MENU
Saung-Sastra-Lembang

28 Februari 2017 Teater

Teater sebagai Jalan Memahami Bahasa Ibu

David Crystal, Linguis University College London, berkata tentang pentingnya kehadiran berbagai bahasa di dunia, “Dunia disusun dari serpihan cara pandang (visi) dan setiap visi dibentuk oleh bahasa. Setiap kali satu bahasa hilang, saat itu pula satu visi dunia hilang.”

Bahasa bukan sekadar ucapan atau tulisan, lebih dari itu, memuat nilai-nilai, gagasan, dan sikap dari sebuah peradaban panjang oleh penggunanya. Sebuah materi yang tidak hanya mengandung satu konsep kecil dalam menjalani hidup.

Hal ini pula yang menjadi keresahan Saung Sastra Lembang (S2L), yang dipimpin Hadi AKS dan Ai Koraliati, dalam memandang bahasa Ibu di Jawa Barat, yakni bahasa Sunda.

Seiring pesatnya teknologi, mau tidak mau, bahasa di luar bahasa ibu menjadi lebih dekat dan akrab kepada masyarakat melalui berbagai bentuk, sehingga menuntut bahasa Sunda melakukan penyesuaian terhadap zaman tanpa menghapus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Menanggapi hal itu, sejalan dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap tanggal 21 Februari, S2L yang meliputi delapan sekolah di Lembang, tiga di antaranya mengadakan pagelaran teater basa Sunda “Lalakon Dongeng Sunda” produksi Saung Sastra SMPN 1 Lembang di aula SMPN 1 Lembang (18/2/2017), dan “Lutung Avengers” produksi Saung Sastra SMPN 3 Lembang dan SMP Terbuka Lembang di Lapangan Basket SMPN 3 Lembang (22-23/2/2017).

“Lalakon Dongeng Sunda” mengisahkan tokoh-tokoh cerita lisan Sunda seperti Purbasari, Sangkuriang, Kabayan, dsb yang digabungkan dalam satu cerita. Setiap tokoh yang memiliki kisah masing-masing pada cerita lisan, di dalam pentas menjadi saling berkaitan dan menjadi kisah baru.

Sedangkan “Lutung Avengers” menceritakan tokoh mite, legenda, dan dongeng Sunda yang digabungkan dengan pahlawan super dari luar negeri seperti Naruto, Bat Man, Avatar Ang, Goku, dsb, dengan narasi besar kisah Lutung Kasarung dan keteguhan dalam memegang nilai budaya Sunda.

Penyatuan kisah-kisah ini menurut Bob Mahathir dan Agi Lugina, selaku sutradara setiap teater, adalah upaya agar penonton tidak berjarak dengan kisah yang dihadirkan dan bisa menerima ajakan untuk berbahasa Sunda dengan cara yang cair dan dekat dengan imajinasi penonton.

*

Mengapa teater yang dipilih, bukan seminar atau pelajaran secara langsung? “Teater dipilih karena mewakili berbagai bentuk seni dan wadah yang mampu mempopulerkan bahasa Sunda, dengan arti, bukan hanya bahasa yang dihadirkan tetapi juga nilai dan keasyikan,” ujar Hadi AKS.

Selain itu, proses yang panjang menjadikan siswa lebih mantap untuk memahami dan lancar dalam menggunakan bahasa Sunda, tambah Agi Lugina. Siswa bahkan dilibatkan dalam riset terhadap kisah setiap tokoh, kostum, musik, dan hal lainnya yang terkait dengan pementasan. Sehingga, siswa tidak hanya memahami kisah yang ada di dalam teater, melainkan kisah yang melatarbelakanginya.

Pementasan ini melibatkan sekitar 160 siswa sebagai pemain dan pemusik, serta ditonton oleh sekitar 2500 siswa SMP dan SMA di Lembang.

Rama Praka Diputra, salah seorang siswa yang terlibat sebagai aktor menyampaikan bahwa dirinya belajar banyak dalam berbahasa Sunda melalui teater. Rama juga berkata, “Saya menyadari bahwa Sunda bukan hanya bahasa, tetapi banyak hal yang ada di baliknya yang harus kita amalkan.”[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>