Tentang Wiji dan Pulang

820 820 Adhimas Prasetyo

aku pasti pulang
mungkin tengah malam dini
mungkin subuh hari
pasti
dan mungkin
tapi jangan
kau tunggu
       …1

Barangkali memang, kini tidak ada lagi orang yang menunggunya. Menunggu akan kepulangannya dari sebuah alamat yang entah.

Seharusnya pada Agustus ini, ia menginjakkan usianya yang ke-57. Meskipun barangkali tujuh windu plus satu tahun bukanlah angka yang terdengar bagus untuk dijadikan momentum. Begitu juga Agustus tahun ini, hanya menjadi Agustus seperti biasanya, seperti Agustus pada tahun-tahun sebelumnya.

Waktu berjalan dengan begitu lambat. ‘98 terasa begitu dekat sekaligus jauh dalam saat yang bersamaan. Jika pada Juli ‘98 terdapat kebenaran bahwa ia telah meninggal, maka usianya akan berhenti pada angka 34. Ia telah sepenuhnya abadi pada usia 34 tahun.

Tapi ia tidak mati, tidak juga hidup. Hilang telah menjadi satu titik tegas yang dibubuhkan pada akhir kalimat kehidupannya, meskipun kalimat itu belum rampung sebagai kalimat yang utuh. Dengan kata lain, hilang, titik ini telah menutupi sepotong kebenaran dalam sejarah.

Beberapa kawannya saat ini masih tetap berjuang, meski dalam koridor masing-masing. Sebut saja; ada yang menjadi jurnalis, menjadi salah satu petinggi kementerian, tetap terlibat dalam politik praktis, hingga yang masih bergerak pada bidang kesenian. Seandainya ia tak pernah hilang, apa yang akan ia geluti saat ini?

Barangkali saja, ya barangkali, ia akan tetap berkesenian dan bahkan terlibat dalam politik praktis. Sama seperti ketika ia memutuskan untuk bergabung dan membawa Jaringan Kesenian Rakyat2 (Jaker) sebagai salah satu sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD). Meskipun hal ini berarti harus menyakiti hati beberapa kawannya.

Ia memang mengamini, bahwa sastra adalah salah satu alat perjuangan, tapi lanjutnya, “Agak berlebihan bila kita mengharapkan sastra akan membawa perubahan sosial3.” Namun, sekali lagi, hal ini cuma barangkali.

Kembali pada 2020, tersebar lagi satu cuplikan video ketika presiden (yang dalam video masih menjadi calon) menjawab pertanyaan soal kasus “hilang” tersebut. “Ya dicari, dicari biar jelas… Dia temen baik saya.” Namun hingga masuk periode kedua, belum ada kejelasan akan kondisi teman baiknya.

Pengusutan tuntas, cuma jadi sebatas slogan yang digunakan oleh para elit negara. Bukannya membenahi yang telah terjadi, malah justru membuat daftar ketidakjelasan baru (kita bisa lihat dari kasus penyiraman air keras yang berakhir dengan kata tidak sengaja).

Terlalu banyak keriuhan yang terjadi antara 1998 hingga 2020. Persoalan politik, kesenian, dan semua hal yang berkaitan secara langsung dengan hajat hidup orang banyak lainnya. Seandainya ia masih di sini, barangkali saat ini ia sedang berkicau lewat akun Twitter-nya dan menulis catatan-catatan yang tayang di sebuah kolom surat kabar, tak peduli berapa kali ia harus terjerat UU ITE. Meski tidak menutup kemungkinan, kalau-kalau ia malah mengubah haluan perjuangannya.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negara. Sedangkan di saat yang sama, negara terus membuat peraturan yang secara langsung dapat menindas rakyat kecil. Sebut saja gonjang-ganjing omnibus law, polemik antara Indonesia dan Papua, dan lain sebagainya.

Dan akhirnya pada saat inilah kenyataan terus berjalan. Ia telah hilang. Tetapi perjuangan mesti terus dilanjutkan. Tentu saja seperti yang ia katakan, perjuangan untuk mengangkat kepentingan orang banyak.

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang
              …

Barangkali beginilah hidup, hanya sebuah kerja abadi menafsirkan perjuangan dari orang-orang yang telah tiada. Dan kini, orang-orang harus berhenti menunggu, seperti apa yang dituliskan dalam sajaknya di awal tulisan ini, ia pasti pulang. Maka begitulah ia seharusnya telah pulang sebagai kesadaran dalam kepala orang-orang yang tetap berjuang.

Catatan
1 Dikutip dari sajak berjudul “catatan” dalam buku Nyanyian Akar Rumput Kumpulan Lengkap Puisi halaman 164-165.
2 Setelah bergabung dengan PRD, Jaker merupakan akronim dari Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat.
3 Dikutip dari buku Seri Buku Tempo Wiji Thukul Teka-teki Orang Hilang halaman 117.
4 Dikutip dari sajak berjudul “tentang sebuah gerakan” dalam buku Nyanyian Akar Rumput Kumpulan Lengkap Puisi halaman 152.

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Buku puisi pertamanya berjudul Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (2020).

All stories by:Adhimas Prasetyo
Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Buku puisi pertamanya berjudul Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (2020).

All stories by:Adhimas Prasetyo
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.