Sihir Puisi Wahyu

820 820 Nanda Alifya Rahmah

Membaca baris pertama puisi pertama dalam buku Wahyu Menulis Puisi (Penerbit Pelangi Sastra, 2019) menjelaskan pada saya kenapa seorang guru pernah menyarankan membaca puisi-puisi Wahyu Prasetya. Tertulis di situ, “jaman yang kini meminta museum untuk dikenang, mengubur” (“Stamboel Dewi”, hlm 1). Mendadak seluruh masa kini hadir sebagai diorama dalam gradasi cokelat monokrom, di sebuah lemari kayu berkaca. Saya cuma bisa diam memandanginya -masa kini- tidak bergerak lagi.

Tertulis tahun 1991 di akhir puisi itu. Barangkali sejak 1991 hingga hari ini, nama Wahyu Prasetya tetap asing dalam literatur sejarah puisi Indonesia yang saya baca. Namun dalam biodata singkat tentang Penyair Wahyu di buku tersebut saya mendapati bahwa pada akhir tahun 1980-an, Wahyu Prasetya cukup terlibat dalam pesta perpuisian Indonesia. Namanya ada dalam antologi Tonggak IV. Barangkali sebab sedemikian malasnya saya sebagai pembaca, barangkali memang jarak generasi antara Penyair Wahyu dan saya membuat literatur tentangnya sukar dijangkau.

Namun sungguh sedikit kita bicara tentang puisi-puisi Penyair Wahyu. Dan setelah membaca puisi-puisinya, saya menyadari betapa keliru.

Fakta daya puitik (yang menyihir saya lewat baris pertama puisi pertama) buku Wahyu Menulis Puisi selayaknya menempatkan puisi-puisi dalam buku ini menjadi perhatian dan perbincangan penting pencapaian perpuisian Indonesia. Dalam pengalaman pembacaan saya, semesta urban, modernitas, dan subjek eksistensi yang bergerak dalam puisi Penyair Wahyu mengingatkan saya pada ruang puitik yang muncul juga dalam puisi-puisi Afrizal Malna. Yang menjadi khas Penyair Wahyu adalah maskulinitas aku lirik yang gagah dalam keterasingan, himpitan oleh benda-benda itu. Dalam konteks ini, bagi saya, subjek lirik Afrizal Malna selalu hadir lebih feminin.

Pada puisi “Wahyu Menulis Puisi” halaman 15 misalnya,“…/Setelah terbaca untuk 1000 tahun, wahyu hanya kepala/ yang disumpal/ Alkohol, ganja, berita radio, tv, dan omong kosong surat kabar,/ Maka ia menulis puisi. Walau kau bilang semakin buruk,/ siapa peduli./…”.  Kegagahan yang juga dapat ditemukan pada puisi “Whisper in Agony” halaman 243. Dalam situasi yang lebih kalem, maskulinitas subjek lirik tersebut masih dapat terasa. Wahyu menulis di bagian akhir, “…/Juga suara suara yang membelit mikropon dalam pidato itu,/ dalam surat kabar itu, sebelum kematian menjadi pisau atau/ senapan, maka pedihnya segera kudiamkan. Agar setenang/ batuan aku menidurkan. Apa saja yang/ Tak pernah kusampaikan.//” Demikian terbuka Penyair Wahyu menghadapi kekalahannya di hadapan benda-benda. Kekalahan yang tidak membuatnya tunduk, meski saya sendiri belum benar-benar bisa menebak apa alasannya.

Poin lain yang membuat puisi-puisi Penyair Wahyu penting adalah strategi pengucapannya. Saat saya mencoba memasuki bagaimana semesta puitik terbentuk dalam puisi-puisi Wahyu, saya menyadari adanya kekhasan gaya penghadiran simbol, yang barangkali dapat menjadikan puisi-puisi Wahyu titik baru untuk melacak pencapaian kebahasaan khasanah puisi Indonesia. Gaya yang saya tangkap sejak baris pertama puisi pertama itu.

Bentukan sintaksis pada kalimat jaman yang kini meminta museum untuk dikenang, menunjuk dua figur dipertemukan, jaman yang kini dan museum. Uniknya dua figur tersebut bergerak dalam medan semiotik yang relatif dekat atau pendek karena kehadiran imaji untuk dikenang. Sebab diksi museum telah membawakan imaji kenang dalam jangkauan referensi citranya, dan Wahyu justru menabrakkan figur museum dengan apa yang dibawanya sendiri.

Gaya tersebut juga beroperasi pada puisi-puisi lain. Misalnya, pada puisi “Whisper in Agony” yang telah disebut sebelumnya. Terdapat imaji, suara suara yang membelit mikropon. Hubungan langsung antara figur suara suara dan mikropon dibenturkan dengan kehadiran diksi membelit.  Kita tahu, figur mikropon sendiri telah membawa serta imaji tentang suara di dalam kehadirannya. Akibatnya, terbentuknya medan semiotik justru disebabkan oleh pendeknya arus referensi yang terjalin antardiksi.

Hal tersebut berbeda ketika misalnya kita membandingkan dengan strategi puitik dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono sebagai penyair satu generasi di atas Wahyu. Dalam puisi “Mata Pisau” misalnya. Situasi teks terjalin oleh kehadiran figur pisau, apel, dan sifat tajam yang hubungannya dengan aku lirik diikat oleh figur urat leher. Kehadiran figur urat leher membuat medan semiotik dalam hubungan langsung antara figur-figur menjadi memanjang dengan pemanfaatan personifikasi terhadap pisau. Yang terjadi adalah terbentuknya semesta jarak referensi yang jauh ketika pembaca mencoba untuk memahami makna pada hubungan langsung tersebut. Keunikan Sapardi dalam hal ini adalah mengungkap hubungan “lain” pada hal-hal yang dekat dan seolah bisa langsung kita kenali.

Saya belum dapat menyebutkan apa yang sebenarnya terjadi dengan usaha pemendekan jarak referensi yang saya temukan dalam puisi-puisi Penyair Wahyu. Namun sebagai pembaca, saya telah berkali-kali terjerat dalam lingkar paradoksal dan ironi ganjil saat membaca puisi-puisi Penyair Wahyu. Keganjilan itu terjadi sebab merasakan betapa dangkalnya kemengertian. Kedangkalan yang ternyata tidak masalah. Dan sebab tidak masalah itulah, menjadi masalah.

Misalnya pada baris pembuka satu puisi favorit saya ini, “//Ada yang mencoba bercinta dengan virus/ aids di tubuhnya,/…” (Episode Buku Cinta, hlm 4). Kehadiran tubuh ia dan virus dalam satu frame yang intim dan ganjil memaksa saya untuk terlibat kaos sejak langkah pertama memasuki pintu. Di dalam ruang itu: seseorang sedang mencoba bercinta dengan sosok yang menggerogoti tubuhnya sendiri, yang berinang dalam tubuhnya sendiri. Di titik ini saya mencermati bagaimana Penyair Wahyu selalu mencurahkan energi dengan penekanan yang besar sejak imaji awal puisi.

Dalam keintiman yang senantiasa dibangunnya, saya juga mencermati Penyair Wahyu tak pernah gagap menghadirkan diksi-diksi langsung yang menyebut latar atau nama orang sebagai bagian dari metafora. Dalam puisi “Episode Buku Cinta” Wahyu menulis, “…//Aku mencintaimu, melebihi pasar, rumah sakit bahkan keranda,/ Dari Asia tenggara sampai timur tengah dan Eropa,/ kucoba untuk/ Memahami keharuman parfum dari tubuh atau arca/ atau boneka,/ Dari Paris, aku menulis menara tinggi, cat walk dan anggur,/ Tapi di taman cintamu begitu menakjubkan./…”. Asia tenggara, Eropa, dan Paris dalam baris-baris itu adalah Asia tenggara, Eropa, dan Paris yang mewakili Wahyu. Bukan sekadar latar. Dan dapat kita lihat pula, penghadiran tersebut tidak mengganggu gaya tutur yang mengalir panjang. Kepadatan puisi ternyata dapat dijaga tanpa kegagapan mengolah kata hubung.

Hal menarik lain yang memikat saya adalah ajakan kontemplasi. Lagi-lagi bersifat langsung. Misalnya dapat dicermati pada puisi “Setelah Membaca Suratmu”, “…/ Ya, teror. Suratmu hampir mirip dengan surat kaleng./ Mengajakku nyelinap ke dunia dan tempat yang tak pernah/ ada, lalu kita dikunyah oleh abad kosmopolitan ini,/ apakah tidak lebih baik menjadi hewan? Melupakan akal sehat sebagaimana/ Jaman kita. Aku mau jadi badak, tikus atau komodo. Kau/ sendiri apa ingin menjadi anjing?/…” Penyair Wahyu menggerakkan ide (wacana) dalam puisi dengan memantulkan proyeksi pikirannya secara langsung terhadap metafora.

Dengan kata lain, di dalam situasi simbolik itu, aku lirik berhadapan langsung dengan situasi dan kau (pembaca). Dalam puisi Penyair Wahyu akan banyak kita temui pertanyaan, ajakan, keheranan, pernyataan sikap. Barangkali ketersediaan ruang untuk bercermin dalam puisi Penyair Wahyu tersebut lahir karena kejujuran yang ia curahkan sendiri. Pengakuannya terhadap situasi keakuan yang sering cuma didialogkan secara sembunyi-sembunyi dan malu-malu, kini ditembakkan dalam baris-baris metafora dengan alir kelisanan yang terjaga.

Apa yang saya temukan itu menarik saya mundur beberapa langkah untuk melihat ulang gaya puitik puisi-puisi sepuluh tahun belakangan. Bentuk puisi dengan baris panjang, pola simbol dengan jarak semiotik yang pendek, kegelisahan urban, keterasingan eksistensial, gejala penguasaan benda-benda dan modernitas, tanpa sepengetahuan kita, telah ditulis (atau setidaknya dimulai) lebih dari dua puluh tahun yang lalu, oleh Wahyu Prasetya.

Dengan daya sihir yang membekukan saya sejak baris pertama puisi pertama. Di tahun 1991, Penyair Wahyu telah menulis, “…/Ada lirik lagu metal, meneriakimu dengan tenggorok yang/ pecah/ Mengumpat cinta orang yang kini didagangkan. Dipura/ purakan,/ Aku mencintaimu, karena aku tak bisa membayangkan dalam/ Kata-kata, apalagi dengan benda-benda.//” (“Episode Buku Cinta”, hlm 5), menyempurnakan sihir dalam puisinya.

Nanda Alifya Rahmah

Nanda Alifya Rahmah

Lahir di Surabaya. Menulis puisi, esai, cerpen dan naskah drama. Menyelesaikan studi Sastra Indonesia di Universitas Airlangga, berkesenian di Teater Gapus Surabaya, No-Exit Theatre, dan FS3LP.

All stories by:Nanda Alifya Rahmah
Nanda Alifya Rahmah

Nanda Alifya Rahmah

Lahir di Surabaya. Menulis puisi, esai, cerpen dan naskah drama. Menyelesaikan studi Sastra Indonesia di Universitas Airlangga, berkesenian di Teater Gapus Surabaya, No-Exit Theatre, dan FS3LP.

All stories by:Nanda Alifya Rahmah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.