Sudut Pandang: Ruang sebagai Refleksi

820 820 M. Aden Ma'ruf

Saya berkesempatan mengunjungi satu tempat yang memamerkan karya-karya seni di kota Bandung. Momen tersebut cukup membikin perasaan waswas, mengingat lokasinya memungkinkan dipenuhi banyak orang. Mobilisasi massa dalam jumlah banyak adalah kabar buruk di kala pandemi belum berakhir.

Tempat tersebut bernama Sudut Pandang. Bukan galeri, tapi funspace atau wahana media interaktif. Lokasinya yang terletak di kawasan wisata Lereng Anteng, Punclut, memungkinkan Sudut Pandang dikunjungi banyak orang. Apalagi pada masa akhir pekan panjang.

Sudut Pandang berisikan tujuh ruang dengan beragam karya seni yang ditampilkan di tiap ruangnya. Meski beragam, terdapat dua penghubung satu karya dengan karya lainnya: teknologi dan gagasan yang melandasi.

Ruang Refleksi
Karya-karya yang dipamerkan di Sudut Pandang merupakan karya ciptaan kolektif Blanco Benz Atelier. Seluruh karya diikat dalam satu judul “Lini Masa” dengan kesamaan gagasan yakni lingkungan.

Para pengunjung akan merasa takjub dan ngeri sekaligus. Karya-karya mencoba menempatkan pengunjung sebagai subjek yang mampu menjadi penentu ke arah mana nasib alam. Contohnya adalah karya di ruangan berlatar langit. Ruangan tersebut mencoba menampilkan kondisi langit rusak gara-gara polusi.

Karya instalasi yang dihadirkan dalam bentuk gumpalan-gumpalan awan yang ditumbuhi koral-koral dengan warna-warni menandakan racun dari polusi. Ditambah ruang tersebut dikonsep sepenuhnya agar tercipta suasana pendukung. Pengunjung bisa merasakan bau asap saat berada di ruangan tersebut.

Karya mencoba menyampaikan pesan bahwa polusi yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah ancaman bagi lingkungan. Berada di ruangan tersebut, pengunjung diajak refleksi atau sadar diri melalui pantulan cermin yang melapisi hampir seluruh dinding ruangan. Alhasil, pengunjung akan melihat dirinya sendiri dikelilingi representasi langit yang rusak.

Ruang berlatar langit hanya satu dari sekian ruang yang bisa dinikmati pengunjung di Sudut Pandang. Ruang-ruang lainnya juga berupaya mengajak pengunjung berefleksi atas lingkungan atau alam: sudahkah alam dijaga atau dikenali.

Selain gagasan tersebut, teknologi juga dominan dalam karya-karya yang ditampilkan. Karya video mapping, grafis, dan instalasi hampir menggunakan teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Tawaran menarik adalah pemanfaatan sensor dalam karya. Secara langsung pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan karya tersebut. Seperti misalnya video mapping yang bisa mengikuti gerak pengunjung atau bunyi-bunyian yang terdengar setelah pengunjung menyentuh karya di ruang berlatar kekeringan dengan replika matahari yang didekatkan.

Refleksi akan hadir setelah adanya interaksi. Sudut Pandang mencoba menampilkan konsep tersebut di tiap ruangannya. Apalagi seperti ada alur atau pola yang sengaja disusun ketika pengunjung bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.

Setelah dihadapkan dengan berbagai wahana, ruang terakhir bagi pengunjung adalah alam yang sesungguhnya. Lanskap pebukitan hijau dan kota Bandung yang terlihat dari Punclut bisa jadi spot foto yang mantap, tapi lebih dari itu bisa juga jadi media refleksi: apa yang akan dilakukan masing-masing pengunjung kepada alam yang ada di hadapannya.

Ruang Baru
Sebagai sebuah ruang baru, perlu dinanti hal-hal baru yang ditampilkan di Sudut Pandang. Terlebih pada masa pandemi ini, butuh alasan yang benar-benar kuat untuk pengunjung bisa datang di luar akhir pekan yang panjang.

Untuk bisa menikmati karya-karya di Sudut Pandang, pengunjung harus membayar tiket Rp 50.000/orang. Jika beruntung pengunjung juga masih bisa menikmati promo beli satu tiket gratis satu.

Pengunjung benar-benar harus berjuang untuk mencapai Sudut Pandang. Bukan membayar tiket, tapi jarak tempuhnya. Apalagi, pada masa libur, lokasi tersebut sangat dipadati kendaraan. Tapi segalanya akan terbayar. Harus terbayar. Apalagi pada masa pandemi dan menjelang kebiasaan baru, refleksi menjadi hal yang perlu.

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Redaktur Umum buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.