Hal-Hal yang Seharusnya Tidak Saya Lakukan

820 820 Ede Tea

Bila saya menarik waktu ke belakang, Zak bukanlah orang yang suka menyakiti hati orang lain. Bukan seorang pendendam yang bisa melakukan apa pun demi mencapai kepuasan. Zak justru orang yang jujur dan suka bercanda. Namun, sejak saya muncul dalam perut ibu, dia lebih mengerikan dari apa pun yang saya tahu.

Inilah sepenggal kisah itu. Cerita yang paling kelam dari masa lalu. Tentang seorang lelaki bernama Zak. Mungkin hanya saya yang mengenalnya secara utuh. Memahami tiap inci kemarahan yang muncul dalam dirinya. Juga beribu kepedihan yang ibu rasakan. Air mata, luka serta pilu yang bercampur-baur.

Baiklah, saya mulai saja cerita ini. Bukankah lebih cepat itu lebih baik? Lagi pula saya tidak ingin membuat kalian menunggu lebih lama. Saya tahu kalian sedang sibuk. Jadi, saya mohon kalian tidak meninggalkan tempat ini.

*

Ketika saya masih sebesar buah alpukat di dalam perut, ibu rajin mengusap saya sembari menyenandungkan lagu selawat. Dia bilang saya akan tumbuh dengan sehat dan kuat. Namun, saya melihat sorot mata yang lain dari wajahnya. Ada rasa khawatir yang tumbuh sedemikian lebat. Saya ingin bertanya kenapa dia begitu khawatir. Namun, tidak ada yang bisa saya lakukan selain menjadi pendengar yang baik.

Setelah itu saya mulai diperkenalkan kepada seorang lelaki bernama Zak. Dan dari situ perseteruan saya dengan Zak dimulai. Zak tidak suka dengan kehadiran saya. Dia bilang saya hanya akan membawa banyak masalah. Setiap hari ada saja upayanya untuk membuat detak jantung saya melemah. Entah dengan kapsul atau cairan yang demi Tuhan baunya seperti kubangan sampah.

“Aku tidak mau lagi meminum obat itu, Mas. Biarkan saja dia hidup!” lirih ibu berulang kali dengan mata yang sembap.

“Aku tidak mau dia lahir, Ratna. Dia hanya akan tumbuh menjadi seorang bedebah!”

Saya tercengang. Saya ingin protes! Kenapa dia ingin melenyapkan saya? Saya tahu dia sangat mengharapkan seorang anak perempuan. Namun, seharusnya dia mengerti bahwa saya tidak bisa memilih jenis kelamin sendiri. Tuhan sudah menakdirkan saya untuk menjadi seorang laki-laki. Jadi, itu bukan salah saya. Toh, perempuan atau laki-laki sama saja, kan? Seharusnya dia membiarkan saya tetap hidup lalu berusaha menjadi ayah yang bisa dibanggakan.

Saya tidak masalah kalau Zak membenci saya. Menghina saya. Atau bahkan ingin memusnahkan saya dengan cara yang paling keji sekali pun. Tetapi yang membuat saya geram adalah tangannya yang begitu ringan. Dia sering meluapkan kekesalannya pada perempuan yang sedang mengandung saya. Kalau memang dia lelaki jantan, seharusnya tidak melakukan itu. Tetapi lagi-lagi saya hanya bisa diam. Sambil berdoa supaya ibu selalu diberi keselamatan.

Sekarang tubuh saya mulai membesar. Ibu sedikit kesusahan untuk membawa saya bergerak. Melihat itu Zak semakin brutal untuk melumatkan saya. Dia seperti orang kesetanan. Zak menjulurkan segelas jamu berwarna pekat kepada ibu. Dia belum kapok untuk membunuh saya. Saya sudah tidak kuat lagi. Tiga hari setelah itu saya berusaha untuk berontak.

“Sepertinya bayi ini mau keluar, Mas.”

“Keluarkan saja, Ratna. Dia pasti sudah mati.”

Seharusnya saya memang tidak boleh melakukan hal itu. Usia saya belum sempurna untuk dilahirkan. Nyawa ibu bisa jadi taruhannya. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya tidak mau ibu meminum lebih banyak obat terlarang. Sekuat tenaga saya mendorong kepala untuk mendobrak selangkangannya. Hingga akhirnya tangisan saya merobek nyawa ibu. Zak menjerit di hadapan ibu yang sudah tidak bernyawa. Dia kesal kenapa bukan saya saja yang mati. Dan dia semakin kesal karena saya lahir dengan mata besar dan wajah yang melongo.

Setelah itu Zak membesarkan saya dengan penuh kebencian. Setiap hari dia datang membawa angin badai. Sumpah serapah menggaung menghakimi saya. Sesekali saya melempar banyak benda ke arahnya. Walaupun saya tahu setelah itu dia akan memukul saya berkali-kali.

“Anak sialan! Kenapa bukan kau saja yang mati. Dasar bocah idiot!”

Andai Zak tahu bahwa saya sangat menyayanginya. Setiap pukul dua pagi, diam-diam saya menyelinap ke kemarnya. Lalu memeluk tubuhnya yang gempal sambil sesekali mengusap rambutnya yang berantakan. Kalau saya mau, bisa saja saya mencekik lehernya atau merobek isi perutnya menggunakan pisau dapur. Tapi saya tidak mau melakukan itu. Saya ingin dia selalu bersama saya. Saya selalu merindukan sentuhan tangannya yang kasar.

Malam ini saya ingin memeluk tubuhnya lagi. Seharian ini saya sangat merindukannya. Saya memutar gagang pintu pelan-pelan. Lalu naik ke atas kasurnya sambil tersenyum. Saya melihat wajahnya yang terlelap melalui genangan air mata. Sepertinya Zak sangat lelah. Saya kembali turun dari kasur, tidak ingin mengganggu tidurnya. Di atas meja saya melihat sebuah pedang yang panjang. Tajam dan berkilap. Hasrat saya yang lain mendorong saya untuk mendekati benda itu. Saya menyentuhnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Ketika itu Zak terbangun. Dia ketakukan melihat saya. Saya tidak mengerti kenapa dia bisa begitu. Saya berusaha mengatakan kalau saya tidak akan menyakitinya, tapi dia tidak mengerti ucapan saya. Zak bergegas mendekat, lalu menendang tubuh saya hingga terpental ke tembok. Saya melaung sebisa mampu.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku membiarkanmu tetap hidup, kau malah ingin membunuhku. Sekarang tidak ada lagi ampun untukmu anak sialan!”

Zak berjalan mendekati saya, lalu memungut pedang yang jatuh di lantai. Dia menusuk perut saya sebanyak tiga kali. Saya tak kuasa menahan rasa pusing dan nyeri secara bersamaan. Pandangan saya perlahan kabur. Lalu Zak menusuk perut saya sekali lagi. Saya berbaring di atas darah yang menggenang. Setelah itu saya tidak bisa melihat apa-apa lagi selain cahaya putih sejauh mata memandang.

*

Saya kira hanya itu yang bisa saya sampaikan kepada kalian. Saya tahu kalau saya bukan seorang pencerita yang baik. Mohon maaf jika saya sudah mengganggu proses penyelidikan kasus ini. Saya hanya tak ingin kesalahpahaman ini semakin menjalar. Saya mendengar Zak banyak berbohong kepada kalian. Kalau saya tidak menceritakan ini, dia akan terus berbohong. Dan selamanya akan berbohong.

Sebentar lagi saya akan keluar dari tubuh Zak. Tolong kuburkan jasad saya di samping makam ibu. Sampaikan juga kepada Zak bahwa saya sangat menyayanginya. Saya yakin akan banyak hal-hal baik yang datang menghampirinya.

Terima kasih. Selamat tinggal!

Ede Tea

Ede Tea

Lahir di Bogor. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia yang bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

All stories by:Ede Tea
Ede Tea

Ede Tea

Lahir di Bogor. Karya-karyanya pernah dimuat di media cetak dan daring. Cerpennya juga masuk dalam beberapa buku antologi. Merupakan mahasiswa Institut Digital Bisnis Indonesia yang bergabung dengan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.

All stories by:Ede Tea