Dua Tangan Kekerasan Itu Bernama Negara dan Keluarga

820 820 Arianto Adipurwanto

Penerbit Marjin Kiri, Maret 2020, menerbitkan terjemahan kumpulan cerita berjudul Subuh karya Selahattin Demirtaş. Buku ini tipis, hanya 118 halaman. Fakta pertama yang menjadi daya tarik untuk bergelut lebih jauh dengan cerita-cerita di dalamnya adalah: Demirtaş ditahan penguasa sejak 2016 dan jaksa menuntutnya dengan hukuman 183 tahun penjara. Fakta kedua, cerpen-cerpen dalam buku ini ditulis selama ia di dalam penjara.

Dengan bekal pengantar singkat tentang penulis, yang secara tepat ditempatkan di bagian awal dalam buku ini, kumpulan cerita Subuh dapat dipahami dengan lebih baik. Saya sendiri bersepakat, bahwa memahami fiksi akan lebih menyeluruh dan mendalam apabila mengetahui juga perihal penulisnya.

Keseluruhan cerita dalam Subuh memiliki kekuatannya sendiri, dalam arti, sebagai cerita pendek, Subuh telah menunjukkan kemampuan untuk berbicara lantang. Berbicara lantang tentang begitu banyak hal, persoalan-persoalan yang terjadi di Turki, dan lebih luas, apa yang terjadi di Timur Tengah. Bahkan, beberapa cerita langsung memanggil penggalan-penggalan gambar yang telah lebih dulu hadir melalui media massa tentang persoalan-persoalan yang sering dan selalu terjadi di kawasan Timur Tengah.

Dunia yang digambarkan Demirtaş dalam cerpen-cerpennya berisi sesuatu yang penuh kekerasan. Kekerasan itu dapat bersumber dari banyak hal. Cerpen pertama, “Laki-Laki dalam Jiwa Kami”, kekerasan itu datang dari institusi bernama negara. Dengan  narator tokoh yang tengah berada di penjara (yang langsung membuat kita berpikir tentang penulisnya sendiri), kita diajak menyaksikan sebuah kisah dominasi negara melalui kehidupan sepasang burung gereja.

Sang narator dalam kisah ini tidak menjelaskan kenapa dirinya bisa berada di dalam penjara. Kisah hanya menyorot bahkan sampai akhir bagaimana burung betina mempertahankan diri dari “burung negara” yang mengusik mereka.

Kekerasan yang bersumber dari negara lebih gamblang lagi dalam cerita “Nazan Petugas Kebersihan”. Gaya bercerita Demirtaş mengalir lancar dan kehadiran Nazan dengan karakternya yang unik mengusir jauh kebosanan pembaca meskipun cerpen ini cukup panjang. Nazan dapat mengetahui merek mobil orang-orang yang baru ia temui dan juga mengetahui siapa di antara mereka yang tidak cukup kaya untuk mampu membeli mobil. Sebuah minat yang didapati dari majalah otomotif milik ayahnya yang meninggal ketika bekerja memperbaiki kerusakan mesin dalam posisi miring di bawah bus.

Suatu hari, Nazan yang tengah dalam perjalanan ke tempat kerjanya sebagai petugas kebersihan harus turun dari bus lantaran alun-alun Kizilay ditutup. Siapa sangka, di dekatnya tengah terjadi demonstrasi, dan sebelum ia sempat bertindak apa pun, pukulan keras menghantam bagian belakang kepalanya. Begitulah, perjalanan hidupnya langsung berubah. Ia dituduh terlibat demonstrasi dan bagaimanapun ia berupaya, ia tetap dipenjara. Kisah ini dengan sendirinya memberi sedikit jawaban untuk cerpen-cerpen lain dengan tema penjara lainnya—”Laki-laki dalam Jiwa Kami”, “Surat untuk Petugas Pembaca Surat di Penjara”—bahwa tak perlu alasan untuk Anda bisa mendekam di balik jeruji besi. Negara selalu mampu berbuat apa saja.

Lewat dua cerita pendek, “Gadis Laut” dan “Hidangan Aleppo”, Demirtaş menghadirkan penggambaran yang menyayat hati tentang konflik Suriah. Bukan hal yang sukar untuk membayangkan adegan demi adegan di dalam dua cerita ini karena konflik Timur Tengah yang ditampilkan di layar televisi dan halaman surat kabar penuh dengan sesuatu yang berdarah-darah. Dengan fiksi, kekejaman manusia terhadap manusia lain itu menyisakan gema yang lebih lama.

Jika negara ada di satu kutub, maka kutub lain yang juga tidak kalah kuat cengkeramannya adalah keluarga. Cerpen “Seher” (Seher berarti subuh, yang dijadikan sebagai judul buku ini) menampilkan secara tragis kekejaman yang dapat dilakukan keluarga atas nama kehormatan.

Seher, seorang anak perempuan, harus dieksekusi oleh saudaranya sendiri atas perintah dari ayahnya sendiri demi sesuatu yang dinamakan kehormatan keluarga. Meski tidak secara gamblang, Demirtaş tampak ingin benar-benar mengangkat persoalan hubungan laki-laki dan perempuan yang sangat tidak seimbang: atas hubungan dikuasai-menguasai, laki-laki superior dan perempuan inferior.

Tiga laki-laki merampas mimpi Seher di tengah hutan pada petang hari. Tiga laki-laki mengambil nyawa Seher di ladang kosong pada larut malam.

Terhadap perempuan, saya melihat Demirtaş menempuh dua jalur untuk menampilkan mereka. Pertama, perempuan sebagai korban seperti Seher. Kedua, perempuan yang mampu menunjukkan perlawanan dari tangan-tangan yang ingin menguasai mereka. Hal  ini dapat dilihat pada diri tokoh perempuan Berfin dalam cerpen “Salam untuk Si Mata Hitam”.

Menjadi seorang gadis lebih sulit lagi, apalagi menjadi pengantin anak. Namun Berfin adalah benih pemberontak. Tidak ada kata tunduk. Ia tidak pernah setuju untuk menikah, dan membuat keributan setiap kali keluarganya menyuruhnya. (Hal. 52)

Atau, cerpen “Ah, Asuman!” juga menampilkan kemampuan perempuan dalam menghancurkan hidup laki-laki. Lewat flashback, sopir bus menceritakan petualangan cintanya dengan seorang perempuan bernama Asuman setelah melihat lukisan di bagian belakang truk yang berada persis di depannya. Perempuan itu meninggalkannya dan kemudian juga ia ditinggalkan oleh istrinya. Akhirnya, ia merana sendirian.

Salah satu ciri yang hampir selalu berulang dari cerita-cerita Demirtaş dalam kumpulan cerita ini adalah tokoh-tokohnya yang berasal dari golongan yang sering dianggap lemah. Perempuan dan anak-anak. Kalaupun tokohnya laki-laki, mereka adalah golongan yang dalam cerita adalah korban juga dari sesuatu yang memiliki kekuatan dominan. Barangkali cerita yang paling lain “roh”nya adalah cerita terakhir, “Akan Berakhir Istimewa”. Sebagai penutup, cerita ini tampak diniatkan sebagai ramalan penuh optimisme yang disampaikan oleh Demirtaş.

Tentu, sangat terbuka kemungkinan untuk membedah cerita-cerita Demirtaş lewat sudut pandang lain. Demirtaş telah memanfaatkan keunggulan yang dimiliki karya sastra yakni membicarakan apa-apa yang sebenarnya biasa saja dengan cara yang menakjubkan. Persoalan orang tertuduh demonstran, burung diserang burung lain, atau persoalan seorang anak kecil tenggelam di laut, telah menjadi terlalu biasa di tengah kehidupan kita yang semakin hari semakin kejam ini. Namun, di tangan Demirtaş, segala hal itu ditiupkan napas baru—yang membuatnya membekas di benak pembaca—dan karena itu buku ini menjadi sangat perlu dibaca terutama untuk mempertajam rasa kemanusiaan kita.

Identitas Buku

Terbit               : Edisi pertama, Maret 2020
Penulis             : Selahattin Demirtaş
Penerbit           : Marjin Kiri
Penerjemah    : Mehmet Hassan

Arianto Adipurwanto

Arianto Adipurwanto

Lahir di Selebung, Lombok Utara. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram.

All stories by:Arianto Adipurwanto
Arianto Adipurwanto

Arianto Adipurwanto

Lahir di Selebung, Lombok Utara. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram.

All stories by:Arianto Adipurwanto
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.