Frau Memukau Publik Bandung

702 336 Zulkifli Songyanan

Penyanyi folk asal Yogyakarta, Leilani Hermiasih alias Frau, sukses menggelar konser bertajuk “Tentang Rasa” di auditorium Institut Francais Indonesia (IFI) Bandung, Jumat (22/5/2015). Konser yang dipadati sekitar 250 penonton tersebut dibuka dengan penampilan penyanyi folk asal Bandung, Deu Galih.

Tampil dalam balutan dress biru, ditemani Oskar sang piano digital, Frau langsung memainkan satu lagu barunya sebagai pembuka, “Sembunyi”. Lagu itu diciptakan Frau sebagai respons kreatif atas lukisan Restu Rastaningtyas, seorang perupa muda yang tinggal di Yogyakarta. Pada lagu kedua, ia menyanyikan “41” diambil dari album Happy Coda (2013). Selanjutnya, Frau membawakan dua musikalisasi puisi yang ia gubah dari karya penyair Amir Hamzah dan Sitor Situmorang, “Berdiri Aku” dan “Berita Perjalanan”, yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan “Water”.

Pada lagu berikutnya Frau berkolaborasi dengan Erson, pemain trompet asal Yogyakarta. Salah satu lagu yang dibawakan bersama Erson adalah “I’m Sir”. Tentu saja penampilan mereka berdua memberi warna tersendiri pada lagu “I’m Sir” yang biasanya dibawakan secara solo piano. Setelah itu konser jeda beberapa menit.

Konser “Tentang Rasa” dikemas semenarik mungkin. Selain memberi sentuhan artistik pada panggung dan lighting, pihak penyelenggara pun sengaja menebarkan harum melati dari setiap penjuru ruangan. Tak hanya itu, setiap penonton diberi pensil dan kertas seukuran postcard untuk menulis kesan-kesan mereka selama mengikuti konser. Saat jeda, mereka bahkan mendapat satu botol minuman yang secara khusus diberi label “Minuman Kesegaran Tentang Rasa Tjap Piano” oleh panitia.

Apa yang dilakukan panitia adalah upaya memaksimalkan pengalaman pancaindra penonton dalam menikmati konser musik. Jika selama ini konser musik identik dengan pengalaman auditif dan visual—dengan kata lain hanya menjadi urusan telinga dan mata—maka konser “Tentang Rasa” berusaha melibatkan hidung, tangan, bahkan lidah para penonton untuk turut larut ke dalam acara. Sebuah upaya yang layak mendapat apresiasi.

Selain membawakan karya sendiri, Frau pun membawakan gubahan lagu “Fake Plastic Trees” karya Radiohead dan “Rindu” karya Banda Neira. Yang mengejutkan, saat hendak melantunkan “Rindu”, Frau mendaulat Rara Sekar, partner Ananda Badudu di Banda Neira, yang hadir di antara penonton untuk tampil berkolaborasi di atas panggung. Aksi insidental tersebut tentu saja mendapat applause meriah, lebih-lebih setelah itu Frau—dengan gaya innocent—mengepalkan tangan ke udara lalu berseru pelan, “Dua folk bersatu tak dapat dikalahkan. Yeee!”. Seruan yang mengundang tawa penonton tentu saja.

“Tarian Sari” saya kira memberi sentuhan lain pada konser malam itu. Dengan pembawaan yang mendalam dan bunyi tuts yang khas, single yang memadukan musik klasik dan tembang Jawa tersebut benar-benar memanjakan telinga penonton. So melodious! Terakhir, Frau membawakan gubahan “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa” karya Melancholic Bitch. Seperti halnya Mesin Penenun Hujan, single tersebut punya peran besar dalam menempatkan Frau sebagai salah satu penyanyi folk berkarakter di Indonesia.

Hanyut dalam alunan merdu “Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa”, Frau dan penonton pun bernyanyi bersama. Setelah lagu selesai, lampu pun dipadamkan menandai berakhirnya konser “Tentang Rasa”.

Namun, meski secara resmi konser telah berakhir, penonton meminta Frau untuk kembali bernyanyi. “lagi, Lagi!” seruan penonton bergema di ruangan Auditorium IFI Bandung. Tak lama, Frau pun kembali ke atas panggung menutup konser dengan encore “Loco Mosquito” karya Iggy Pop.

Konser “Tentang Rasa” diselenggarakan oleh Liga Musik Nasional (Limunas), yang kali ini merupakan Limunas ke VII. Bagi IFI Bandung sendiri, konser Frau malam itu merupakan pertunjukan perdana dalam rangkaian program Printemps Francais yang berlangsung hingga Juni nanti.[]

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Leave a Reply

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
error: