Teka-Teki Burung Pegas

820 820 Adhimas Prasetyo

Preambul
Ketika membaca karya Haruki Murakami, saya seolah dihadapkan dengan seekor sphinx berkepala Murakami yang sedang duduk siaga. Sphinx berkepala Murakami terus memberi rentetan pertanyaan baru sebelum saya sempat menjawab pertanyaan yang telah disampaikannya, bahkan ketika saya belum sama sekali memahami pertanyaan tersebut. Sebagai ganjarannya, saya seolah menanggung suatu derita, derita yang membuat saya membaca karyanya sampai habis.

Padahal dari beberapa karya Murakami yang pernah dibaca, saya sama sekali tidak pernah menemukan kata kunci yang bisa dianggap sebagai jawaban pasti. Selalu tersisa banyak teka-teki yang tak terjawab. Mirip seperti kutukan, maka selesai membacanya, kini saya menanggung teka-teki itu dalam kehidupan nyata.

Selesai membaca karya Murakami, saya hanya menemukan hal yang seolah-olah jawaban. Sementara sphinx berkepala Murakami tetap bergeming di tempatnya, tidak membenarkan atau menyalahkan. Barangkali perumpamaan-perumpamaan tersebut tepat, atau bisa jadi justru melenceng sama sekali. Saya serahkan kepada Anda untuk menentukannya.

Hal yang sama terjadi ketika saya selesai membaca Kronik Burung Pegas atau dalam bahasa aslinya Nejimaki-tori Kuronikuru (1994-1995). Maka dalam esai ini saya hanya memaparkan apa yang dianggap sebagai jawaban, barangkali sebuah pola dari cerita ini, atau bisa jadi saya tidak berhasil menjelaskan apapun.

Kronik Burung Pegas bercerita tentang Toru Okada, seorang penganggur mantan pesuruh ahli di sebuah kantor advokat. Sedangkan Kumiko, istri Toru Okada, sama sekali tidak mempermasalahkan kepengangguran suaminya. Mereka telah berhasil menjaga hubungan suami-istri dengan baik selama enam tahun sebelumnya.

Namun cerita terus berkembang dan berkembang. Pada suatu waktu, Kumiko kabur dari rumah dan meminta persetujuan untuk bercerai dengan Toru Okada lewat surat yang dikirimnya. Di dalam surat itu juga, Kumiko mengaku berselingkuh dengan seorang lelaki (bahkan dalam penjelasan berikutnya, Kumiko mengaku bahwa ia berhubungan seks dengan banyak lelaki saat ia masih tinggal dengan Toru Okada).

Seiring berkembangnya jalan cerita, diketahuilah bahwa Kumiko memiliki alasan lain, alasan yang tidak bisa dijelaskan secara langsung kepada Toru Okada. Bukan karena Toru Okada tidak bisa menghasilkan pendapatan, atau bukan juga hanya karena Toru Okada tidak bisa memuaskan Kumiko secara seksual. Alasan yang membuat Kumiko begitu menderita jika terus hidup bersama Toru Okada.

Kalau bisa, aku harap kamu beranggapan begini. Bahwa aku terjangkit penyakit fatal yang tak bisa disembuhkan, jenis penyakit yang membuat tubuh dan bentuk wajahku berangsur-angsur hancur, dan aku perlahan-lahan sedang menuju kematian. Memang ini sekadar perumpamaan. Dalam kenyataan tubuh dan bentuk mukaku tidak hancur. Tapi perumpamaan ini sangat mendekati kebenaran. Karena itulah aku tidak mau berhadapan denganmu. Memang aku tidak berharap kamu mengerti segala situasiku hanya dengan perumpamaan yang kurang jelas seperti itu. Juga aku tahu penjelasan itu tak kan bisa meyakinkanmu. Tapi, maafkan aku, aku tidak tahu cara menjelaskan yang lebih baik daripada itu saat ini. Aku hanya berharap kamu menerimanya begitu saja. (hlm. 730)

Memang terlihat seperti kisah picisan tentang percintaan suami-istri dalam sinetron-sinetron mingguan. Namun Kronik Burung Pegas adalah sinetron yang berbeda, sinetron dengan cenayang-cenayang beserta ramalannya yang misterius, sinetron dengan kisah seorang letnan yang menyaksikan koleganya dikuliti hidup-hidup, sinetron dengan seorang dokter hewan yang harus rela membiarkan para serdadu menembak mati hewan-hewan buas di kebun binatangnya, sinetron dengan tokoh antagonis seorang politisi muda berbakat yang cabul, sinetron dengan seorang gadis nihilis yang bekerja sebagai buruh pabrik pembuat rambut palsu, sinetron dengan suara seekor burung yang seolah sedang memutar pegas agar realitas terus bergerak.

Batu Pijakan Alur yang Seolah Rapuh
Cerita Kronik Burung Pegas diawali oleh Toru Okada yang sedang merebus spageti sambil mendengarkan overture komposisi The Thieving Magpie karya Gioachino Rossini dari radio FM. Telepon berdering, seorang perempuan misterius menelepon untuk berbicara hal-hal yang cabul kepada Toru Okada. Setelah itu telepon kembali berdering, namun kali ini Kumiko yang berbicara. Kumiko meminta Toru Okada untuk mencari kucing mereka yang hilang.

Bagi saya, gerak alur dari novel Kronik Burung Pegas ini tidak mudah ditebak, segalanya seakan terjadi dengan tiba-tiba. Sang tokoh seakan melompat dari satu batu pijakan ke pijakan lain yang terlihat rapuh dan licin. Namun tokoh utama berhasil berdiri di batu pijakan selanjutnya tanpa terjatuh atau terpeleset.

Padahal bagi saya, ada batu pijakan lain yang terlihat lebih kokoh. Bahkan harapan saya sebagai pembaca seolah berkata, “injak batu yang itu!”. Tapi tokoh cerita memiliki pilihan dan keyakinannya sendiri. Hingga saya menyerah untuk terus mengira-ngira alur novel ini. Saya sama sekali tidak mengetahui apa yang saya harapkan di akhir cerita.

Sampai sini, Anda mengerti maksud saya kan? 

Tapi saya tidak sendiri, Toru Okada sebagai tokoh utama pun agaknya merasa kebingungan. Peristiwa demi peristiwa ganjil silih berganti. Tapi Toru Okada─seperti yang sudah saya sebutkan─memiliki pilihan dan keyakinannya sendiri, meskipun ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak salah, jalan hidupku sedang menikung. Kucing kabur. Perempuan konyol meneleponku untuk urusan konyol. Berkenalan dengan anak perempuan aneh dan keluar masuk rumah kosong di gang. Noboru Wataya memperkosa Kreta Kano. Malta Kano meramalkan dasiku bakal ketemu. Istriku mengatakan aku tidak perlu bekerja. (hlm. 112)

Namun semua batu pijakan yang seolah rapuh tersebut membentuk satu keutuhan cerita. Jika dalam cerita ini satu hal kecil tidak terjadi atau Toru Okada memilih tindakan yang berbeda, maka barangkali Kronik Burung Pegas ini bukan lagi Kronik Burung Pegas. 

Bahkan Murakami sendiri, saat menulis novelnya, tidak tahu apa yang akan ia tulis selanjutnya. Kebetulan-kebetulan tersebut memang terjadi sebagaimana adanya.

I don’t have any idea at all, when I start writing, of what is to come. For instance, for The Wind-Up Bird Chronicle, the first thing I had was the call of the bird, because I heard a bird in my back yard (it was the first time I heard that kind of sound and I never have since then. I felt like it was predicting something. So I wanted to write about it). The next thing was cooking spaghetti – these are things that happen to me! I was cooking spaghetti, and somebody call. So I had just these two things at the start. Two years I kept on writing. It’s fun! I don’t know what’s going to happen next, every day. I get up, go to the desk, switch on the computer, etc. and say to myself: “so what’s going to happen today? ”It’s fun!1

Mimpi Sebagai Bagian Realitas Magis
Mimpi kerap hadir dalam novel ini. Dalam cerita, Toru Okada tidak bisa tidak untuk mengabaikan mimpi yang dialaminya. Sebab mimpi-mimpi tersebut adalah bagian magis yang diafirmasi oleh lingkungannya, sesuatu di luar dirinya. Misalnya saat Toru Okada bermimpi berhubungan seks dengan Kreta Kano. Dalam suatu bagian cerita kemudian, Kreta mengakui mimpi tersebut terjadi atas kewenangannya.

“Betul sekali,” kata Kreta Kano. “Itu saya lakukan dengan sengaja. Saya memasuki kesadaran Tuan Okada dan bersetubuh dengan Tuan Okada di situ.” (hlm. 422)

Jika saja mimpi tersebut tidak diafirmasi oleh sesuatu di luar kesadaran Toru Okada, saya bisa berasumsi bahwa segala mimpi tersebut hanyalah ketaksadaran Toru Okada setelah kejadian-kejadian buruk menimpanya. Sebab mimpi yang kita pahami, seperti yang disebut oleh Burdach sebagai berikut.

“Kehidupan nyata, dengan deritanya dan sukacitanya, kesenangannya dan rasa nyerinya, tidak pernah terulang, sebaliknya, mimpi bertujuan untuk menghilangkan semuanya itu dari diri kita. Bahkan ketika seluruh pikiran kita dipenuhi dengan satu subjek, ketika hati kita diliputi oleh kesedihan yang pahit, atau ketika beberapa tugas berat telah membebani pikiran kita secara luar biasa, mimpi yang baik memberi kita sesuatu yang sama sekali asing, atau mimpi itu memilih kombinasinya yang hanya merupakan beberapa elemen realitas, atau hanya masuk ke dalam inti suasana hati kita, dan melambangkan realitas.”2

 Hal yang coba saya katakan dalam subbab ini adalah bahwa Kronik Burung Pegas memiliki realitasnya sendiri, realitas yang magis. Kebenaran magis diafirmasi oleh peristiwa dan menggerakan alur cerita.

…in magic realism ‘magic’ refers to the mystery of life: in marvellous and magical realism ‘magic’ refers to any extraordinary occurrence and particularly to anything spiritual or unaccountable by rational science. The variety of magical occurrences in magic(al) realist writing includes ghosts, disappearances, miracles, extraordinary talents and strange atmospheres but does not include the magic as it is found in a magic show.3

Hal ini juga berlaku pada bagian akhir cerita, saat Toru Okada bermimpi sedang berkelahi dengan seorang lelaki misterius di kamar hotel. Toru Okada terkena tebasan pisau yang dilayangkan oleh lelaki misterius. Namun akhirnya Toru Okada berhasil menghantam telak kepala lelaki misterius itu dengan tongkat bisbol.

Dalam keadaan bangunnya, sayatan di beberapa bagian tubuh Toru Okada benar-benar membekas. Hal ini juga berlaku pada lelaki misterius yang ternyata adalah Noboru Wataya, ia pingsan mendadak dan mengalami sejenis pendarahan otak saat makan siang.

Dengan cara magis ini, Toru Okada memecahkan teka-teki mengapa Kumiko pergi meninggalkannya. Hanya dengan lewat mimpi, tafsiran, dan keyakinannya sendiri. Ia meyakini realitas bergerak seperti apa yang dipikirkannya. Meskipun banyak teka-teki lain yang ditinggalkan tak terjawab begitu saja.

Menjawab Teka-Teki Lain
Burung pegas sendiri menjadi kunci yang tidak bisa diabaikan dalam novel ini. Meskipun burung pegas sama sekali tidak dijelaskan bagaimana bentuk atau tugasnya. Beberapa tokoh memang berhubungan dengan suara burung yang seolah sedang memutar pegas ini, misalnya Toru Okada, Kumiko, Cinnamon kecil, dan seorang serdadu di kebun binatang.

Toru Okada pertama kali mendengar suara burung pegas di tempat tinggalnya. Ia mendengar suara itu bersama Kumiko. Tepatnya, Kumikolah yang menamakan suara itu sebagai burung pegas.

Dari rerimbun pohon di halaman tetangga terdengar suara burung yang teratur seolah-olah memutar pegas, kreeeeek. Kami menyebut itu “burung pegas”. Kumikolah yang menamainya. Aku tidak tahu nama yang sebenarnya. Juga tidak tahu penampakan burung itu seperti apa. (hlm. 8)

Sedangkan Toru Okada sendiri menganggap bahwa burung pegas memiliki andil yang sangat besar pada gerak realitas di sekitarnya. Burung pegaslah yang harus bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa aneh yang ia alami. Semenjak tidak terdengar suara burung pegas, Toru Okada merasa harus mengganti peran sebagai pemutar pegas.

Aku membayangkan diriku menjelma burung pegas, terbang di langit musim panas, hinggap di dahan pohon besar di suatu tempat untuk memutar pegas dunia. Seandainya burung pegas benar-benar sudah hilang, seseorang harus menggantikan tugasnya. Seseorang harus memutar per dunia menggantikan burung pegas. Kalau tidak, pegas dunia berangsur-angsur macet hingga akhirnya sistem dunia yang sangat halus berhenti bergerak secara total. Tetapi tak ada seorang manusia pun yang sadar bahwa burung pegas sudah hilang kecuali aku. (hlm. 351) 

Jadi apakah peristiwa yang dialami oleh Toru Okada merupakan akibat dari suara burung pegas yang tidak lagi ia dengar? Dan apa sebenarnya peran khusus dari orang lain yang juga mendengar suara itu? Semakin memikirkan hal ini, semakin saya merasa sakit kepala.

Barangkali Murakami mewanti-wanti akan pertanyaan-pertanyaan ini. Sebab dalam satu bagian, Toru Okada menyadari sesuatu atas apa yang dialami dan dilakukannya.

Rasanya aku menjadi bagian dari sebuah novel yang ditulis dengan buruk. Kamu sama sekali tidak realistis, seakan-akan seseorang menuduhku. Atau barangkali kenyataannya memang begitu. (hlm. 243-244)

Meskipun begitu, saya merasa seperti ada benang halus tak kasat mata atas realitas dalam Kronik Burung Pegas dengan realitas saya sendiri. Segala hal kecil di realitas saya juga kadang bergerak dengan tiba-tiba, sebuah kebetulan misterius yang membuat dunia ini terus bergerak. Kebetulan itu kadang tidak bisa selalu dijelaskan sebab-akibatnya.

Saya merasa seolah-olah Kronik Burung Pegas menghadirkan pola tertentu yang bisa saya hubung-hubungkan. Namun, ketika saya coba membuat pola, pola tersebut dengan sendirinya runtuh seketika (bisa jadi karena saya tidak terlalu serius atau sebab saya terlalu malas memikirkannya).

Maka saya mengembalikan teka-teki itu pada tempatnya semula, saya kira inilah cara paling tepat untuk menjawabnya. Sementara, sphinx berkepala Murakami mengunyah saya hidup-hidup karena tidak menjawab pertanyaan-pertanyaannya.[]

 Refrensi
1 “Haruki Murakami: ‘My lifetime dream is to be sitting at the bottom of a well’”
2 Interpretation of Dream, Sigmund Freud (Penerbit Indoliterasi, 2015: hlm. 13)
3 Magic(al) Realism, Maggie Ann Bowers (Routeledge, 2004: hlm. 32)

Keterangan Buku
Judul: Kronik Burung Pegas
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah: Ribeka Ota
Halaman: 925
ISBN: 978-602-481-141-9

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
Leave a Reply

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.