Sudut Pandang Bayang-bayang

820 510 Dadan N Ramdan

Karya sastra, baik itu prosa, puisi, maupun drama, selalu mengandung gagasan atau konsep pemikiran. Karenanya karya sastra membutuhkan media sebagai ruang pembacanya. Media massa diyakini dapat menjadi gerbong yang efektif bagi karya sastra menuju pembaca. Selain memiliki pola distribusi yang cepat, media massa juga bisa menjangkau pembaca di luar komunitas sastra. Di tengah perkembangan media online dan digital, patut pula bersyukur bahwa sampai hari ini media cetak masih menyediakan ruang bagi karya sastra. Setidaknya sekali dalam sepekan kita menjumpai karya sastra di kolom-kolom media cetak.

Pikiran Rakyat sebagai salah satu koran terbesar di Jawa Barat selalu menghadirkan rubrik sastra setiap akhir pekan. Rubrik sastra Pertemuan Kecil menyediakan kolom cerita pendek untuk dikonsumsi pembaca. Di awal tahun bulan Januari ini, Pikiran Rakyat memuat empat cerita pendek. Pada minggu pertama Januari, cerpen yang berhasil dimuat adalah  “Mata yang Mengatup Tiba-tiba” karya D Inu Rahman Abadi yang pembahasannya berjudul “Membaca Kisah Personal”, disusul kemudian pada minggu berikutnya cerpen “Bayang-Bayang” karya Nurdiani Latifah.

Seperti cerita pada minggu sebelumnya yang bertemakan hubungan sebuah keluarga, cerita kali ini lebih khusus lagi mengangkat tema percintaan yang juga merupakan topik umum dan diminati. Tema yang selalu mendapat tempat di ruang pembaca. Cerita-cerita percintaan selalu bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.  Dalam cerpen “Bayang-bayang” tema percintaan merupakan gagasan atau ide yang berusaha dan disuguhkan kepada pembaca. Cerita dikemas dengan peristiwa perselingkuhan.

Cerpen “Bayang-bayang” karya Nurdiani Latifah dimuat di Pikiran Rakyat tanggal 14 Januari 2018. Cerpen ini bercerita tentang hubungan percintaan laki-laki dan perempuan yang sama-sama berprofesi sebagai wartawan. Nurdiani mengawali ceritanya dengan kalimat pembuka gaya bersurat, seolah-olah pembaca terlibat dalam ceritanya.

KAMU tahu, apa yang disebut dengan bayang-bayang? Bagaimana kita bisa menemukan bayang-bayang? Mudah, kita hanya tinggal diam di bawah terik matahari atau cahaya. Maka lihatlah ke bawah tanah, ada warna hitam yang membentuk seperti tubuh kita.

Kemudian cerita mengalir lewat percakapan singkat antartokoh, sampai pada bayangan ihwal  pertemuan kedua tokoh yang menjadi benang merah cerita hubungan di antara keduanya.

Bagi saya, dulu dan sekarang masih tetap sama. Saya masih menjadi pengagumnya. Tapi, saat ini pengagumnya adalah bayang-bayangnya.

Pada paragraf inilah pembaca dipertemukan dengan definisi bayang-bayang yang ingin disampaikan pengarangnya. Pengarang secara jelas menggunakan tokoh “saya” untuk menunjukkan gagasan yang menjadi judul cerpennya.

Seperti yang kita ketahui bayang-bayang memiliki beberapa definisi. Berasal dari kata dasar bayang, bayang-bayang adalah sebuah pengulangan yang memiliki arti, ejaan, dan pelafalan yang sama. Dalam cerpen ini, arti dari bayang-bayang masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan bayang-bayang bukanlah dalam arti kata yang sebenarnya. Konsep dasarnya adalah sesuatu yang seolah-olah ada, namun pada hakikatnya tidak ada.

Cerpen ini dibagi menjadi tiga fragmen. Fragmen pertama, seperti disebutkan di atas, menggunakan sudut pandang orang pertama. Di mana tokoh utama membawakan ceritanya. Pada fragmen pertama, tokoh sentralnya merupakan laki-laki yang menjadi wartawan karena ingin menuntaskan ego pribadi bertemu dengan wanita yang diidamkannya sejak lama. Maka kilasan pertistiwa  juga dihadirkan dalam bagian ini.

Saya menatap langit-langit kamar dan mulai menemukan wajah wanita itu sana. Otak saya(red.) mulai memutar kenangan bersamanya saat kita berada di bangku kuliah 10 tahun yang lalu. Wanita itu pernah saya marahi ketika ospek kampus, wajah ketakutannya lucu sekali hingga saya tidak berani membentaknya.

Fragmen kedua menggunakan sudut pandang orang pertama namun digantikan posisinya menjadi pelaku kedua, yakni pada posisi wanitalah yang bercerita. Pada fragmen ini muncul tokoh laki-laki yang merupakan tokoh sampingan dan juga menjadi penentu cerita. Fragmen ini merupakan peristiwa hubungan antara tokoh utama perempuan dengan tokoh sampingan.

Aku mengangguk. Dia kembali memeluk saya. Cukup hangat, tapi memang ada yang hambar. Entah apa itu, saya masih mencarinya. Dia menatap saya, tiba-tiba saya menangkap bibirnya jatuh di bibirku. Lembab.

Tokoh sampingan yang merupakan suami dari wanita itu, dihadirkan dan dirasa perlu untuk membangun konflik cerita selanjutnya.

Fragmen terakhir, sudut pandang kembali dikendalikan oleh orang pertama. Menceritakan pertemuan antartokoh utama. Pada bagian inilah konflik mulai dimunculkan.

“Bisa kita perjelas hubungan kita?” aku memaksa.

Kembali wanita itu menatap saya, dia ketakutan.

“Saya akui, saya menjadi wartawan hanya untuk kamu. Saya ingin bertemu kamu,” aku menatap sekitar. Semuanya terasa beku. Berhenti, hanya rintikan air hujan yang terus saja deras.

Laki-laki dalam cerita itu memilih untuk meninggalkan permainan cintanya, sementara wanita yang telah menikah itu terjebak dalam situasi bimbang. Pada Fragmen ini cerita diakhiri. Tokoh sampingan dihadirkan kembali tetapi bukan menjadi penentu cerita. Ada dua tokoh sampingan yang muncul. Yakni dari sisi wanita itu sebagai suami yang kehadirannya hanya sebatas bayangan bukan entitas tokoh, lalu dari sisi laki-laki yang hadir secara langsung.

Aku berhenti menjadi bayang-bayang lelakinya. Saya ingin menjadi cahaya juga, tapi bukan untuk wanita itu, untuk wanita lainnya yang sudah saya pilih. Saya berjanji, akan selalu menjadi cahaya untuk perempuan yang sedang saya genggam tangannya. Perempuan yang selalu membuat wanita itu cemburu. Nadya.

Dikaitkan dengan konsep hubungan antarpersona, hubungan antara tokoh laki-laki dan wanita yang bersuami, dengan sudut pandang seperti telah disebutkan di atas, akhirnya bayang-bayang hanya menjadi kiasan belaka. Bukan ide cerita yang mengejutkan.

Beranjak kepada persoalan tema. Tema percintaan memang diminati pembaca. Akan tetapi pemilihan tema seperti ini justru menempatkan cerpennya ke dalam cerita yang klise, usang, dan biasa, karena dalam cerpen ini hanya menampilkan peristiwa perselingkuhan, dan tidak menyuguhkan gagasan baru yang dalam dan segar. Tidak ada inovasi cerita yang sekiranya dapat menyiasati keklisean tersebut.

Frasa bayang-bayang yang menjadi judul cerpen ini merupakan kiasan belaka bagi tokoh  yang sedang memerankan kisah percintaannya.  Penulis cerita barangkali bermaksud menghadirkan sebuah konflik mendebarkan yang direka dengan permainan cinta berbahaya, namun hasilnya hanya peristiwa pertemuan, pilihan, dan perpisahan. Tak ada kejutan. Semuanya bisa diterka sejak semula pembaca memasuki cerita.

Terlepas dari tema yang menjadi warna cerpen Bayang-bayang ini, sudut pandang penceritaan penting untuk dibahas. Pengarang tampaknya kurang matang mempersiapkan karyanya. Selain tidak jeli mengoreksi tulisannya, yang lebih mencolok adalah ketidakkonsistenan dalam sudut pandang penceritaan. Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama dalam cerpennya, akan tetapi berganti di setiap fragmennya. Pada bagian tertentu, ada penggunaan kata ‘aku’ sementara hampir di seluruh bagian sudut pandangnya menggunakan kata ‘saya’.

Sudut pandang orang pertama biasanya menggunakan kata ‘aku’ atau ‘saya’ dalam narasinya. Penggunaan aku atau saya dalam sudut pandang menjadi penting dan perlu dicermati sebab pembaca seringkali terganggu dengan maksud pengarang. Melalui sudut pandang, pembaca dapat memaknai cerita, mengetahui watak tokoh, sekaligus mengenali jarak antara pengarang dengan karyanya. Sehingga pengarang dapat menyampaikan sebuah gagasan dengan narasi cerita yang baik.

Pada cerpen bayang-bayang ini, pengarang menggunakan sudut pandang pencerita, yakni orang pertama secara ganda. Maksudnya, penggunaan sudut pandang orang pertama ini digunakan oleh kedua tokoh sentral dalam cerpennya. Pengarang juga menggunakan kata ‘kamu’ di awal narasi. Penggunaan ‘kamu’ ini lebih tepat disebut dengan solilokui tokoh laki-laki. Hal ini juga membawa pembaca ke dimensi yang akrab dengan pencerita. Sudut pandang orang pertama yang dipakai pengarang, dalam narasi ceritanya lebih dominan menggunakan kata ‘saya’ baik dalam narasi maupun dialog tokoh. Akan tetapi tampaknya pengarang tidak cermat menggunakan kata ‘aku’ atau ‘saya’ dalam cerpennya. Pada fragmen ke dua paragraf terakhir, misalnya. Pengarang menggunakan kata ‘aku’ padahal hampir seluruh sudut pandang ceritanya menggunakan kata ‘saya’. Baik disengaja atau tidak pengarang telah membuat pembacaan menjadi terganggu.

Aku mengangguk. Dia kembali memeluk saya. Cukup hangat, tapi memang ada yang hambar. Entah apa itu, saya masih mencarinya. Dia menatap saya, tiba-tiba saya menangkap bibirnya jatuh di bibirku. Lembab.

Penggunaan kata aku biasanya dimaksudkan menunjukkan keakraban, ego, dan emosi. Sementara kata saya biasanya dimaksudkan untuk rasa bahasa yang lebih santun, sopan, menunjukkan emosi yang tidak memuncak, dan menciptakan jarak dengan tokoh lain maupun pembaca. Pilihan ini bagaimanapun juga akan memengaruhi penceritaan. Berbeda rasanya apabila narasi di atas menggunakan kata ‘saya’ secara konsisten. Pada fragmen ketiga pun demikian.

Aku berhenti menjadi bayang-bayang lelakinya. Saya ingin menjadi cahaya juga, tapi bukan untuk wanita itu, untuk wanita lainnya yang sudah saya pilih. Saya berjanji, akan selalu menjadi cahaya untuk perempuan yang sedang saya genggam tangannya. Perempuan yang selalu membuat wanita itu cemburu. Nadya.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, persoalan sudut pandang berguna untuk melihat sikap, watak, amanat, ego, dan keberpihakan pengarang. Banyak buku-buku teori maupun panduan menulis prosa yang menjadikan sudut pandang sebagai bahan kajian. Karenanya sudut pandang menjadi penting untuk melihat kelebihan dan keberhasilan karya tersebut. Sudut pandang merupakan salah satu konsep dari cerpen yang memiliki implikasi terhadap cerita secara keseluruhan.

Pengarang pada dasarnya memiliki kebebasan menentukan sudut pandang dan penceritaan karyanya. Baik melalui sudut pandang pencerita, dalam hal ini tokoh yang menyampaikan cerita, maupun sudut pandang pengarang itu sendiri. Pengarang perlu kiranya mempertimbangkan hal-hal mendasar yang menyangkut teknik maupun estetika karyanya.

Setelah melihat tema, sudut pandang, dan hal lain, cerpen ini dirasa kurang berhasil, baik secara teknik maupun estetika (keindahan) karya. Detail cerita yang kurang membangun suasana, watak tokoh, maupun latar peristiwa, sehingga cerita tidak sampai memukul pembaca, memesona secara bahasa, dan mendorong ke dalam perenungan.

Cerpen setidaknya harus memberikan pembaca wawasan, pengetahuan, keindahan artistik, maupun dorongan emosional. Pada akhirnya pembaca tidak menemukan gagasan penting yang dihadirkan pengarang, melainkan cuplikan-cuplikan peristiwa yang dikemas dengan tema percintaan. Namun cerpen ini masih bisa dinikmati kehadirannya bagi sebagian orang yang penat dengan persoalan politik dan ekonomi, atau gerak-gerik partai dan gembar-gembor pilkada dengan mengikuti tren percintaan dan kisah-kasih  ‘pelakor’ yang sedang hits di dunia maya.[]

Dadan N Ramdan

Dadan N Ramdan

Penulis. Staf SDI Al-Azhar 30 Bandung.

All stories by:Dadan N Ramdan