Wislawa Szymborska Tidak Menyukai Kerumunan

702 336 buruan

Terjemahan Zulkifli Songyanan

 

Wislawa Szymborska, seorang wanita pensiunan dengan rambut tipis keabuan, yang sangat menghargai kesunyian hidupnya, melewati hari demi hari dengan tenang. Segalanya berjalan sesuai rencana, ujarnya, sampai 3 Oktober, “dunia runtuh menimpaku.” Itulah hari di mana Akademi Swedia di Stockholm mengumumkan bahwa seseorang yang relatif tak dikenal, Wislawa Szymborska, meraih Penghargaan Nobel bidang Kesusastraan 1996.

Penghargaan itu menjadi kejutan bagi Szymborska—juga kebanyakan orang di Polandia—bukan lantaran karena ia dianggap tidak layak, tapi karena puisinya lebih banyak membicarakan tema-tema universal ketimbang urusan politik yang membedakan puisi-puisi Eropa Timur sejak Perang Dunia II.

Tak seperti penyair Polandia terakhir yang meraih Nobel—Czeslaw Milosz pada 1980—Szymborska bukanlah seorang yang lantang, pembangkang zaman komunis; waktu meraih Nobel pun tidak bertepatan dengan momen besar dalam sejarah Polandia—1980 merupakan tahun di mana Gdansk menggalang pemberontakan.

Dan, tak seperti penyair Polandia yang lebih dijagokan untuk menerima Nobel pada 1996, Zbigniew Herbert, puisi-puisi Wislawa lebih dikagumi karena “diksinya dipahat dengan halus,” sebagaimana yang dikemukakan Akademi Swedia, bukan lantaran metafora politiknya yang berat.

Hal itu bukan berarti bahwa Wislawa telah menghindari politik selama 50 tahun kepenyairannya. Dalam kenyataannya, politik justru menjadi latar belakang yang tak terbantahkan dalam karya-karya paling awal Wislawa. Sejumlah karya awalnya mengagungkan komunisme—sebuah periode gelap yang kini ia bantah—dan ia habiskan karirnya yang kemudian dengan bekerja pada sebuah surat kabar hingga menempatkannya di lingkungan para pemikir liberal yang anti-komunis.

Lantaran aturan-perang pada awal 1980, Wislawa menerbitkan kumpulan puisi bawah tanah dengan nama samaran dan pengasingan publikasi di Polandia. Padahal sejak rezim Stalin pecah di awal 1950, Szymborska dengan gigih telah menolak puisi yang dikuasai ideologi, dan sebagai gantinya ia pun menggunakan kekuatan observasinya untuk mengatasasi setiap pokok persoalan.

Seorang janda tanpa anak, Szymborska tidak menyukai kerumunan dan tampil di depan publik, bahkan untuk sekadar membacakan puisinya. Kontak utamanya dengan dunia luar terjadi lewat sebuah kolom koran lama, “Non-Compulsory Reading” (Bukan Bacaan Wajib).

Wislawa meninggal pada 1 Februari 2012 lantaran kanker paru-paru.

Tulisan ini merupakan pengantar—biografi singkat—mengenai penyair Wislawa Szymborska, sekaligus pengantar wawancaranya dengan Dean E. Murphy (biro The Times di Warsawa, Polandia) yang terbit di Los Angeles Times edisi 13 Oktober 1996. Wawancaranya dapat Anda baca di sini.

Sumber: Los Angeles Times

Sumber foto: registropersonal.nexos.com.mx

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.