yang diterbitkan Bantam Classics pada 1965.

Daw Khin Myo Chit meninggal pada 2 Januari 1999. Ia mewariskan banyak karya penting bagi kesusasteraan Myanmar. Di antaranya novela College Girl (1936), kumpulan cerpennya The 13 Carat Diamond and Other Stories (1969), Burmese Scenes and Sketeches (1977), buku cerita rakyat A Wonderland of Burmese Legends (1984), dan autobiografinya Quest for Peace: An Autobiograpy (2016).

Sumber
“Khin Myo Chit: The Voice of Closet Feminist”, The Female Voice of Myanmar: Khin Myo Chit to Aung San Suu Kyi, Nilanjana Sengupta (Cambride University Press, 2015)

“La Grande Dame de la Myanmar Writing”, Dr. Khin Maung Win

Khin Myo Chit, Who’s Who in Contemporary Women’s Writing, Editor Jane Eldridge Miller (Routledge, 2002)

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara