Teknik “Rahasia” dalam Cerita

820 820 Dina Wulan Dari

Kehidupan rumah tangga bukan hal asing untuk ide sebuah cerpen. Bukan hanya soal kemesraan sepasang suami istri, perceraian, atau kematian pasangan yang sudah lumrah dijadikan ide bagi sebuah cerpen. Sama halnya dengan cerpen “Cara-cara Klise Berumahtangga” karya Novka Kuaranita yang terbit di harian Kompas, 09 September 2018.

Cerpen ini bercerita tentang seorang tokoh bernama Tetsu. Dengan latar negara Jepang, cerita bermula saat Tetsu membeli bunga Krisan untuk seorang perempuan yang telah menunggu di apartemennya. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Tetsu. Sang perempuan yang telah menunggu kedatangan Tetsu menyambut dengan ramah. Cerita kemudian berjalan dengan menyajikan berbagai peristiwa biasa seperti saat sang perempuan memasak Okonomiyaki, makan malam bersama, kemudian Tetsu dan sang perempuan yang bercerita. Cerita memang menyajikan peristiwa dan adegan yang berputar dalam kehidupan rumah tangga.

Barangkali, banyak dari pembaca dengan mudah menyimpulkan bahwa sang perempuan adalah istri dari Tetsu. Saat cerita mulai berjalan, muncul adegan atau peristiwa yang menggoyahkan kesimpulan pembaca terhadap sang perempuan. Adegan atau peristiwa yang berhasil membuat pembaca bertanya-tanya siapa sang perempuan, menjadi petanda sendiri yang dilakukan penulis untuk mengarahkan pembaca ke maksud cerita.

“Vasnya di lemari sebelah kulkas. Laci kedua,” si lelaki tanggap.
“Tentu saja. Bisa-bisanya aku lupa,” tukas yang perempuan.

“Aku tak terlalu suka katsuobushi. Tolong taburkan sedikit saja untukku,” kata yang perempuan ketika lelaki itu hendak membuka kemasan plastik berisi serpihan tuna kering. Lalu lelaki itu membubuhkan sedikit saja katsuobushi di atas satu porsi okonomiyaki.

Percakapan di atas akan terasa janggal bila dilakukan sepasang suami istri. Sang perempuan yang lupa di mana letak vas bunga atau sang perempuan yang mengingatkan Tetsu untuk menaburkan sedikit saja katsubushi. Tentu sebagai sepasang suami istri hal kecil semacam itu sudah saling diketahui. Adegan percakapan antara sang perempuan dengan Tetsu menjadi petanda yang memunculkan pemahaman baru bagi pembaca bahwa sang perempuan bukanlah istri dari Tetsu.

Lalu, hari ulang tahun pernikahan siapa yang mereka rayakan?

Cerita terus berlanjut, tanpa tergesa-gesa, memberi tahu pembaca siapa sebenarnya sang perempuan. Akan (juga) gegabah kalau pembaca menyimpulkan bahwa, sang perempuan dan Tetsu saling berselingkuh dari pasangan masing-masing melalui percakapan Tetsu dan sang perempuan.

“Tapi setidaknya bunga tidak membuat perempuan tersinggung. Suamiku pernah memberiku panci pada ulang tahunku yang ketiga puluh lima. Waktu anakku berusia dua tahun. Malamnya, aku tidak berhenti menangis. Sungguh, ia tak pernah mengerti. Yang kuinginkan hanyalah jeda dari urusan dapur dan segala hal melelahkan tentang mengasuh anak.”

Akan dengan mudah pembaca menyimpulkan bahwa Tetsu dan sang perempuan saling berselingkuh di belakang pasangan masing-masing. Cukup mengejutkan ketika muncul pernyataan dari sang perempuan seperti potongan percakapan di atas. Penulis berhasil mengelabui pembaca. Teknik semacam ini ampuh membuat pembaca menyimpan rasa penasaran dan memaksa pembaca untuk terus membaca ceritanya sampai usai. Perlahan-lahan pembaca menyingkap tabir yang menutupi “wujud” sang perempuan. Hingga di akhir cerita diketahui bahwa sang perempuan adalah seorang yang bekerja di perusahaan jasa penyewaan anggota keluarga.

Lelaki itu tak ingat ia minum berapa banyak, juga kapan mulai tertidur. Ketika terjaga, ia menemukan catatan di meja makan. Dari perempuan yang beberapa jam lalu bersamanya.

“Aku terpaksa pergi sebelum kau bangun. Tak bisa terlalu lama. Kartu akses apartemenmu bisa kau ambil kembali di agen yang mengatur pertemuan kita di kantor Family Romance. Oh iya, selera istrimu soal pakaian bagus sekali. Akan kukirimkan kembali gaunnya setelah kucuci.”

Diketahuinya sang perempuan yang merupakan istri sewaan cukup memberikan kejutan bagi pembaca. Teknik “rahasia” yang digunakan penulis berhasil membuat pembaca terus membaca cerpen sampai akhir. Namun, bagaimana dengan kejutan yang disiapkan penulis untuk pembaca?

Sang perempuan sebagai seorang istri sewaan merupakan kejutan yang disiapkan penulis untuk pembaca yang menebak-nebak siapa sang perempuan. Meskipun, teknik “rahasia” yang sebelumnya dibangun kurang membangun kejutan, karena pembaca masih harus menebak istilah Family Romance yang tidak terjelaskan di dalam cerita. Tentu, tidak semua pembaca tahu setiap istilah yang dibeberkan penulis dalam ceritanya.

Sebuah cerita tak jarang memunculkan wawasan baru bagi para pembacanya. Istilah, sejarah, atau pun fakta terkadang muncul sebagai ide utama atau pendukung dari sebuah cerita. Bagi pembaca yang berwawasan dengan gampang mencerna sebuah cerita. Namun tidak dengan pembaca yang memerlukan buku atau mesin pencarian di gawai mereka untuk mencari makna dari wawasan yang diselipkan penulis agar dapat menikmati cerita.

Lalu, bagaimana dengan pembaca yang malas mencari tahu wawasan yang diletakan penulis di dalam ceritanya? Cerita akan berjalan tanpa memiliki makna dan pembaca tidak mendapatkan apa-apa dari sebuah cerita. Secara sederhana, pembaca tidak paham apa maksud dari cerita.

Jepang sebagai Latar Cerita
Sebuah cerpen harusnya memiliki setting atau latar yang menjadi ruang bagi jalannya cerita.  Menurut Sumardjo1, setting atau latar bukan hanya menunjukkan tempat dan waktu tertentu tapi juga hal-hal yang hakiki dari suatu wilayah, sampai pada macam debunya, pemikiran rakyatnya, kegilaan mereka, gaya hidup mereka, kecurigaan mereka, dan sebagainya.

Cerpen “Cara-cara Klise Berumahtangga” memiliki latar Jepang sebagai “tempat” berjalannya cerita. Latar Jepang sebagai ruang jalannya cerita, memiliki kaitan yang erat dengan hadirnya sosok sang perempuan sebagai istri sewaan dari tokoh Tetsu. Ide ini memang tidak lepas dari kebiasaan modern masyarakat Jepang, yakni kerap menggunakan perusahaan jasa penyewaan anggota keluarga.

Tren jasa penyewaan anggota keluarga ini muncul sekitar tahun 1990-an di Jepang. Bukan hanya anggota keluarga, jasa penyewaan ini juga menyediakan penyewaan rekan kerja, teman, dan pacar. Tujuannya hanya untuk menemani pelanggan, tidak untuk hubungan yang lebih mendalam2.

Penulis berhasil membangun latar tempat sebagai ruang bagi jalannya cerita. Akan sulit ketika mengganti latar Jepang dengan Indonesia atau pun tempat lainnya. Sebab, Latar Jepang bukan hanya menjadi tempelan, tetapi sebagai titik tolak dalam membangun karakter dan sikap setiap tokoh. Kebiasaan masyarakat Jepang yang kerap menggunakan jasa penyewaan anggota keluarga dapat dilihat melalui tokoh Tetsu.

Di dalam cerpen, muncul istilah Family Romance yang terdapat dalam pesan sang perempuan kepada Tetsu. Bila ingin, kita dapat mencari istilah Family Romance di mesin pencarian daring dan akan menemukan bahwa Family Romance merupakan salah satu perusahaan jasa penyewaan anggota keluarga di Jepang.

“… Kartu akses apartemenmu bisa kau ambil kembali di agen yang mengatur pertemuan kita di kantor Family Romance….”

Istilah Family Romance memang masih asing terdengar bagi para pembaca yang mayoritas berada di Indonesia. Sehingga diperlukan bantuan lain untuk memahami istilah tersebut dari keseluruhan cerita. Pembaca perlu mencari tahu apa itu Family Romance, kemudian barulah menyusun teka-teki yang telah dibangun di awal cerpen hingga akhir cerpen.

Baca juga:
Menyimak Kakek Bercerita 
Menikmati Hidangan Slerok

Baik ide cerita atau teknik penceritaan Novka dalam cerpen ini dapat dikatakan berhasil. Akan tetapi, seperti sebuah kamera, cerpen ini seolah-olah hanya menangkap gambar atau peristiwa yang terjadi di sebuah tempat di Jepang. Memang cukup menarik ketika cerpen ini hadir di antara pembaca yang mayoritas merupakan orang Indonesia. Wawasan baru bagi para pembaca di Indonesia. Akan tetapi, bagi pembaca yang tidak asing lagi dengan budaya Jepang akan menganggap cerpen ini hanya sebagai potret dari kebiasaan masyarakat Jepang. Lalu, apa tawaran lebih dari sebuah cerpen bila ia hanya meniru realitas yang biasa terjadi di masyarakat?[]

1Sumardjo, Jakob. 2004. Seluk Beluk dan Petunjuk Menulis Cerita Pendek. Bandung: Pustaka Latifah.
2Tirto.id. 2018. “Warga Urban Kesepian Akut, Jasa Sewa Keluarga Laris di Jepang”, https://tirto.id/warga-urban-kesepian-akut-jasa-sewa-keluarga-laris-di-jepang-cMD6. Diakses pada 06 Oktober 2018.

Dina Wulan Dari

Dina Wulan Dari

Pendidik dan penulis. Anggota ASAS UPI. Menetap di Bangka Belitung.

All stories by:Dina Wulan Dari

Leave a Reply

Dina Wulan Dari

Dina Wulan Dari

Pendidik dan penulis. Anggota ASAS UPI. Menetap di Bangka Belitung.

All stories by:Dina Wulan Dari
error: