Bermain Lempar-Sembunyi Bersama Eiger

820 820 Syarif Maulana

Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan oleh “Surat Cinta Eiger”. Kehebohan yang membuat perusahaan pembuat pakaian dan peralatan rekreasi alam tersebut mesti melayangkan permintaan maaf resmi. Alasannya, seperti umumnya diketahui, “surat cinta” itu bermula dari keberatan Eiger terhadap konten ulasan Youtuber Duniadian. Menurut Eiger, ulasan tersebut tidak dibuat dengan standar audio dan visual yang baik.

Persoalannya, Duniadian membeli sendiri kacamata produk Eiger (bukan disponsori) dan ia merasa sah-sah saja untuk mengulas barang tersebut, sesuka hatinya. Toh, ia pun tidak menjelek-jelekkan produk yang diulasnya.

Warganet berang karena “surat cinta” Eiger tersebut dianggap tidak pada tempatnya. “Surat cinta” itu pula menunjukkan perilaku sok kuasa, merasa berhak mengatur orang lain dengan perangkat legal berupa surat resmi.

Menarik jika mencermati respons warganet, mulai dari yang kesal, terang-terangan memboikot, menyunting surat dengan coretan berwarna merah, hingga mengeluarkan surat tandingan yang bertolak belakang (boleh mengulas sesuka hati dengan peralatan seadanya). Bisa dikatakan, Eiger tampak begitu salah di mata warganet, sehingga permintaan maaf resmi pun sama sekali tidak menghentikan kritik tajam terhadap perusahaan yang kantor pusatnya berada di Bandung tersebut.

Pertanyaannya, mengapa warganet begitu ganas menghakimi kekeliruan Eiger?

Kasus ini bisa dibaca dari berbagai perspektif. Misalnya, dari sudut pandang komunikasi. Ada banyak pilihan komunikasi yang bisa disampaikan oleh Eiger untuk menyampaikan pesan kepada Duniadian. Surat resmi tentu bukan opsi yang baik. Mungkin bisa saja melalui komunikasi yang tidak terlalu formal: membicarakannya baik-baik sembari berterima kasih atas ulasan Duniadian serta memberi masukan dengan nada bersahabat.

Marshall McLuhan, pemikir asal Kanada, pernah mengatakan soal medium is the message. Pilihan Eiger untuk menyampaikan pesan lewat medium surat resmi jangan-jangan merepresentasikan watak perusahaan itu sendiri: (terlampau) formal, kaku, dan tidak adaptif terhadap kemajuan. Artinya, warganet marah karena melihat Eiger yang begitu payah dalam berkomunikasi di masa kini.

Persoalan ini bisa dilihat juga dengan kacamata lain, yaitu bagaimana kita mengenali perilaku masyarakat urban yang kompetitif–yang kemungkinan diturunkan dari paradigma liberalisme-kapitalisme. Seperti juga diketahui dan dirasakan, bahwa masyarakat tempat kita hidup, adalah sekaligus juga masyarakat yang saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan akses terbaik terhadap kesejahteraan.

Blunder Eiger menjadi semacam celah yang menyenangkan, bahwa ada satu kompetitor besar dalam hidup kita semua, yang terdesak ke bibir arena, dan maka itu, “Mari kita dorong rame-rame agar ia terlempar ke luar”. Terlihat dari bagaimana dengan terang-terangan, ada warganet yang mengunggah curriculum vitae-nya agar bisa segera menggantikan personel di bagian legal Eiger yang kemungkinan dipecat oleh perusahaan. Meski mungkin pengajuan cv tersebut hanya main-main saja.

Perkara lebih serius dalam persoalan ini adalah menelaah “kegembiraan” yang begitu reaksioner terhadap adanya perusahaan besar yang terancam tumbang. Setiap “raksasa” yang tumbang, bagaimanapun, merupakan peluang bagi pihak lain (yang mungkin kondisinya lebih kurang menguntungkan) untuk memperbaiki posisinya. Lebih jauh lagi, tumbangnya Eiger mungkin membuat kompetisi menjadi lebih adil dan kondisi ini begitu diidamkan oleh masyarakat liberal-kapitalis–yang meski mendukung persaingan bebas, tapi juga diam-diam kesal dengan “dominasi”.

Terakhir, tentu saja, dalam setiap kasus perundungan, ada sikap yang identik: kepuasan untuk mengadili secara normatif demi menempatkan diri pada posisi lebih benar atau bahkan paling benar. Warganet seolah-olah senang bahwa Eiger sebagai “raksasa” terciduk melakukan kesalahan.

Namun begitu, seperti biasanya, kasus semacam ini akan hilang lalu terlupakan dengan sendirinya, barangkali dalam hitungan satu-dua hari ke depan, seiring bermunculannya berita lain yang lebih seru. Kita semua menanti dengan cemas. Siapa di antara kita yang dalam waktu dekat akan terlempar dari arena persaingan bebas dan siapa di antara kita yang bisa menjadi tempat sembunyi untuk menutupi aib kita sendiri.

Syarif Maulana

Syarif Maulana

Akademisi FSRD ITB dan FF Unpar, tulisannya dapat dibaca di www.syarifmaulana.com. Buku terbarunya berjudul Kumpulan Kalimat DEMOTIVASI, Panduan Menjalani Hidup Dengan Biasa-Biasa Saja (2020).

All stories by:Syarif Maulana
Syarif Maulana

Syarif Maulana

Akademisi FSRD ITB dan FF Unpar, tulisannya dapat dibaca di www.syarifmaulana.com. Buku terbarunya berjudul Kumpulan Kalimat DEMOTIVASI, Panduan Menjalani Hidup Dengan Biasa-Biasa Saja (2020).

All stories by:Syarif Maulana