Siapa Sih Peter Handke?

820 820 Yopi Setia Umbara

Siapa sih Peter Handke? Saya belum pernah mendengar nama Handke sebelumnya, apalagi membaca karyanya.

Peter Handke adalah penulis Austria peraih penghargaan Nobel Sastra 2019. Handke layak mendapatkan nobel karena dianggap oleh juri, “karyanya berpengaruh dengan kecerdasan linguistik yang telah mengeksplorasi batas dan kekhususan pengalaman kemanusiaan.”

Seperti apa itu kecerdasan linguistik yang mengeksplorasi batas dan kekhususan pengalaman kemanusiaan? Kelak saya akan membaca karyanya satu persatu. Saat ini saya hanya akan berkenalan dahulu dengannya, melalui informasi yang ditulis dari pelbagai sumber yang dipercaya.

Handke lahir pada 6 Desember 1942 di Griffen, Austria. Merupakan seorang anak dari pegawai bank yang menuntaskan pendidikan hukum di Universitas Graz (1961-1965). Sejak kuliah dia sudah menulis untuk majalah sastra avant-garde Austria, Manuskripte. Dia kemudian dikenal publik sastra Austria sebagai penulis naskah drama, novelis, penyair, dan esais. Dia menulis dalam bahasa Jerman.

Pada tahun 1966, dia menarik perhatian publik ketika mementaskan karyanya yang tidak biasa, yaitu Publikumsebschimpfung atau Offending the Audience, atau saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih, Menyakiti Penonton. Pada pementasan itu, empat aktor mengamati penonton selama satu jam kemudian menghina penonton dan memuji “pertunjukkan”. Strategi pertunjukkannya itu memunculkan beragam reaksi dari penonton. Beberapa karya dramanya yang lain bahkan tidak memiliki alur, dialog, dan karakter tokoh pada umumnya.

Salah satu karya dramatisnya adalah naskah panjang pertamanya yang berjudul Kaspar (1968). Dalam karyanya ini, dia menggambarkan tokoh utama yang bernama Kasper Hauser sebagai orang jujur-tak berdosa yang dihancurkan oleh masyarakat untuk memaksakan bahasa juga pemikiran rasional mereka. Di Indonesia naskah ini pernah dipentaskan beberapa kali oleh Teater Payung Hitam (Bandung).

Selain dua karya drama di atas, karya Handke lainnya yang disebut adalah Das Mündel will Vormund sein/The Ward Wants to Be Guardian (1969), Der Ritt über den Bodensee/The Ride Across Lake Constance (1971).

Novel-novel terkenal yang ditulis Handke berisi kisah-kisah dengan tokoh-tokoh yang berada dalam kondisi pikiran ekstrem. Novelnya yang paling terkenal Die Angst des Tormanns beim Elfmeter/The Goalie’s Anxiety at the Penalty Kick (1970) adalah kisah imajinatif tentang seorang mantan pemain sepakbola yang melakukan pembunuhan tanpa motif hingga menunggu polisi datang untuk menangkapnya.

Die linkshändige Frau/The Left-Handed Woman (1976) adalah deskripsi tanpa belas kasih mengenai seorang ibu muda mengatasi disorientasi yang dirasakannya setelah berpisah dari sang suami. Satu novelnya yang lain adalah memoar Handke mengenai ibunya yang telah mangkat, Wunschloses Unglück/A Sorrow Beyond Dreams (1972).

Novel Die Angst des Tormanns beim Elfmeter/The Goalie’s Anxiety at the Penalty Kick diadaptasi ke layar perak dengan judul yang sama pada 1972. Disutradarai oleh Wim Wenders. Karya lainnya yang difilmkan oleh Wenders adalah der Himmel über Berlin/Wings of Desire (1987). Dia sendiri turun menjadi sutradara film dan tv dari beberapa buku yang ditulisnya.

Masih banyak novel karya Handke lainnya tentu saja, saya hanya menyebut yang cukup terkenal dan berada di daftar atas sumber yang saya baca. Kebetulan yang terkenal pun, kalau tidak salah belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kalau ada penerbit/penerjemah yang akan menerjemahkan karyanya, saya berharap novel Die Angst des Tormanns beim Elfmeter/The Goalie’s Anxiety at the Penalty Kick yang diterjemahkan pertama kali.

Kontroversi Handke
Pamor Handke sebagai sastrawan menimbulkan kontroversi lantaran langkah politiknya. Komentarnya yang paling kontroversial adalah dia menyangkal Genosida Srebinica. Karenanya Handke dianggap sebagai pendukung rezim Slobodan Milošević yang menjadi penguasa Serbia pada masa itu. Bahkan dia hadir pada saat pemakaman Milošević tahun 2006.

Beberapa penulis dunia mengkritisi penganugerahan Nobel Sastra 2019 untuk Handke. Bahkan, jauh sebelum itu, Salman Rusdhie menamai Handke sebagai “Penulis Bodoh Tahun Ini” di Guardian. Ketika Handke dinyatakan memenangkan nobel, Rusdhie mengatakan kepada Guardian, “Tak ada yang perlu dikatakan, masih seperti yang pernah saya tulis (dalam “Series of Impassioned Aplogias for The Genocidical Regime of Slobodan Milošević, di Guardian).

Penganugerahan terhadap Handke yang kontroversial ini juga menghadirkan tanda tanya bagi Akademi Swedia yang berjanji untuk mengurangi penganugerahan kepada penulis laki-laki dan Eropasentris untuk peraih Nobel Sastra 2019. Keputusan memilih Handke, yang laki-laki dan berasal dari Eropa, tentu saja menghebohkan kalangan sastra dunia.

Penulis Inggris-India, Hari Kunzru, yang telah mengajarkan karya Handke kepada mahasiswanya mengatakan, “Handke adalah pilihan bermasalah untuk komite Nobel yang mencoba memberikan hadiah setelah skandal yang terjadi. Dia penulis yang bagus, yang mampu mengkombinasikan cara pandang hebat dengan etika buruk yang mengejutkan. Dia tak seharusnya menjadi seorang tokoh propaganda genosida rezim Milošević.”

Sementara itu, menurut filsuf Ceko, Slavoz Žižek, “Pada tahun 2014, Handke menyerukan agar Nobel dihapuskan, dengan mengatakan bahwa itu adalah ‘kanonisasi palsu’ literatur. Fakta bahwa dia mendapatkannya sekarang membuktikan bahwa dia benar. Ini adalah Swedia hari ini: seorang pembela kejahatan perang mendapat hadiah Nobel sementara negara itu berpartisipasi dalam pembunuhan karakter pahlawan sejati di zaman kita, Julian Assange. Reaksi kita seharusnya; bukan hadiah Nobel Sastra untuk Handke tetapi Nobel Perdamaian untuk Assange.”

Meski beberapa penulis dan filsuf mengkritik kemenangan Handke, Presiden Austria Alexander van der Bellen mengatakan bahwa, “Unik dan sunyi… Kami harus berterima kasih kepada Peter Handke. Saya harap dia tahu itu.” Dan, media di Serbia menyebut Handke sebagai “Sahabat Erat”.

Begitulah Handke, pemenang Nobel Sastra 2019 itu. Jenius sekaligus kontroversial. Sayangnya, kontroversi yang disebabkannya menyangkut kemanusiaan.[]

Referensi:
Peter Handke, Britannica.com
‘A troubling choice’: authors criticise Peter Handke’s controversial Nobel win,
Guardian.com

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.