Solilokui Pagi

702 336 Yussak Anugrah

Udara segar dan pagi berkabut. Itulah dua anugerah yang setiap hari saya terima ketika mengayuh “si Jalu”, sepeda saya.

Sekitar jam enam, dari asrama saya kayuh si Jalu keluar kampus Mae Fah Luang lewat gerbang belakang, melintasi dam (mungkin tempat penampungan air), menyusuri jalan yang agak naik dan turun, tiba di persimpangan dan berbelok ke kanan, melewati jalan kampung, lalu menemukan persimpangan yang menghubungkan jalan kampung dengan jalan utama, kembali berbelok ke kanan untuk kemudian menuju asrama melalui gerbang depan kampus, dan begitulah cara saya mengawali hari.

Pagi berkabut di sebuah dam.

Pagi berkabut di sebuah dam.

Sudah hampir satu minggu saya melakukan hal tersebut. Sebelumnya saya hanya berkeliling bersama si Jalu di dalam kampus. Kemudian saya iseng mencari rute lain dan “eureka”, saya menemukan rute dengan kontur jalan yang lebih menantang, jarak tempuh yang lumayan jauh, dan tentu saja paket pemandangan dan aneka kegiatan orang-orang kampung di pagi hari membuat acara “ngaprak” bersama si Jalu menjadi selalu bermakna setiap harinya.

Saya katakan bermakna karena saya menjadi saksi matahari merayap naik, kabut beranjak turun, para biksu berjalan menembus kabut tanpa alas kaki untuk memberi berkat dan berdoa kepada mereka yang menunggu di gigir jalan, warung-warung kelontong dan bermacam kuliner dibuka dan dijajakan, orang-orang di pasar berbenah sebelum pulang, dan anak-anak bersiap ke sekolah.

Saya saksikan itu setiap pagi. Walau nyaris sama, penerimaan indera saya selalu berbeda setiap paginya. Persis seperti ketika saya bermain di panggung teater selama beberapa hari untuk beberapa kali pementasan, dulu.

Para Biksu menembus kabut.

Para Biksu menembus kabut.

Peristiwa sama dengan rasa berbeda karena persoalan waktu itulah yang membuat saya yakin akan kemanusiaan saya. Yakin bahwa rasa adalah suatu yang hakiki dan hanya dimiliki manusia, serta yakin bahwa hanya manusia yang bisa mengidentifikasi rasa hingga ke tingkat paling canggih. Dengan pemaknaan dan keyakinan seperti itulah saya memasuki kelas di sore hari.

Di kelas, saya dan mahasiswa saya mungkin melakukan hal yang sama setiap minggunya. Tetapi percayalah, kami tidak pernah memberi dan menerima hal yang sama setiap minggunya.

Semoga apa yang kami beri dan kami terima baik adanya.[]

Sumber foto: Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.