TubuhDANG TubuhDUT: Bergerak dengan Hati

820 462 Yopi Setia Umbara

Ayu Permata Sari mencoba keluar dari kejenuhan menari dengan pikiran. Sebagai penari, selama ini ia merasa menari dengan pikiran, menghafal gerakan, mengingat hitungan, dan sebagainya dan sebagainya. Melalui “TubuhDANG TubuhDUT”, ia mencoba bergerak dengan hati.

Karya tarinya ini tercipta dari perjalanan kerja yang mengharuskan ia bolak-balik Yogyakarta-Cilacap menggunakan bus. Setiap kali naik bus ia selalu mendengarkan musik dangdut diputar dalam bus. Sampai suatu ketika tubuhnya berjoget mengikuti irama musik dangdut di dalam bus.

Lantas ia melakukan serangkaian riset. Mendengarkan musik dangdut dengan berlama-lama di kamar. Hingga mendatangi konser atau klub dangdut di sekitaran Yogyakarta. Dari riset kecil-kecilan itu, ia menemukan fakta menarik: penonton pertunjukkan dangdut seakan-akan bergerak dengan hati. Mereka berjoget seolah sadar-tak sadar mengikuti irama ketukan gendang atau tabla pada musik dangdut yang mereka dengarkan.

Ia pun terdorong untuk mengobservasi beberapa penonton dangdut untuk mengetahui latar belakang mereka. Rupanya setiap gerakkan mereka ketika berjoget itu berhubungan dengan latar belakang pekerjaan atau kesehariannya.

Baca juga:
Dionysus: Pertarungan Kaum Beriman dengan Penguasa
“Dangdut Hijab” dan Maknanya

Ayu kemudian mengarsipkan ketubuhan para penonton itu menjadi konsep dalam pentas “TubuhDANG TubuhDUT”. Karyanya itu dipentaskan pada rangkaian Cabaret Chairil bertajuk Kediaman (Home/Stillness) Vol. III di Teater Garasi, Yogyakarta (Kamis, 17/1/2019). Pementasan ini merupakan kali keempat, setelah sebelumnya pernah diujicobakan di Jejak-Tabi Exchange Yogyakarta dan Kualalumpur, serta di Showcase program Kampana, Indonesian Dance Festival.

Alur Pertunjukkan
Dari baris penonton, seorang perempuan (diperankan Ayu Permatas Sari) berdiri. Ia melepaskan hijab, jaket, dan roknya. Perempuan itu kemudian bertransformasi menjadi seorang laki-laki dengan mengenakan kaos, celana salur, lengkap dengan kalung rante yang melingkar di lehernya dan batu akik di jarinya. Ia berjalan ke depan panggung kosong (yang merepresentasikan adanya sebuah pertunjukkan musik dangdut).

Ketika lampu panggung menyala dan lagu “Terajana” terdengar, ia langsung merespon. Tubuhnya bereaksi terhadap musik dangdut yang didengarnya itu. Ia berjoget layaknya penonton dangdut di konser-konser dangdut atau di klub-klub dangdut. Sepanjang lagu “Terajana” dimainkan, ia tak berhenti berjoget, tanpa aturan, tanpa hitungan, hanya mengikuti irama tabla dan keinginan tubuhnya sendiri.

Pada adegan lain, ia berjoget dan menyanyikan lagu “Pokoke Joged” sendiri tanpa iringan musik. “Pokoke joged, pokoke joged/Ora ngerti lagune, orang ngerti penciptane, sing penting aku joged wae,” fals memang ketika ia menyanyikan itu. Tapi, nada falsnya itu justru membuatnya hadir sebagai penonton dangdut yang menghidupkan kesunyian semesta dangdut itu sendiri.

Sebab pada karyanya ini, bukan lagunya yang penting. Melainkan, bagaimana ia menjadikan tubuhnya sebagai katalis antara musik dangdut dan penonton dangdut sebagai tontonan tersendiri dalam sebuah pertunjukkan dangdut.

Ia adalah penonton dangdut yang datang ke pertunjukkan dangdut untuk berjoget, menggerakkan tubuhnya. Barangkali sekaligus melepaskan beban kehidupannya sehari-hari di arena dangdut tersebut. Setelah semua musik dijogeti, ia keluar dari arena melewati kerumunan penonton yang menontonnya menjadi penonton dangdut.

Saya sebenarnya berharap ia terkapar di tengah arena setelah lelah terus menerus berjoget. Rupanya, sebagai penonton pertunjukkan dangdut, ia masih sanggup menguasai tubuhnya hingga mampu meninggalkan arena dengan rapi.

Apakah Ayu Memasuki Gerak Tubuh Laki-laki?
Ayu seakan-akan memasuki gerak tubuh laki-laki dalam pentasnya kali ini. Pertunjukkan dangdut, terutama yang menghadirkan biduan-biduan dengan penampilan seksi, seolah hanya ditujukan bagi penonton laki-laki. Apalagi yang masyuk berjoget dangdut, pada umumnya adalah laki-laki.

Dalam sesi diskusi setelah pementasan, Ayu menceritakan mengenai proses kreatifnya. Bahwa kosa gerak yang disajikannya itu merupakan hasil observasi terhadap lima orang penonton dangdut, yang pernah dilihatnya, pada pertunjukkan dangdut yang pernah ia datangi. Lima orang yang diobservasinya itu merupakan laki-laki.

Misalnya, ketika Ayu berjoget dengan gerakan mengipas-ngipaskan tangannya, itu adalah hasil observasinya terhadap seorang penonton yang berprofesi sebagai penjual sate dalam kesehariannya. Beberapa gerakan lainnya pun merepresentasikan pekerjaan penonton yang pernah diobservasinya.

Namun begitu, pentas ini sendiri tidak terlalu menohok soal perempuan yang memasuki gerak tubuh laki-laki. Sebab, karya Ayu ini sendiri lebih cenderung pada eksperimentasinya soal bergerak dengan hati. Baginya, penonton musik dangdut yang didominasi laki-laki adalah orang-orang yang mampu menari dengan gerakan yang bermula dari hatinya, bukan dari pikirannya.

Baca juga:
Alih Wahana Bunga Penutup Abad
Runtuhnya Rumah Bernarda Alba

Proses kreatif karyanya ini masih belum final. Ia masih gelisah dengan konsep tari bergerak dengan hati. Di lain waktu, barangkali ia akan kembali menggarap dan mementaskan “TubuhDANG TubuhDUT” ini dengan kekayaan gerak yang lebih banyak, musik dangdut yang lebih dinamis, unsur pertunjukkan lainnya yang lebih ketat, dan mungkin sesuatu isu (walau kadang sebuah isu tidak dibutuhkan-butuhkan amat dalam sebuah pertunjukkan).

Sekilas Tentang Ayu Permata Sari
Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung. Menari sejak berusia sembilan tahun. Mendalami tari di Jurusan Koreografi (2010-2014) & Sekolah Pasca-Sarjana (2014-2016) ISI Yogyakarta. Mendirikan Ayu Permata Dance Company (2016). Salah satu karyanya “Kami Buta” mendapatkan penghargaan Jasa Bakti dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia (2018). Ayu terpilih untuk mengikuti program residensi di Leuven dan Brussel (Belgia) sebagai bagian dari Monsoon Europalia Festival (2017).[]

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
error: